Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),– Ada penemuan baru terkait sejarah ronggeng gunung Pangandaran. Salah satunya adalah ronggeng gunung diindikasikan bersumber dari tarian lengger Jawa Tengah.
Penemuan itu diungkapkan budayawan asal Pangandaran, Aceng Hasim. Ia juga menyebut sejumlah pelaku seni punya sudut pandang sama terhadap musik saat pementasan ronggeng gunung.
“Musik saat pementasan ronggeng gunung menggunakan tri nada. Musik ini tidak termasuk pada nada salendro ataupun nada pelog,” kata Aceng, Minggu (4/4/2021).
Penggunaan tri nada dengan alat musik kenong ini pertama kali disajikan pada pementasan ronggeng gunung di Dusun Golempang, Desa Bojongsari, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran.
“Pagelaran pertama Ronggeng Gunung di Dusun Golempang. Penari pertamanya Dewi Ayu Anyangsrana atau Nyi Puleng Rasa yang merupakan putri dari Eyang Mangku Negara,” ungkap Aceng.
Eyang Mangku Negara sendiri datang dari Banyumas dan mengembara ke Pangandaran. Sejalan dengan hasil penelusuran Aceng yang menyebutkan ronggeng gunung yang berkembang di Pangandaran bersumber dari tarian lengger di Jawa Tengah.
Menurut Aceng, alat musik lengger di Jawa Tengah awalnya adalah bambu. Lalu pada abad 16, alat musiknya diubah menjadi kayu lame atau pule.
Seiring dengan itu, tri nada musik ronggeng gunung pun mengalami perubahan sampai pada nada yang saat ini menjadi aturan baku.
“Setelah alat musik lengger berubah dari bambu jadi kayu lame, akhirnya disamakan dengan suara nada kenong tri nada pada ronggeng gunung,” kata Aceng.
Penelusuran lainnya yang berkaitan dengan sejarah ronggeng gunung Pangandaran menunjukkan gerak penari ronggeng merupakan tarian kolaborasi dari pemujaan kepada Dewi Sri di daerah pegunungan.
“Lirik nada pada musik ronggeng gunung punya pakem (aturan baku) di 4 lagu pertama. Lagunya dibawakan secara sunyi dan khidmat, karena asalnya adalah ritual pemujaan,” ungkapnya.
Pakem lagu saat pementasan ronggeng gunung adalah, Kudup Turi, Ladrang, Lolowong, dan Sasagaran. (Ceng2/R7/HR-Online)
Editor: Ndu