Berita Banjar, (harapanrakyat.com),– Ketua Forum Pemuda Peduli Pendidikan (FPPP) Kota Banjar, Jawa Barat, Diky Agustav mengaku miris dengan para pelajar yang terlibat aksi perang sarung saat pagi hari di bulan Ramadhan belum lama ini.
Diky menilai selain meresahkan masyarakat, jika dibiarkan aksi perang sarung tersebut justru dapat memicu terjadinya tawuran. Termasuk juga pertikaian antar anak muda dan pelajar sehingga berpotensi membahayakan.
Baca Juga: Ramai Perang Sarung di Kota Banjar, Petugas Amankan Lima Remaja
Ia menilai aksi perang sarung tersebut terjadi akibat hilangnya kegiatan atau aktivitas untuk para pelajar di bulan Ramadhan.
“Jika dibiarkan aksi seperti ini bisa memicu tawuran nantinya, bisa jadi ini terjadi akibat hilangnya kegiatan untuk pelajar di bulan ramadhan,” kata Diky kepada HR Online, Senin (26/4/2021).
Lanjut Diky, biasanya pada saat bulan Ramadhan ada kegiatan agar para siswa mengikuti kultum. Para siswa biasanya diberi tugas untuk mengikuti kegiatan tersebut seperti mengisi buku Ramadhan, tadarus dan aktivitas lainnya.
Namun, pada masa pandemi ini untuk kegiatan Ramadhan benar benar-benar dihilangkan, sehingga anak-anak akhirnya mengisi kejenuhan ini dengan kegiatan yang tidak produktif seperti perang sarung.
“Biasanya setelah subuh itu kan ada kultum dan siswa biasanya diberi tugas mengikuti kegiatan tapi karena pandemi mungkin kegiatan siswa saat Ramadan itu dihilangkan,” ujar Diky.
Untuk itu, kata Diky, ia meminta kepada Dinas Pendidikan membuat formulasi agar siswa-siswi memiliki kegiatan yang positif untuk mengisi kegiatan. Misalnya dengan memberikan tugas selama bulan Ramadhan meski saat ini masih dalam situasi pandemi.
Selain itu, ia juga meminta kepada petugas terkait seperti Satpol PP untuk melakukan pengawasan dan penertiban jika aksi perang sarung tersebut masih dilakukan.
“Disdik membuat formula bagaimana caranya agar siswa siswi masih bisa memiliki kegiatan yang positif di bulan ramadhan,” katanya.
Perang Sarung di Kota Banjar Bukti Anak Jenuh
Terpisah, Kepala Bidang Dikdas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banjar, Ahmad Yani, membenarkan adanya sejumlah siswa yang terlibat dalam aksi perang sarung yang terjadi belum lama ini.
Menurutnya, aksi perang sarung tersebut bisa jadi karena para siswa terlalu lama dan jenuh melaksanakan pembelajaran di rumah. Akibatnya mereka melakukan hal-hal yang meresahkan.
Selain itu aksi tersebut juga bisa jadi bentuk pengungkapan kekesalan anak di masa pembelajaran yang kurang menentu ini.
“Iya. Betul memang ada sejumlah siswa yang terlibat dan dari laporan yang kami terima itu hanya beberapa saja. Tidak banyak,” kata Ahmad Yani.
Lanjut Yani, pihaknya juga membenarkan bahwa pada tahun ini tidak ada kegiatan yang secara khusus diberikan kepada para siswa di bulan suci Ramadhan. Misalnya pesantren kilat karena masih dalam situasi pandemi Covid-19.
Namun begitu lanjut Yani, pihak Dinas Pendidikan sudah berkoordinasi dengan pihak sekolah agar tetap memberikan tugas pembelajaran kepada siswa. Tujuannya agar mereka tetap belajar di rumah.
Ia menambahkan atas kejadian tersebut ia meminta kepada semua pihak, khususnya orang tua agar ikut mengawasi dan melakukan pendampingan kepada anak-anak didik. Terutama selama masa pandemi Covid-19
“Tentu kami berharap agar ada pengawasan dari orang tua dan pihak sekolah. Jika masih ada yang membandel ikut perang sarung kami juga sudah berkoordinasi dengan petugas Satpol PP. Kami minta petugas mengawasi dan membina para pelajar ini,” tandasnya. (Muhlisin/R7/HR-Online)
Editor: Ndu