Berita Nasional, (harapanrakyat.com),- Tepat 21 Maret 2021, seluruh warga dunia kembali merayakan hari puisi sedunia. Berbeda dengan Indonesia yang merayakan hari puisi nasional setiap tanggal 28 April.
Selain jalaluddin Rumi tentunya banyak penyair lain yang karyanya mendapatkan apresiasi. Di Indonesia sendiri ada Sapardi Djoko, Remy Sylado, Chairil Anwar, Taufiq Ismail. Dan dari kaum milenial, ada Bernard Batubara, M. Aan Mansyur, Dea Anugrah dan masih banyak lagi.
Di luar negeri sana, ada William Shakespeare, Edgar Allan, Kahlil Gibran dan Emily Dickinson yang karyanya hingga kini masih mendapatkan apresiasi dari seantero dunia.
Sejarah Hari Puisi Sedunia
Ide dari perayaan hari puisi sedunia ini pertama kali muncul di Paris, Perancis dalam pertemuan UNESCO 1999. Dalam pertemuannya, UNESCO membahas berbagai masalah yang berkaitan dengan literatur di setiap negara.
Puisi adalah contoh dari literatur yang memiliki kaitan erat dengan sejarah kehidupan dan peradaban manusia di muka bumi. Keberadaannya menjadi bukti dari berbagai ekspresi yang tertuang dan hidup melalui kata-kata.
Menyadari pentingnya puisi sebagai salah satu sarana untuk menjaga keberagaman Bahasa di seluruh negara, maka pertemuan ut memutuskan untuk membuat sebuah peringatan tahunan yang kini terkenal dengan Hari Puisi Sedunia.
Ada satu hal yang unik nih, peringatan Hari Puisi Sedunia ini hanya berselang 1 hari dengan peringatan hari ulang tahun dari Almarhum Eyang Sapardi Djoko Damono yang jatuh pada tanggal 20 Maret.
Kenapa Harus ada Hari Puisi Sedunia
Puisi adalah salah satu karya terhebat yang pernah manusia buat. Kehadirannya berkaitan erat dengan seni lain seperti musik, tari, drama, lukisan juga berbagai cabang seni lainnya.
Peringatan Hari Puisi Sedunia mempunyai tujuan agar semangat berkarya dalam sebuah puisi dapat terus berkobar.
Selain itu, tujuan dari Hari Puisi Sedunia ini juga untuk menjaga keragaman linguistik yang orang ekspresikan melalui sebuah puisi, dan agar nilai bahasa dan kesusastraan dapat terus terjaga.
Lebih jauh lagi, tujuan peringatan Hari Puisi Sedunia ini adalah untuk menghilangkan kesan ‘kuno’ yang melekat pada puisi. Sehingga kita semua dapat terus menikmati puisi seiring dengan perkembangan zaman.
Kita tentu tidak akan pernah lupa bagaimana baris-baris kata dalam puisi Chairil Anwar yang ia tulis di tahun 1945, karya besar maestro yang tumbuh Bersama sejarah besar bangsa Indonesia.
Sebuah puisi yang berjudul ‘Aku’ hingga kini tidak pernah absen dalam kurikulum Bahasa di sekolah. Masih ingat kutipan puisinya? ‘Aku ini binatang jalang, dari kumpulan yang terbuang’.
Tidak lupa juga romantisnya penggalan puisi karya Sapardi Djoko Damono, puisi ini yang sering kita jumpai pada coretan-coretan di tumblr, pinterest atau malah coretan dinding dan kaos.
Sekian waktu berlalu, namun puisi ini masih saja membuat hati wanita berdebar-debar hebat dan keringat dingin tidak karuan jika ada seorang pria yang membacakannya saat menyatakan perasaan atau menuliskannya di dalam sebuah pesan cinta.
‘Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada‘.
Puisi Adalah Karya Hati
Karena puisi ini merupakan buah karya dari hati seorang penyair, maka kata-katanya juga akan sampai kepada hati pembaca, menggerakan emosi, dan menyentuh berbagai dimensi, terus memanjang seiring waktu yang berjalan.
Seperti karya seni hebat lainnya, puisi juga tidak akan pernah usang.
Tidak melulu tentang cinta, banyak juga puisi yang berisi kritik sosial dan politik. Salah satunya adalah karya dari W.S Rendra yang kala itu berani mengekspresikan kesedihannya pada orde baru yang menakutkan.
Puisi ini kemudian terkumpul dalam sebuah buku dengan judul ‘Potret Pembangunan Dalam Puisi’.
Sudah terbukti, bukan? Sebuah kata-kata nyatanya mampu memberikan kekuatan magis bagi para pembacanya. Menghadirkan semangat dan berbagai perasaan.
Dengan sentuhan seni, seorang penyair bisa memilih berbagai kata hingga menjadi baris yang memiliki kekuatan sedemikian rupa dan menjadi karya yang fenomenal juga kekal.
Sayang sekali jika keindahan puisi ini terlupakan karena ada anggapan ketinggalan zaman? Maka dari itulah adanya peringatan Hari Puisi Sedunia.
Memperingati Hari Puisi Sedunia
Setelah mengetahui sejarah dan alasan adanya peringatan Hari Puisi Sedunia, maka munculah pertanyaan mengenai cara untuk memperingatinya.
Terdapat banyak cara yang dapat kita lakukan untuk menyemarakan Hari Puisi Sedunia. Tahun lalu misalnya, masyarakat Indonesia ramai mengunggah berbagai kutipan dari penyair ternama dengan hashtag #HariPuisiSedunia.
Tidak hanya mengutip, banyak masyarakat Indonesia yang ikut merayakan hari puisi sedunia dengan mengunggah puisi karyanya sendiri.
Membaca puisi bersama anak, berdiskusi dan membedah puisi, menulis puisi, juga merupakan beberapa contoh kegiatan seru yang dapat anda lakukan untuk meramaikan hari puisi sedunia, sekaligus mengenalkan puisi itu sendiri.
Untuk para pelajar juga dapat melakukan kajian tentang penyair terkenal dalam dan luar negeri hingga melakukan pertunjukan musikalisasi puisi yang menggabungkan seni music dan puisi untuk memperingati hari puisi sedunia.
Puisi adalah salah satu media ampuh untuk mengekspresikan berbagai perasaan yang kita rasakan, sedih, kesal, marah, jatuh cinta, kecewa, bahagia, sarkasme, bahkan sampai kritik pada pemerintah.
Beberapa orang mungkin seringkali bingung karena padanan kata dalam puisi terkesan sulit untuk mencernanya. Tapi sejatinya puisi itu tidak cuma tentang memahami setiap suku kata, tapi merasakan setiap kekuatan kata yang ada di dalamnya.
Tentunya akan sangat menyenangkan jika kita sudah dapat menikmati karya puisi, sehingga dapat menghilangkan stigma yang memandang bahwa puisi itu kuno dan ketinggalan zaman.
Mari bersama mengenalkan puisi kepada penerus kita. Selamat berkarya, selamat merayakan hari puisi sedunia! (Deni/R4/HR-Online)