Sejarah Kesultanan Cirebon ternyata pernah tersohor di Bumi Nusantara. Kesultanan Cirebon merupakan sebuah kerajaan Islam tersohor yang muncul di wilayah Jawa Barat pada abad ke-15 dan ke-16.
Hal ini karena posisi Kesultanan Cirebon berada di pantai utara pulau Jawa yang merupakan perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Kesultanan Cirebon menjadi pelabuhan dan titik temu kebudayaan Jawa dan Sunda hingga tercipta suatu kebudayaan khas, yakni kebudayaan Cirebon.
Baca Juga: Para Kiai di Balik Pemberontakan Petani Banten Tahun 1888
Sebagai kerajaan yang pernah tersohor di bumi Nusantara, sejarah kesultanan Cirebon layak diketahui. Tidak hanya sebatas proses pendiriannya, namun pula tentang masa kejayaan, perpecahan dan keruntuhannya.
Sejarah Berdirinya Kesultanan Cirebon
Krisna Bayu Adji membahas tentang Kesultanan Cirebon dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Runtuhnya Kerajaan-kerajaan di Nusantara: Mereka yang pernah Berjaya dan Kini tinggal Nama” (2014: 132).
Krisna mengungkapkan, berdasarkan teori Sulendaningrat yang mengacu pada Babad Tanah Sunda dan teori Atja yang mengacu pada Carita Purwaka Caruban Nagari, Cirebon semula merupakan padukuhan kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa.
Ki Gedeng Tapa atau akrab dikenal dengan nama Ki Gedeng Jumajan Jati mendirikan Cirebon pada tanggal 1 Syura 1358 (Tahun Jawa) atau 1445 Masehi. Secara lambat-laun, pedukuhan itu menjadi desa yang banyak dikunjungi oleh para pendatang dari berbagai suku bangsa, agama, bahasa, adat-istiadat, dan mata pencaharian.
Baca Juga: Sejarah G30 S, Pemberantasan PKI di Banyuwangi yang Berakhir Tragis
Menurut catatan Krisna Bayu Adji (2014: 132) nama Cirebon diambil dari kata Caruban. Hal ini tak terlepas dari konteks zaman yang saat itu dipenuhi para pendatang dari berbagai penjuru wilayah dan bercampur (Caruban).
Selain itu dari nama Caruban, beberapa peneliti lain menyebut Cirebon berasal dari kata yang bermakna penamaan pada para penduduk di Caruban yang sering kali menangkap ikan dan rebon (udang kecil) yang kemudian berubah menjadi Cirebon.
Dalam perkembangannya, pedukuhan Caruban atau Cirebon dipimpin oleh seorang Kuwu (Kepala Desa) bernama Ki Gedeng Alang Alang. Sementara yang menjabat sebagai wakilnya (Pangraksabumi) adalah Raden Walangsungsang, putra Prabu Siliwangi dan Nyi Mas Subanglarang (Subangkranjang) yang tak lain puteri dari Ki Gedeng Tapa.
Era Kejayaan Kasultanan Cirebon, Berawal dari Peranan Sunan Gunung Jati
Sepeninggal Raden Walangsungsang, tahta kekuasaan Kesultanan Cirebon jatuh pada Syarif Hidayatullah atau biasa kita kenal dengan nama Sunan Gunung Jati.
Sunan Gunung Jati merupakan putra dari Nyai Rara Santang (Adik Raden Walangsungsang) dan Maulana Sultan Muhammad Syarif Hidayatullah dari Mesir.
Kresna Bayu Adji (2014: 133) juga menyebut, selama menjabat sebagai raja Syarif Hidayatullah (Sunang Gunung Jati) menggunakan gelar Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panatagama Awlya Allah Katubid zaman Khalifatur Rasulullah.
Adapun semasa pemerintahan Syarif Hidayatullah kesultanan Cirebon mengalami masa kejayaan. Namun baru saja kesultanan Cirebon mengalami perkembangan, Syarif Hidayatullah meninggalkan istananya untuk melakukan dakwah di beberapa wilayah di Jawa Barat, semisal Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kalapa, dan Banten.
Ketika Cirebon mengalami kekosongan kekuasaan Fatahillah (Fadillah Khan) naik takhta tahun 1568. Baru dua tahun memerintah, Fatahillah mangkat. Jasad Fatahillah dimakamkan dekat makam Syarif Hidayatullah di Gedung Jinem Astana Gunung Sembung.
Perpecahan dalam Tahta Kesultanan, Penyebab Runtuhnya Kerajaan Cirebon
Ketika Kesultanan Cirebon dipegang oleh pemerintahan Sultan Anom IV (1798-1803). Pada waktu itu, salah seorang putra sultan Anom IV bermaksud untuk memisahkan diri. Selain itu juga membangun kesultanan sendiri dengan nama kesultanan Kacirebonan.
Maksud dari putra Sultan Anom IV itu mendapatkan dukungan dari pemerintah Kolonial Belanda. Hal ini dapat dilihat dari Besluit (Surat Keputusan) dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda, putra Sultan Anom IV tersebut diangkat menjadi Sultan Kacirebonan tahun 1807. Sejak saat itu, bertambah seorang penguasa lagi di Kesultanan Cirebon yakni kerajaan Cirebon yang dipecah dari Kesultanan Kanoman.
Sementara itu tahta Kesultanan Kanoman jatuh pada Sultan Anom Abusoleh Imamuddin (1803-1811), sesudah kemangkatan Sultan Anom IV.
Sesudah peristiwa itu posisi pemerintah kolonial Belanda semakin kokoh di dalam mengintervensi kebijakan di lingkup kesultanan Cirebon. Akibatnya, Kesultanan Cirebon semakin hari semakin mengalami masa surut. Puncak dari masa surut Kesultanan Cirebon terjadi pada tahun 1906-1926.
Begitulah sepenggal sejarah Kesultanan Cirebon yang pernah berjaya di Nusantara. Semoga bermanfaat. (Erik/R7/HR-Online)