Peta galaksi Bima Sakti telah ilmuwan susun dengan menampilkan bentuk tiga dimensi. Pembuatan peta galaksi ini memakai data yang berasal dari antariksa yakni Gaia milik ESA (European Space Agency.
Wahana ini kita ketahui telah memindai benda-benda luar angkasa seperti bintang mulai tahun 2013 silam. Peta yang sangat detail dan presisi ini pun bisa membantu para ahli astronomi dalam mengukur akselerasi tata surya dan juga menghitung massa dari galaksi Bima Sakti.
Kemudian, hal tersebut juga akan memberikan petunjuk mengenai bagaimana tata surya terbentuk. Selain itu, juga untuk mengetahui ekspansi sejak awal waktu pembentukan tersebut.
Baca Juga: Penemuan Galaksi Raksasa Langka di Luar Angkasa oleh Astronom
Peta Galaksi Bima Sakti untuk Penelitian
Para ilmuwan telah menyusun peta Bima Sakti yang sangat penting dan berguna sebagai acuan mereka dalam menentukan penelitian. Penelitian tersebut mereka lakukan tentang pengukuran akselerasi tata surya dengan menghitung atau mengkalkulasi berat dari galaksi Bima Sakti.
Terdapat milyaran bintang, yakni kurang lebih 1,8 miliar yang memuat dalam peta galaksi tersebut. ESA pun menampilkan dan memasang video pada laman YouTube mereka dengan visual yang sangat menakjubkan.
Hal tersebut dapat menghadirkan aktivitas kosmis yang ada dalam galaksi Bima Sakti. ESA juga menyebutkan jika data terbaru Gaia pun memungkinkan para ahli astronomi untuk melacak populasi bintang muda hingga yang tua sekalipun menuju tepian galaksi ini.
Dari model komputer telah memprediksi jika piringan Bima Sakti kemungkinan akan tumbuh lebih besar dengan berjalannya waktu. Kemudian, peta galaksi Bima Sakti tersebut telah rilis pada saat sekelompok peneliti atau ilmuwan mengatakan jika Bumi memiliki kemungkinan akan semakin dekat dengan lokasi lubang hitam yang berada dalam pusat galaksi Bima Sakti.
Lalu, para ahli menyebutkan jika Bima Sakti mempunyai lubang hitam yang sangat besar pada bagian tengahnya, yang mereka sebut dengan Sagittarius A.
Baca Juga: Fosil Galaksi Tersembunyi, Kemungkinan Merupakan Fosil Heracles
Peta Galaksi versi National Astronomical Observatory Jepang
Melansir Earth Sky, para ahli astronomi Jepang pada National Astronomical Observatory memakai data yang mereka kumpulkan sejak 15 tahun silam. Hal ini dalam upaya membuat peta Bima Sakti dengan versi mereka sendiri.
Lalu, mereka memprediksi tentang posisi Bumi terhadap lubang hitam pada peta galaksi Bima Sakti tersebut. Jaraknya yang pada tahun 1985 sekitar 27.700 tahun cahaya.
Selanjutnya, dari penelitian terbaru mereka terdapat kesimpulan jika posisi Bumi akan menjadi lebih dekat dengan lubang hitam yang super masif. Hal ini dalam pusat galaksi Bima Sakti dari prediksi sebelumnya.
Namun, dari peta galaksi Bima Sakti tersebut, para peneliti dan ahli astronomi mengatakan jika tak ada yang perlu merasa khawatir akan teori paling baru itu. Para ilmuwan pun menegaskan jika Bumi tidak sedang dalam kondisi terancam oleh lubang hitam tersebut.
Pasalnya, dari puluhan ribu tahun cahaya adalah jarak atau posisi yang sangat jauh. Oleh karena itu, jika pun Bumi menuju pusat lubang hitam yang ada dalam inti Galaksi, maka akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Bahkan, untuk perbandingan saja, satu tahun cahaya sama dengan 9,46 triliun kilometer.
Baca Juga: Temuan Galaksi Spiral Berbulu NGC 2775 Menggunakan Hubble
Peta Detail Anti Senter dan Orbit Galaksi
Dari data terbaru untuk peta galaksi Bima Sakti, Gaia Early Data Release 3 (EDR 3) adalah sebuah peningkatan tentang besar melalui data yang ada. Hal seperti itu dapat ditunjukkan pada serangkaian makalah yang baru dan terbit dalam Astronomy and Astrophysic.
Selain mengamati anti senter (arah yang berlawanan pusat galaksi), ahli astronomi telah mengamati Awan Magellan yang mengorbit pada Bima Sakti. Kemudian melakukan sensus yang paling besar pada bintang-bintang dalam Bima Sakti dan juga gerakannya pada langit.
“Data Gaia terbaru menjanjikan menjadi sesuatu yang berharga untuk para ahli astronomi,” kata Jos de Bruijne, astronom ESA.
Hingga pada saat ini, Gaia sudah berhasil memetakan dengan rincian 1,8 miliar sumber, mengumpulkan informasi terhadap warna dalam 1,5 miliar sumber tersebut.
Lalu menurut ESA, hal tersebut akan meningkat sekitar 100-200 juta data sumber dari Release 2 tahun 2018. Tentu hal ini sangat penting sebagai pandangan jelas terhadap pembentukan atau pembuatan peta galaksi Bima Sakti tersebut. (R10/HR Online)