Kamis, April 3, 2025
BerandaBerita TerbaruSejarah Kesultanan Cirebon, Kerajaan Tersohor di Bumi Nusantara

Sejarah Kesultanan Cirebon, Kerajaan Tersohor di Bumi Nusantara

Sejarah Kesultanan Cirebon ternyata pernah tersohor di Bumi Nusantara. Kesultanan Cirebon merupakan sebuah kerajaan Islam tersohor yang muncul di wilayah Jawa Barat pada abad ke-15 dan ke-16.

Hal ini karena posisi Kesultanan Cirebon berada di pantai utara pulau Jawa yang merupakan perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Kesultanan Cirebon menjadi pelabuhan dan titik temu kebudayaan Jawa dan Sunda hingga tercipta suatu kebudayaan khas, yakni kebudayaan Cirebon.

Baca Juga: Para Kiai di Balik Pemberontakan Petani Banten Tahun 1888

Sebagai kerajaan yang pernah tersohor di bumi Nusantara, sejarah kesultanan Cirebon layak diketahui. Tidak hanya sebatas proses pendiriannya, namun pula tentang masa kejayaan, perpecahan dan keruntuhannya.

Sejarah Berdirinya Kesultanan Cirebon

Krisna Bayu Adji membahas tentang Kesultanan Cirebon dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Runtuhnya Kerajaan-kerajaan di Nusantara: Mereka yang pernah Berjaya dan Kini tinggal Nama” (2014: 132).

Krisna mengungkapkan, berdasarkan teori Sulendaningrat yang mengacu pada Babad Tanah Sunda dan teori Atja yang mengacu pada Carita Purwaka Caruban Nagari, Cirebon semula merupakan padukuhan kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa.

Ki Gedeng Tapa atau akrab dikenal dengan nama Ki Gedeng Jumajan Jati mendirikan Cirebon pada tanggal 1 Syura 1358 (Tahun Jawa) atau 1445 Masehi. Secara lambat-laun, pedukuhan itu menjadi desa yang banyak dikunjungi oleh para pendatang dari berbagai suku bangsa, agama, bahasa, adat-istiadat, dan mata pencaharian.

Baca Juga: Sejarah G30 S, Pemberantasan PKI di Banyuwangi yang Berakhir Tragis

Menurut catatan Krisna Bayu Adji (2014: 132) nama Cirebon diambil dari kata Caruban. Hal ini tak terlepas dari konteks zaman yang saat itu dipenuhi para pendatang dari berbagai penjuru wilayah dan bercampur (Caruban).

Selain itu dari nama Caruban, beberapa peneliti lain menyebut Cirebon berasal dari kata yang bermakna penamaan pada para penduduk di Caruban yang sering kali menangkap ikan dan rebon (udang kecil) yang kemudian berubah menjadi Cirebon.

Dalam perkembangannya, pedukuhan Caruban atau Cirebon dipimpin oleh seorang Kuwu (Kepala Desa) bernama Ki Gedeng Alang Alang. Sementara yang menjabat sebagai wakilnya (Pangraksabumi) adalah Raden Walangsungsang, putra Prabu Siliwangi dan Nyi Mas Subanglarang (Subangkranjang) yang tak lain puteri dari Ki Gedeng Tapa.

Era Kejayaan Kasultanan Cirebon, Berawal dari Peranan Sunan Gunung Jati

Sepeninggal Raden Walangsungsang, tahta kekuasaan Kesultanan Cirebon jatuh pada Syarif Hidayatullah atau biasa kita kenal dengan nama Sunan Gunung Jati.

Sunan Gunung Jati merupakan putra dari Nyai Rara Santang (Adik Raden Walangsungsang) dan Maulana Sultan Muhammad Syarif Hidayatullah dari Mesir.

Kresna Bayu Adji (2014: 133) juga menyebut, selama menjabat sebagai raja Syarif Hidayatullah (Sunang Gunung Jati) menggunakan gelar Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panatagama Awlya Allah Katubid zaman Khalifatur Rasulullah.

Adapun semasa pemerintahan Syarif Hidayatullah kesultanan Cirebon mengalami masa kejayaan. Namun baru saja kesultanan Cirebon mengalami perkembangan, Syarif Hidayatullah meninggalkan istananya untuk melakukan dakwah di beberapa wilayah di Jawa Barat, semisal Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kalapa, dan Banten.

