Berita Ciamis (harapanrakyat.com).- Para agen penyalur BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai) di Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, mengeluhkan tidak adanya telur ayam saat penerimaan barang sembako dari pihak suplayer.
Hal itu pun membuat puluhan agen meresa kecewa dan meminta pertanggungjawaban suplayer terkait tidak adanya telur bagi para KPM.
Agen BPNT yang ditemui HR di aula Kantor Desa Kertahayu, Senin (14/12/2020), membenarkan tidak ada telur saat menerima barang dari pihak suplayer yang dipegang oleh Bumdes Bersama Geger Bentang.
“Entah kenapa pasokan telurnya tidak ada. Kami juga sudah mempertanyakan ke pihak suplayer. Namun jawabannya tidak jelas. Mereka hanya bilang telur lagi susah dan mahal. Padahal itu kan sudah kontrak, mau mahal atau langka ya harus diusahakan,” kata Daryati Agen BPNT Desa Kertahayu yang ditimpali agen Desa Pamarican dan Bangunsari.
Dihubungi terpisah, Ketua Bumdes Bersama Geger Bentang, Tati Karyati, mengaku tidak begitu mengetahui penyebab hingga terjadinya kekosongan pasokan telur.
“Maaf ya soal telur mah itu sudah ada bagiannya, coba konfirmasi ke pak Yono ya, dia sebagai penanggung jawab penyaluran telurnya,” katanya Senin (14/12/2020)
Sementara itu, Yono Mustofa, ketika dihubungi HR, mengaku, saat ini pasokan telur belum bisa didistribusikan kepada para agen.
Hal itu diakibatkan adanya lonjakan harga serta susahnya mencari barang tersebut.
“Telurnya bukan tidak dikirim, tapi belum. Hal ini karena adanya lonjalan harga serta sulitnya mendapatkan pasokan telur. Harga dari distributor saat ini mencapai Rp. 2.6000 perkilogramnya. Jelas harganya tidak terjangkau dengan harga BPNT,” kata Yono.
Menurut Yono, meski saat ini terjadi kelangkaan telur, namun pihaknya tetap berusaha untuk mendapatkan pasokan agar kebutuhan para agen bisa terpenuhi.
“Untuk menyiasati kondisi saat ini, terpaksa kami harus terjun mencari telur ke peternak lokal. Tapi stok barangnya terbatas, sehingga kami harus mengatur jadwal pengiriman kepada agen. Insyaallah, meski susah, tapi kebutuhan para agen akan kita penuhi,” katanya.
Diduga Permainan Pihak Suplayer
Menurut sumber informasi HR di lapangan, diduga terjadi permainan harga yang dilakukan oleh pihak suplayer dan menjadikan penyaluran BPNT sebagai ajang kepentingan.
Harga komoditi pun melambung di atas harga pasar, sehingga barang yang diterima KPM disinyalir tidak mencapai Rp. 200.000.
Selain itu, TKSK dan pihak Bumdes Bersama juga banyak membentuk agen-agen baru yang diduga ilegal.
Menanggapi hal tersebut, HR mencoba melakukan konfirmasi kepada TKSK Kecamatan Pamarican, terkait dugaan adanya permainan harga serta tidak adanya pasokan telur saat ini.
TKSK Pamarican, Ana Suryana, Selasa (15/12/2020), mengatakan, seharusnya hal itu menjadi tanggungjawab pihak suplayer.
Pihaknya pun sudah mengkonfirmasi hal itu ke Ketua Bumdes, namun sayang yang bersangkutan menyatakan tidak sanggup mengadakan telur.
“Maka dari itu, saya (TKSK) tengah berupaya menghubungi beberapa distributor telur. Memang harganya tinggi, sekitar Rp 26.000 per kilonya, ini sangat di luar prediksi,” katanya.
Ana menyebutkan, kebutuhan telur para KPM di Kecamatan Pamarican sangat besar, sehingga pihaknya terus berusaha untuk mendapatkan pasokan.
“Kebutuhan telur untuk semua KPM, termasuk perluasan, sekitar 7 ton. Makanya saat kita gunakan telur lokal, stoknya kan sangat terbatas, sehingga harus disiasati dengan cara bergilir,” terangnya.
Disinggung terkait adanya agen bentukan baru yang belum mempunyai ijin namun sudah bisa mencairkan BPNT, Ana mengatakan, agen yang baru semuanya sudah terdaftar di Mandiri. Jadi, tidak ada agen ilegal di Kecamatan Pamarican ini.
“Semuanya sudah terdaftar. Hanya saja mereka tinggal menunggu mesin EDC untuk pencairan. Nah untuk pencairan saat ini, para agen yang baru itu kita arahkan untuk meminjam mesin EDC ke agen lama. Jadi saya pastikan tidak ada agen illegal,” pungkasnya. (Suherman/Koran HR)