Sejarah pendidikan Indonesia berawal dari Portugis saat mendirikan sekolah-sekolah agama Kristen di Maluku. M.C Ricklefs dalam “Sejarah Indonesia Modern”, menjelaskan kedatangan Portugis awalnya hanya berdagangan. Namun ternyata memiliki niat menyebarkan agama Kristen dan kekuasanya.
Portugis adalah bangsa Eropa pertama ke Nusantara, yakni ke kepulauan Maluku tahun 1552. Orang Portugis memiliki kecerdasan yang tinggi terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kerajaan Tidore menyambut kedatangan Portugis ke Maluku. Bahkan Kerajaan Tidore bersekutu dengan Portugis demi mengalahkan menoritas penduduk maluku yang berselisih faham dengan kerajaan. Portugis akhirnya menduduki Maluku dan membangun kebijakan, salah satunya pendidikan.
Portugis Memulai Sejarah Pendidikan Indonesia
Sejarah menuliskan sistem pendidikan Indonesia banyak terpengaruh oleh agama dunia seperti agama Kristen saat orang Portugis datang ke Maluku. Dalam misinya mengarungi dunia, Portugis memiliki semangat 3G, Gold (Mencari kekayaan), Glory (Mencari Kejayaan), dan Gospel (Menyebarkan Agama).
Baca Juga: Sejarah G30 S, Pemberantasan PKI di Banyuwangi yang Berakhir Tragis
Menurut “Pendidikan di Indonesia dari Jaman ke Jaman”, (1979: 37), menerangkan semangat Gospel adalah misi paling penting bangsa Portugis ke Nusantara. Misi gospel tersebut harus sukses karena misi paling mulia.
Hasil penelitian Tim Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI (1979), mencatat sistem pendidikan pada masa Portugis saat ke Maluku berbentuk sekolah misionaris guna menyebarkan agama katolik. Hal ini awal Sejarah Pendidikan Indonesia.
Pendidikan Portugis Berawal dari Pelajaran Agama
Abu Ahmadi, dalam “Sejarah Pendidikan”. (1975: 16), “Setelah Portugis menguasai atau menduduki suatu daerah langkah pertamanya adalah menjadikan penduduk setempat menjadi pemeluk agama Khatolik”.
Pada tahun 1536, Pimpinan Portugis Antonio Galvano, pada masa itu juga Portugis mendirikan sekolah seminari pertama untuk anak-anak dari orang elit pribumi Maluku.
Kurikulum pendidikan Portugis saat itu terdiri dari pelajaran agama Katolik, membaca, menulis, dan berhitung. Selain kepulauan Maluku, sekolah juga ada di pulau Solor dengan murid berjumlah 50 orang.
Dalam perkembangannya, tahun 1506-1552 tokoh Nasrani Franciscus Xaverius pun menyatakan dalam memperluas penyebaran agama nasrani perlu banyak mendirikan sekolah-sekolah. Hal ini menjadi awal mula sejarah pendidikan Indonesia seperti sekarang ini.
Tahun 1536 mendirikan Seminari Ternate yang merupakan sekolah untuk golongan elit. Sementara Portugis menunjuk Goa untuk pendidikan yang lebih tinggi yang juga sebagai pusat kekuasaan Portugis.
Kedatangan Belanda Ke Maluku
Pada tahun 1602, lahir VOC (Verenigde Oostindie Compagnie) yang merupakan kongsi perdagangan untuk Hindia. Lahirnya VOC menggeser kekuasaan Portugis. Unsur-unsur sistem pendidikan maluku yang merupakan warisan Portugis pun ikut hilang. Belanda juga tidak terlalu mementingkan pendidikan dari semangat gospel.
Ary Gunawan dalam bukunya “Kebijakan-Kebijakan Pendidikan di Indonesia”, (1986: 9) mengatakan Belanda lebih mementingkan ekonomi. Ketika berkuasa, Belanda juga lupa dengan agama. Bagi Belanda Kegiatan utamanya adalah berdagang dan mencari keuntungan dari hasil rempah Nusantara. Bukan melakukan misionaris semacam prinsip gospel ala Portugis.
Begitulah sejarah pendidikan Indonesia masa Portugis ke yang layak pahami. Ini merupakan bahan pertimbangan dalam menelaah sejarah pada masa kolonial. (Erik/R9/HR-Online)
Editor: Dadang