Ketika Cirebon mengalami kekosongan kekuasaan Fatahillah (Fadillah Khan) naik takhta tahun 1568. Baru dua tahun memerintah, Fatahillah mangkat. Jasad Fatahillah dimakamkan dekat makam Syarif Hidayatullah di Gedung Jinem Astana Gunung Sembung.

Perpecahan dalam Tahta Kesultanan, Penyebab Runtuhnya Kerajaan Cirebon

Ketika Kesultanan Cirebon dipegang oleh pemerintahan Sultan Anom IV (1798-1803). Pada waktu itu, salah seorang putra sultan Anom IV bermaksud untuk memisahkan diri. Selain itu juga membangun kesultanan sendiri dengan nama kesultanan Kacirebonan.

Maksud dari putra Sultan Anom IV itu mendapatkan dukungan dari pemerintah Kolonial Belanda. Hal ini dapat dilihat dari Besluit (Surat Keputusan) dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda, putra Sultan Anom IV tersebut diangkat menjadi Sultan Kacirebonan tahun 1807. Sejak saat itu, bertambah seorang penguasa lagi di Kesultanan Cirebon yakni kerajaan Cirebon yang dipecah dari Kesultanan Kanoman.

Sementara itu tahta Kesultanan Kanoman jatuh pada Sultan Anom Abusoleh Imamuddin (1803-1811), sesudah kemangkatan Sultan Anom IV.

Sesudah peristiwa itu posisi pemerintah kolonial Belanda semakin kokoh di dalam mengintervensi kebijakan di lingkup kesultanan Cirebon. Akibatnya, Kesultanan Cirebon semakin hari semakin mengalami masa surut. Puncak dari masa surut Kesultanan Cirebon terjadi pada tahun 1906-1926.

Begitulah sepenggal sejarah Kesultanan Cirebon yang pernah berjaya di Nusantara. Semoga bermanfaat. (Erik/R7/HR-Online)

Sungai Citalahab di Kertahayu

Sungai Citalahab di Kertahayu Ciamis Meluap, Satu Keluarga Terjebak Banjir

harapanrakyat.com,- Sungai Citalahab di Kertahayu, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, meluap, relawan Sigab Persis Ciamis lakukan evakuasi satu keluarga yang terjebak banjir di...
Kolam Ikan Milik Warga

Hujan Deras di Kota Banjar, Sawah hingga Kolam Ikan Milik Warga Terendam Banjir

harapanrakyat.com,- Hujan deras yang melanda wilayah Kota Banjar, Jawa Barat, pada Rabu (2/4/2025) sore menyebabkan area persawahan hingga kolam ikan milik warga di Dusun...
Anak Sungai Citalahab Meluap

Hujan Mengguyur Pamarican Ciamis Sebabkan Anak Sungai Citalahab Meluap, 12 Rumah Terendam

harapanrakyat.com,- Curah hujan yang terus mengguyur membuat anak Sungai Citalahab di Desa Sukahurip, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, meluap. Akibatnya 12 rumah di...
Pohon Jati Tumbang

Sejumlah Pohon Jati Tumbang Timpa Rumah Warga dan Tutup Jalan di Pamarican Ciamis

harapanrakyat.com,- Hujan disertai tiupan angin kencang menyebabkan sejumlah pohon jati tumbang menimpa rumah dan menutup akses jalan di wilayah Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa...
Jalan Utama Penghubung Jatiwaras

Longsor di Tasikmalaya Tutup Akses Jalan Utama Penghubung Jatiwaras-Salopa

harapanrakyat com,- Akibat hujan deras, jalan utama penghubung Jatiwaras-Salopa longsor. Tepatnya di Kampung Demunglandung, Desa Papayan, Kecamatan Jatiwaras, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (2/4/2025)...
Rumah ludes terbakar Ciamis

Rumah di Ciamis Ludes Terbakar, Diduga Ini Penyebabnya!

harapanrakyat.com,- Sebuah rumah di Lingkungan Karangsari, Kelurahan Maleber, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat ludes terbakar. Kebakaran itu terjadi Rabu (2/4/2025) sore sekitar pukul...