Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Sosialisasi stunting untuk memberi pengertian terkait stunting, gejala dini, dan cara pencegahannya kepada masyarakat, terutama kaum ibu dilakukan di Desa Sindangangin, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Kamis (1/10/2020).
Kepala Desa Sindangangin, Nasim, menjelaskan, sosialisasi tersebut dilakukan supaya masyarakat, terutama ibu hamil dan ibu yang mempunyai balita mengetahui tentang cara hidup sehat.
“Sementara sekarang sosialisasi, untuk ke depanya akan ada pemberian gizi bagi anak yang kurang gizi kepada keluarga kurang mampu,” katanya.
Sosialisasi tersebut dihadiri oleh kaum ibu yang mempunyai balita, sementara narasumbernya adalah Kepala Puskesmas Sidaharja dan Ketua BPD LPM.
“Kegiatan ini baru kali ini dilaksanakan dan semoga ke depannya tetap bisa dilaksanakan secara rutin karena ini juga amanat,” katanya.
Nasim berharap program tersebut berkelanjutan agar masyarakat tahu betapa pentingnya berperilaku hidup sehat. Baik di keluarganya maupun di lingkunganya.
“Selain itu harapannya, tidak ada bayi stunting terutama di desa kami,” kata Nasim.
Sosialisasi Stunting
Sementara itu, Kepala TU Puskesmas Sidaharja, Hosnan AMG menjelaskan, stunting merupakan sebuah kondisi dimana tinggi badan orang lebih pendek dari tinggi badan orang lain di usianya,
“Kegagalan tumbuh ini disebabkan pada masa lalu balita kekurangan gizi kronis. Stunting akan terlihat setelah anak berusia 24 bulan ke atas. Anak stunting tidak hanya keluarga miskin akan tetapi dialami juga oleh keluarga yang mampu,” jelasnya.
Penyebab stunting, menurut Hosnan, yaitu akibat praktek pengasuhan yang kurang baik, kurangnya pengetahuan tentang kesehatan gizi sebelum dan masa hamil.
“Enam puluh persen anak tidak mendapatkan ASI eksklusif, pemberian MP-ASI tidak tepat terlalu dini, konsumsi zat besi yang kurang memadai, menurunnya tingkat kehadiran anak ke posyandu, kurangnya akses ke makanan yang bergizi, dan kurangnya air bersih,” katanya.
Gejala stunting sejak dini sudah terlihat, anak menjadi pendiam, pertumbuhan melambat, wajah tampak lebih muda dari usianya, pertumbuhan gigi terlambat, memori belajar terlambat, dan kurang komunikasi.
Hosnan berharap, ibu hamil dan masyarakat dengan adanya sosialisasi tersebut bisa mengerti tentang pentingnya gizi pada anak. Selain itu juga tahu bagaimana merawat gizi anak dengan baik. Selain itu, masyarakat umum juga paham mengenai stunting, dan mampu mencegah terjadinya sunting.
Kepala Puskesmas Sidaharja, drg Emay Marlina menambahkan, dengan keadaan dan situasi sekarang sedang COVID-19, masyarakat harus lebih waspada. Karena banyak kasus OTG yang tidak terlihat.
“Kita juga harus melakukan hal hal yang bisa meningkatkan imun kita. Harapannya semua masyarakat bisa melaksanakan protokol kesehatan dan semoga wabah pandemi COVID-19 segera berakhir,” pungkasnya. (Aji/R7/HR-Online)