Fenomena langit Ekuinoks bulan September ini tampaknya akan tiba tanggal 22 September 2020 mendatang. Melansir dari EarthSky, kedatangannya akan tiba sekitar pukul 13:31 UTC. Fenomena langit ini terjadi ketika Matahari benar-benar menyinari khatulistiwa.
Kemudian akan mengalami pergerakan dari arah Utara lalu melaju ke bagian Bumi Selatan. Fenomena ini tampaknya akan terjadi pada seluruh dunia. Namun tetap saja untuk waktunya menyesuaikan zona waktu wilayahnya.
Ketika fenomena Ekuinoks bulan ini tiba, siang hari dan malam akan sama panjangnya. Orang-orang belahan Bumi Utara akan menyaksikan matahari terbit seperti biasanya. Namun untuk pergantian malam akan terasa lebih cepat.
Lalu pada bagian selatan daerah khatulistiwa akan memasuki musim semi. Untuk belahan Bumi Utara sendiri masih berada pada cuaca yang dingin. Kemudian hampir memasuki musim gugur untuk tahun ini.
Baca Juga: Fenomena Okultasi Mars Oleh Bulan, Planet Merah yang Bersembunyi
Definisi Fenomena Langit Ekuinoks
Secara astronomis memang akan terjadi sebuah peristiwa yang bernama Ekuinoks. Namun tidak sedikit orang yang bertanya-tanya dan penasaran peristiwa apakah itu?
Sebenarnya Ekuinoks merupakan peristiwa tahunan yang memang terjadi setiap tahun. Fenomena ini tidak menimbulkan dampak apapun. Bahkan tidak memiliki dampak bahaya sama sekali.
Definisi Ekuinoks adalah peristiwa ketika Matahari terbit dari ufuk timur dan terbenam ke arah Barat. Artinya adalah Matahari bergerak secara semu harian tepat pada garis ekuator. Sehingga peristiwa siang dan malam akan terjadi dalam jangka waktu sama.
Secara sekilas penjelasan tersebut merupakan definisi dari fenomena langit Ekuinoks. Kurang lebih jangka waktu antara siang dan malam yakni 12 jam. Lalu mengapa fenomena ini terjadi pada Bumi dan apakah planet lain mengalaminya?
Matahari berpendar dengan cahaya sangat terang, bahkan bisa menyinari beberapa planet sekitarnya. Matahari juga memberikan sinarnya pada Bumi meski tidak secara keseluruhan.
Sinar Matahari yang tidak menyentuh Bumi mengakibatkan bagiannya lebih gelap. Kemudian mengakibatkan terjadinya siang dan malam dengan porsi yang berbeda. Alasannya adalah Bumi tidak berdiri tegap pada sumbu porosnya.
Bumi memiliki kemiringan 23,5 derajat saat berada pada sumbunya. Sehingga ada beberapa wilayah yang mengalami siang lebih panjang, kemudian malam lebih panjang pula. Namun berbeda dengan fenomena Ekuinoks yang akan terjadi.
Adanya perubahan Bumi yang lebih condong ke Matahari membuat musim berubah. Bermula dari peralihan musim dingin ke musim panas untuk belahan Bumi Utara, kemudian ke Bumi Selatan.
Baca Juga: Akibat dari Revolusi Bumi Terhadap Berbagai Fenomena yang Terlihat
Adakah Tanda Dari Fenomena Langit Ekuinoks?
Dalam ilmu astronomi juga menyebutkan ada beberapa tanda dari fenomena Ekuinoks. Sebab, sebelumnya pasti sudah terdapat penelitian mengenai fenomena ini. Hari yang lebih pendek justru membawa cuaca sangat dingin bahkan udaranya pun dingin.
Kemudian akan terlihat juga busur Matahari pada siang hari. Busur ini akan terlihat pada Bumi bagian Selatan. Lalu hewan terbang seperti kupu-kupu dan burung akan melakukan migrasi ke arah Selatan. Tanda selanjutnya adalah pohon dan tanaman akan mengakhiri siklus pertumbuhan.
Lalu tanda yang sudah jelas terjadi pada fenomena langit Ekuinoks adalah siang dan malam. Keduanya akan terjadi dalam waktu dan masa yang sama. Peristiwa seperti ini sudah terjadi selama bertahun-tahun. Sehingga bukan hal baru untuk mengalami fenomena Ekuinoks.
Baca Juga: Fenomena Astronomi Sepanjang Agustus 2020, Ada Apa Saja?
Mengapa Fenomena Ini Bernama Ekuinoks?
Nama Ekuinoks sendiri merupakan serapan dari bahasa Inggris yang bermula Ekuinox. Istilah tersebut berasal dari bahasa Latin yaitu Aquus yang berarti sama. Sedangkan Nox memiliki arti malam sehingga istilah ini berarti malam yang sama.
Maksudnya adalah peristiwa malam dan siang memiliki jangka waktu sama. Namun pada kenyataannya tidak semua wilayah negara mengalami malam dan siang yang sama. Misalnya tidak tepat sampai sekitar 24 jam utuh.
Hal karena setiap wilayah negara memiliki zona waktu dan garis lintang yang berbeda. Bahkan fenomena langit Ekuinoks pada garis ekuator juga tidak mengalami siang dan malam selama 12 jam. Hal ini memang membutuhkan penyesuaian yang tepat.
Sebab, Bumi juga tidak berputar pada posisi tegap. Hal ini sudah pasti membuat beberapa belahan bisa menikmati siang dan malam dengan jangka waktu sama. Meskipun tidak semuanya, namun Ekuinoks ini memberikan sedikit perubahan.
Salah satunya adalah perubahan siang dan malam yang lebih cepat atau lambat daripada biasanya. Fenomena langit Ekuinoks tidak hanya terjadi pada Bumi saja, melainkan planet lainnya. Seperti pada planet Saturnus yang terjadi pada 2009 dan terekam wahana Cassini. (R10/HR Online)