Berita Banjar, (harapanrakyat.com),– Setiap menjelang bulan suci Ramadhan, masyarakat Indonesia mempunyai tradisi nyekar atau ziarah kubur mengunjungi makam untuk mendoakan kerabat/keluarga yang telah meninggal dunia.
Tak heran jika empat hari menjelang bulan suci Ramadhan, masyarakat banyak mengunjungi Tempat Pemakaman Umum (TPU). Seperti halnya terjadi di TPU Dipatiukur, Kota Banjar, Jawa Barat.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Banjar, Supriana mengatakan, nyekar atau ziarah kubur sudah menjadi tradisi rutin menjelang bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri bagi masyarakat Indonesia.
“Ziarah yang sering kali jadi tradisi jelang bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri itu tidak menjadi masalah untuk dilakukan. Karena untuk mengingat peristiwa yang akan kita alami,” kata Ketua MUI Kota Banjar Supriana, Senin (12/4/2021).
Ia menjelaskan, maksud peristiwa yang akan dialami umat manusia tersebut adalah menghadapi kematian yang bisa datang kapan saja.
Dengan ziarah tersebut, diharapkan dapat menjadi pengingat akan pentingnya peristiwa yang pasti dialami semua umat manusia yang bernyawa.
Ia menambahkan, terdapat keterangan hadis yang menganjurkan umat Islam melakukan ziarah kubur.
“Keterangan hadis-nya ada, fazuruha (Maka silahkan untuk menziarahi). Cuma memang ada yang memperbolehkan dan ada juga yang tidak, tapi untuk kaum Nahdliyin rata-rata selalu mengadakan hal tersebut,” tambahnya.
Adapun ziarah kubur yang dimaksud tersebut adalah untuk mengirimkan doa kepada yang telah meninggal dunia. Bukan untuk meminta sesuatu terhadap orang yang telah meninggal dunia.
Supriana juga mengimbau masyarakat agar dapat berhati-hati jika tidak memahami arti dari ziarah kubur tersebut.
“Yang tidak tahu arti ziarah kubur memang suka salah kaprah, dalam artian meminta sesuatu kepada yang sudah meninggal dunia. Tapi masyarakat sekarang juga sudah semakin paham, ziarah tersebut tergantung niatan kita sendiri,” tandasnya. (Sandi/R7/HR-Online)