Sejarah revolusi hijau berhasil menjadi tonggak penting di industri pertanian global. Bagaimana tidak, revolusi hijau mampu membawa perubahan signifikan terhadap cara masyarakat memproduksi pangan. Gerakan ini sekaligus menyumbang manfaat besar dalam memerangi krisis dan kelaparan.
Baca juga: Sejarah Swasembada Pangan Zaman Orba: Padi Melimpah, Kesejahteraan Rendah
Lantas, apa sebenarnya revolusi hijau itu? Bagaimana gerakan tersebut bisa memberikan dampak luar biasa hingga ke era modern seperti sekarang? Mari kita simak jawaban lengkapnya dalam artikel berikut.
Sejarah Revolusi Hijau dan Latar Belakangnya
Istilah “revolusi hijau” mulai booming sekitar pertengahan abad ke-20 atau pasca Perang Dunia II. Di mana kehidupan masyarakat global sedang berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan.
Terlebih saat itu, populasi penduduk tumbuh begitu pesat, sementara produksi pangan tidak mampu mengimbangi kebutuhan mereka. Akibatnya, krisis dan kelaparan terjadi secara meluas hampir tidak tertolong.
Tak tahan melihat kondisi tersebut, seorang pakar agronomi, bernama Norman Borlaug, mencetuskan gerakan revolusioner. Sosoknya berhasil menghadirkan varietas benih gandum terbaru pada tahun 1940-an. Bahkan, ia langsung membudidayakan benih karyanya di Negara Meksiko.
Tak hanya varietas baru, sejarah revolusi hijau turut menandai penggunaan pupuk dan pestisida untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Menariknya, Norman juga mengembangkan teknik irigasi yang lebih efisien.
Baca juga: Menguak Kekayaan Presiden RI ke-2 Soeharto, Pernah Masuk Daftar Orang Terkaya di Dunia
Dari berbagai studi, para pakar mulai mengemukakan pendapat mereka terkait gerakan ini. Seperti halnya Mikael Eskelner dalam bukunya yang bertajuk “Dari Revolusi Neolitik hingga Pertanian Kuno”.
Menurutnya, revolusi hijau merupakan rangkaian inisiatif penelitian, pengembangan, serta transfer teknologi pada 1940-an hingga 1970-an. Adapun puncak keberhasilan programnya berada di tahun 1960-an.
Cikal Bakal Revolusi Hijau di Indonesia
Tak jauh berbeda dengan sejarah revolusi hijau di sektor global, Indonesia juga mengalami surplus lewat program ini. Tepatnya ketika memasuki masa Orde Baru di bawah pimpinan Presiden RI ke-2, yakni Soeharto.
Kendati demikian, pakar-pakar sejarah menyebut jika revolusi hijau sejatinya sudah ada sejak pemerintahan Soekarno lewat rancangan “Kasimo Plan”. Hanya saja, keterbatasan anggaran negara membuat rencananya gagal.
Setelah Soeharto menjabat sebagai presiden, rancangan Kasimo Plan akhirnya berjalan sukses. Salah satu bukti kesuksesannya tercermin dalam program Bimbingan Massal atau populer dengan istilah BIMAS.
Program yang melibatkan mahasiswa Fakultas Pertanian UI itu memiliki sejumlah poin penting. Sebut saja penggunaan bibit unggul, pemupukan, pengairan, dan pemberantasan hama. Di dalamnya juga mengupayakan beberapa metode untuk mengubah teknik pertanian tradisional ke modern.
Setelah sukses, BIMAS kemudian berkembang menjadi program Intensifikasi Massal (INMAS). Sebuah program pengembangan dari pemerintah dengan mengeluarkan sejumlah kebijakan baru. Seperti subsidi bibit unggul, pupuk, pestisida, hingga teknologi pertanian yang lebih canggih.
Dorongan Inflasi Parah
Pakar bernama Fitriani dari Universitas Pendidikan Indonesia, turut menerangkan sisi lain sejarah revolusi hijau di tanah air. Menurutnya, program perbaikan produksi pangan ini tak lepas dari kondisi inflasi tahun 1965.
Baca juga: Sentimen Santri pada Abangan dan Priyayi, Awet sampai Zaman Orba
Selain penurunan nilai mata uang terparah dalam sejarah, gudang-gudang beras milik pemerintah RI juga tampak kosong. Ini tidak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang melonjak tajam. Akibatnya, kenaikan harga beras di tanah air semakin tidak terkendali.
Ini juga pernah Ricklefs singgung dalam bukunya yang bertajuk “Sejarah Indonesia Modern 1200-2008” (2008: 581). Menurutnya, struktur sosial, politik, dan ekonomi Indonesia seolah runtuh saat terjadi inflasi 1965. Bahkan, harga barang-barang terutama sembako hingga mencapai lima ratus persen.
Tak ingin membiarkan kondisi kian parah, pemerintah Orde Baru segera mengambil langkah efektif lewat program revolusi hijau.
Hasil Penerapan Revolusi Hijau di Indonesia
Keberhasilan BIMAS gagasan Soeharto memberikan dampak yang sangat membanggakan. Dengan mengubah metode pertanian kuno ke sistem modern, sektor pertanian Indonesia di bawah kekuasaan Orde Baru berkembang pesat.
Banyak pihak yang mengklaim jika sejarah revolusi hijau di tanah air tidak mengecewakan. Baik itu di masa Pelita I Orde Baru atau saat awal-awal Soeharto berkuasa maupun di akhir kepemimpinannya.
Berkat program ini, Indonesia pernah mencatatkan diri sebagai negara dengan kenaikan produksi padi sebesar enam per tahun. Lewat upaya percepatan panen bagi seluruh petani di Pulau Jawa.
Adapun puncak tertinggi upaya revolusi hijau di Indonesia adalah tahun 1984. Di mana tanah air bisa mencapai swasembada beras hingga mampu mengekspor hasil panen ke beberapa negara.
Baca juga: Sejarah Bea dan Cukai di Indonesia dari Masa Kerajaan
Demikian penjelasan sejarah revolusi hijau di kancah global dan pengaruhnya bagi Indonesia. Penting untuk diingat, meski memberi dampak signifikan dalam transformasi pertanian. Namun, revolusi hijau juga memicu sejumlah masalah. Termasuk degradasi lingkungan dan ketergantungan pada pertanian kimia, sehingga kita tetap harus bijak dalam mengadopsinya. (R10/HR-Online)