Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Banteng di Cagar Alam Pangandaran, Jawa Barat, punah. Kepunahan banteng ini berkaitan dengan letusan Gunung Galunggung Tasikmalaya pada tahun 1982.
Cagar Alam Pangandaran sendiri dulunya merupakan lokasi hutan tempat berburu pada masa pemerintahan kolonial Belanda tahun 1930.
Lokasinya berada di Desa Pananjung, Kecamatan/Kabupaten Pangandaran. Karena dulunya merupakan lokasi berburu, maka tak heran jika ada yang menyebut Cagar Alam Pangandaran merupakan warisan Belanda.
Luas Cagar Alam Pangandaran mencapai 1.000 hektar. Seluas 37,7 hektar merupakan Taman Wisata Alam (TWA). Sedangkan sisa lahan lainnya ditetapkan sebagai Cagar Alam. Ada dua kawasan Cagar Alam, yakni Cagar Alam Laut seluas 470 hektar, dan Cagar Alam Darat seluas 419,3 hektar.
Saat ini pengelolaan TWA menjadi tanggung jawab Perum Perhutani. Sementara kawasan Cagar Alam berada di bawah pengelolaan BKSDA.
Baca Juga: Kisah Banteng Jawa di Cagar Alam Pangandaran
Usman, salah seorang warga Pangandaran, menuturkan, berbagai satwa didatangkan Pemerintah Hindia Belanda ke hutan lokasi berburu. Salah satunya banteng Jawa (Bos javanicus). Selain banteng, Belanda juga mendatangkan rusa.
“Kalau rusa sampai saat ini masih ada. Berbeda dengan banteng, yang saat ini sudah tidak ada,” ujar Usman, Minggu (14/2/2021).
Cerita Punahnya Banteng di Cagar Alam Pangandaran
Usman menuturkan, menurut cerita orang tua dulu, Belanda melepaskan 80 ekor banteng dan rusa. Populasinya terus meningkat sampai setidaknya tahun 1982.
“Tapi setelah Gunung Galunggung meletus, populasi banteng kian turun. Ini karena makanan alami banteng, termasuk juga sumber air tertutup abu vulkanik,” jelasnya.
Saat itu, kata Usman, petugas berusaha membuat bak tempat air minum untuk banteng di Cagar Alam Pangandaran. Bahkan sampai mendatangkan rumput dari luar Cagar Alam untuk diberikan kepada banteng.
Sayangnya usaha tersebut tidak berhasil menurunkan angka kematian banteng. Hal ini lantaran banteng tidak menyukai rumput yang didatangkan dari luar hutan.
Abu vulkanik dari letusan Gunung Galunggung tersebut menimbun makanan alami banteng selama 8 bulan. Akibatnya populasi banteng pun terus berkurang.
Pada tahun 1997, lanjut Usman, sebenarnya banteng masih sering terlihat di Cagar Alam. Namun, saat ini tidak ada lagi yang melihat keberadaan banteng tersebut.
Sempat ada upaya untuk mengganti banteng yang punah. Pada tahun 2003 didatangkan 8 ekor sapi Bali yang bentuknya mirip banteng.
“Saat ini banteng di Cagar Alam Pangandaran hanya tinggal kenangan. Saya harap ada lagi banteng. Ini bagus untuk edukasi juga kepada masyarakat,” tandasnya. (Ceng2/R7/HR-Online)
Editor: Ndu