Kampung Naga, sebuah desa pada daerah Tasikmalaya. Tepatnya di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Desa yang berada pada lembah ini tentunya tenang dan jauh dari keramaian kota.
Kampung Naga termasuk desa yang indah dan menyatu dengan alam. Desa tersebut juga selalu menjaga budayanya yang ada sejak dulu. Desa tersebut menolak modernisasi.
Penduduk Kampung Naga Tasikmalaya hidup tanpa adanya listrik dan barang-barang elektronik. Kampung ini memiliki rumah-rumah yang berjajar rapi dan masih tradisional. Wujud rumah masih panggung, terbuat dari kayu dan bambu.
Baca Juga: Kampung Sampireun Garut, Destinasi Tempat Wisata Paling Favorit
Warga Kampung Naga juga taat melaksanakan adat istiadat karuhun atau warisan nenek moyang. Beranggapan bahwa segala sesuatu yang datangnya bukan dari karuhun berarti melanggar adat dan tabu.
Fakta Kampung Naga Tasikmalaya
Penduduk Kampung Naga Patuh Akan Pesan Leluhur
Penduduk kampung tersebut merupakan keturunan suku Sunda asli. Hal itu menurut Endut Suganda selaku sesepuh Kampung Naga.
Seluruh penduduk Kampung Naga masih sangat patuh terhadap pesan leluhurnya. Seperti halnya mengenai kesederhanaan dan hidup rukun dengan memegang teguh adat tradisi dalam menjaga alam.
Selain itu, termasuk hubungannya dengan lingkungan sekitar pemberi kehidupan. Menurut Endut Suganda, ada istilah pamali atau tabu apabila dipantang.
Mayoritas Penduduknya Beragama Islam
Perlu untuk mengetahui bahwa mayoritas penduduk Kampung Naga Tasikmalaya beragama Islam. Penduduk setempat juga masih sangat patuh terhadap pesan leluhur meskipun menjadi seorang muslim yang taat.
Baca Juga: Anggota DPR RI Kunjungi Kampung Nusantara di Pangandaran
Terlebih lagi penduduk setempat sangat memegang nilai mengenai kesederhanaan dan kerukunan sesama manusia. Pesan leluhur tentunya berkaitan dengan hubungan antar manusia. Selain itu, juga mengenai hubungan dengan alam agar saling harmonis.
Terdapat Tugu Kujang Sebagai Simbol Khas Sunda
Kampung Naga Tasikmalaya memiliki tugu kujang raksasa atau senjata tradisional khas Sunda. Tugu tersebut merupakan ikon baru untuk wilayah Kampung Naga.
Pada tugu tersebut memiliki nilai filosofis dengan penduduknya. Dengan nilai kesundaan yang kuat dari bangunan setinggi 5,5 meter tersebut.
Baca Juga: Kampung Daun Bandung, Resto Khas Sunda yang Romantis Nan Asri
Menurut selaku sesepuh Kampung Naga, mantan Kapolda Jabar Anton Charliyan yang membangun tugu kujang. Pada saat itu Anton memiliki hobi mengoleksi benda-benda pusaka.
Sehingga memiliki ide untuk mendirikan sebuah bangunan atau tugu. Tentunya menjadikan ciri khas Kampung Naga. Struktur yang terdapat pada bangunan terdiri dari 999 keris. Benda logam dan pusaka bertuah lainnya melebur menjadi satu benda kujang raksasa.
Mempunyai Sejarah yang Sangat Panjang
Selain mempunyai filosofi dan budaya Sundanya, Kampung Naga Tasikmalaya juga memiliki sejarah yang sangat panjang. Seperti halnya Raja Dinputang yang merupakan sesepuh awal Kampung Naga.
Raja menurunkan pangeran Singaparna sebagai panglima kerajaan Timbang Anten. Pangeran tersebut sangat bijaksana selama menjadi pemimpin Kampung Naga.
Bahkan mendapatkan amanat Piagam Tembaga Raja Wangsadikarta untuk melakukan tindakan saat kondisi genting secara cepat dan tepat.
Menghormati dan Patuh Terhadap Lingkungan Alam Sekitar
Penduduk Kampung Naga Tasikmalaya sangat menjaga dan merawat keaslian budaya selain menghormati leluhurnya. Tentunya tanpa terpengaruh akan dampak teknologi dan informasi saat ini.
Penduduk setempat masih setia terhadap leluhur dan menghormati tradisi nenek moyang. Bukan hanya sekedar tradisi, namun juga melestarikan hutan yang dianggap terlarang oleh penduduk tersebut.
Mempertahankan Kesenian Leluhur
Penduduk Kampung Naga hingga saat ini masih memiliki kesenian tradisional. Pada saat ini pun masih mempertahankannya sebagai identitas setempat.
Seperti halnya terbang sejak, terbang gembrung, dan angklung. Pada momentum khusus, Kampung Naga Tasikmalaya masih menampilkan kesenian tersebut.
Bangunan Rumah Terbuat Dari Alam
Seperti halnya sebuah desa adat pada umumnya. Semua bangunan Kampung Naga Tasikmalaya mayoritasnya menggunakan bahan-bahan alam, seperti bambu dan kayu secara menyeluruh.
Menggunakan daun nipah, ijuk, dan alang-alang untuk melengkapi sisi atap bangunan. Tentu saja sangat berbeda dengan bangunan modern sekarang ini. Selain itu, daun tersebut juga melengkapi rumah-rumah desa tersebut.
Rumah-rumah juga harus mengikuti aturan dari leluhur. Posisi rumah harus menghadap ke timur dan barat. Adapun total bangunan Kampung Naga terdiri atas 113 rumah, termasuk juga balai dan masjid.
Beberapa fakta mengenai Kampung Naga Tasikmalaya bisa menambah wawasan anda. Kampung Naga sebagai salah satu warisan budaya Sunda yang menginspirasi. (R10/HR-Online)