Sejarah provinsi Jawa Barat mulai terbangun sejak lama bahkan sebelum masa kerajaan. Jawa Barat juga merupakan provinsi yang pertama kali terbentuk.
Berbagai penemuan baik berupa prasasti atau pun peralatan masa lampau telah membuktikan daerah ini bukanlah daerah baru.
Selain itu, wilayah ini secara geografis berukuran luas dan secara sosial buadaya memiliki ciri khasnya sendiri.
Mulai dari Bahasa hingga kuliner daerah ini berbeda dengan berbagai wilayah lain di Indonesia, salah satu yang terkenal adalah bahasa sunda sebagai Bahasa ibu masyarakat Jawa Barat.
Sejarah provinsi ini juga sempat ditulis oleh Nina H. Lubis beserta rekannya dalam buku berjudul Sejarah Provinsi Jawa Barat.
Dalam buku tersebut tertulis dengan cukup rinci bagaimana wilayah ini terbangun sejak zaman prasejarah, kerajaan hingga kemerdekaan.
Jawa Barat sendiri terletak di ujung sebelah barat pulau jawa dan pertama kali sah sebagai sebuah provinsi pada tahun 1925.
Baca juga: Makanan Khas Jawa Barat yang Enak dan Populer
Sejarah Provinsi Jawa Barat
Penemuan yang terdapat di Anyer secara arkeologis menunjukan terdapat satu kebudayaan di Jabar pada masa perunggu dan besi.
Zaman perunggu dan besi merupakan milenium pertama peradaban manusia. Selain penemuan di Anyer, terdapat juga penemuan peralatan kuno.
Gerabah tanah liat yang pembuatannya kisaran masa prasejarah dapat ditemukan mulai dari Anyer sampai Cirebon.
Arkeolog yang meneliti daerah ini menyimpulkan kalau gerabah tersebut ada sejak zaman buni atau bisa disebut Bekasi kuno.
Penemuan-penemuan benda masa silam tersebut membuktikan sejarah Provinsi Jawa Barat sudah berlangsung Panjang.
Selain bukti di atas, adanya prasasti-prasati pada masa kerajaan juga menjadi kelanjutan dari sejarahnya.
Prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara misalnya, menjelaskan banyak tentang kekuasaan Tarumanegara di tanah sunda pada abad ke-5.
Terdapat sekitar tujuh prasasti yang berhasil ditemukan, seperti tulisan dalam prasasti menggunakan bahasa Palawa India dan Sansekerta yaitu bahasa pada masa kerajaan.
Masa Perpecahan Kerajaan Sunda
Tidak hanya Tarumanegara, tetapi beberapa kerajaan setelahnya juga sempat berkuasa dan mempengaruhi perjalanan sejarah Provinsi Jawa Barat.
Kerajaan tersebut antara lain Kerajaan Pakuan Pajajaran, Kesultanan Cirebon, Kesultanan Banten dan berada dibawah pengaruh kesultanan demak.
Pakuan Pajajaran berkuasa setelah runtuhnya kekuasaan Tarumanegara, ini terjadi pada tahun 932 masehi.
Prasasti sebagai bukti adanya kekuasaan Pajajaran adalah Prasasti Kebon Kopi II dan menyebutkan pakuan sebagai Ibukota Pajajaran.
Pajajaran yang terkenal kerajaan sunda menguasai wilayah Ujung Kulon hingga Kali Serayu tepatnya area sebelah barat provinsi ini.
Dalam sejarah Provinsi Jawa Barat, berbagai tekanan terjadi terhadap kerajaan yang ada, salah satu yang terkuat adalah dari Kesultanan Demak.
Tekanan ini yang kemudian menciptakan perpecahan, pada abad ke-16 Kesultanan demak melakukan ekspansi ekonomi dan politik hingga wilayah sunda.
Pada akhirnya, Pelabuhan Cirebon terlepas dari kerajaan sunda yang kemudian berdiri sendiri menjadi kesultanan Cirebon.
Selanjutnya, Pelabuhan Banten juga mengalami hal yang sama, akibatnya terpecah kembali dan berdiri sendiri sebagai Kesultanan Banten.
Baca juga: Sejarah Tradisi Nelayan Pangandaran Memudar Karena Pariwisata
Jabar Pra Kemerdekaan dan Setelahnya
Tekanan dan ancaman bukannya surut melainkan semakin bertambah, sekarang terdapat ancaman dari luar Nusantara yaitu portugis.
Tekanan yang besar membuat Kerajaan Sunda pimpinan Surawisesa saat itu bekerjasama dengan Portugis dengan tujuan memperkuat keamanan.
Timbal balik bagi Portugis adalah akses untuk membangun benteng pertahanan, gudang serta melakukan kegiatan perdagangan di Sunda Kelapa (Sekarang Jakarta).
Hal ini terbukti dengan adanya prasasti Perjanjian Sunda-Portugis pada tahun 1512, yang ternyata menjadi bagian kelam dalam sejarah Provinsi Jawa Barat.
Pelaksanaan dari perjanjian itu pun tidak mulus, penyebabnya pasukan aliansi Cirebon dan Demak yang tidak sepakat dengan perjanjian menaklukkan Sunda Kelapa menyerang.
Akibatnya pada tahun 1567–1579 kerajaan Sunda pimpinan Prabu Surawisesa mengalami kemunduran secara terus menerus.
Selanjutnya, secara administratif wilayah ini kemudian aktif kembali pada tahun 1925 setelah melalui berbagai kejadian sejarah.
Pada saat itu pula, di bawah pemerintahan Hindia-Belanda Jawa Barat sah sebagai sebuah Provinsi untuk pertama kalinya dengan sebutan Soendalanden atau Pasoendan.
Sejarah Provinsi Jawa Barat kemudian berlanjut saat paska kemerdekaan atau setelah proklamasi di mana BPUPKI menetapkan delapan Provinsi sebagai Wilayah NKRI pada 19 Agustus 1945.
Jawa Barat adalah salah satunya, hanya saja karena pergolakan politik yang terjadi, pada 27 Desember 1949 pasundan berubah menjadi Negara Bagian dari Republik Indonesia Serikat.
Ketetapan ada melalui kesepakatan tiga pihak pada Konferensi Meja Bundar hanya saja tidak berlangsung lama.
Berselang satu tahun atau tepatnya tahun 1950, Jawa Barat kembali menjadi provinsi dan bergabung dengan Republik Indonesia.
Sejarah Provinsi Jawa Barat pun berlanjut hingga sekarang dan telah mekar pada tahun 2000 dengan adanya Provinsi Banten di wilayah barat. (Muhafid/R6/HR-Online)
Editor: Muhafid