Sabtu, April 5, 2025
BerandaBerita TerbaruSejarah Pertempuran Surabaya dan Kematian Jenderal Mallaby

Sejarah Pertempuran Surabaya dan Kematian Jenderal Mallaby

Sejarah Pertempuran Surabaya, perlu dibahas terutama terkait penyebab dan latar belakang peristiwa yang memulainya. Jika dilihat dari segi kronologi peristiwa, pertempuran di Surabaya merupakan sebuah perlawanan massa kepada Sekutu.

Saat itu tepat pada tanggal 10 Nopember 1945, Surabaya sedang berada dalam kecamuk revolusi. Hampir di setiap sudut Surabaya terdapat jasad yang terdampar, darah yang tergenang, dan asap yang mengepul.

Berawal dari invasi tentara Sekutu yang bergabung dalam AFNEI (Allier Forces for Netherlands East Indische) memiliki misi pengamanan (polisionel) di Indonesia.

Para pejuang di Surabaya mulai curiga bahwa Belanda ikut campur dengan mereka. Setelah dilihat lebih dalam ternyata benar, AFNEI sedang memboncengi Belanda yang terhimpun dalam NICA (Netherland Indies Civil Administrartions).

Sejarah Pertempuran Surabaya

Sebetulnya, jika dilihat lebih jauh, pertempuran Surabaya disebabkan oleh berbagai hal. Salah satunya dendam pada masa pendudukan Jepang di Indonesia tahun 1942-1945.

Menurut K’tut Tantri dalam “Revolt in Paradisce” (1965: 163), menyebut Jepang telah menjanjikan kemerdekaan Indonesia jauh sebelum Sekutu datang.

Baca Juga: Gerakan Ratu Adil: Peran Tokoh Agama Mengusir Kolonial Belanda

Politik Jepang terhadap kemerdekaan Indonesia sebenarnya dipandang dari segi kepentingannya Jepang yang berkeinginan bangsa Indonesia bertekuk lutut di depan Kaisar Jepang.

Hal itu dibantah oleh Sukarno-Hatta yang memiliki jiwa nasionalisme yang kuat. Mereka berdua tak ingin menerima kemerdekaan atas nama pemerintah asing.

Latar Belakang Pertempuran Surabaya

Sejarah Pertempuran Surabaya dilatarbelakangi oleh peristiwa pembebasan tawanan perang Belanda oleh Jepang yang saat itu dilepaskan di tengah dendamnya masa Surabaya.

Terlebih dendam ini memuncak ketika terdapat selebaran kertas yang berserakan di setiap jalan bertuliskan, supaya bangsa Indonesia bersiap-siap menerima kedatangan bangsa Sekutu dalam waktu dekat.

Ibarat mendapat angin segar, para interniran yang sudah dibebaskan dari kamp tahanan Jepang di Surabaya ini semakin berani dengan keadaan. Mereka mengibarkan kembali bendera Belanda. Hal ini tentu saja menimbulkan amarah masa di Surabaya yang terlampau emosi.

Pada tanggal 19 September 1945 terjadilah peristiwa yang disebut dengan “insiden perobekan bendera Belanda” di Hotel Oranye Surabaya.

Baca Juga: Sejarah Pemuda di Indonesia, Berperan Sebelum Masa Kemerdekaan

Dalam sejarah pertempuran Surabaya tercatat, pada hari itu para pejuang merobek setengah warna biru bendera Belanda hingga hanya tersisa merah dan putih. Peristiwa ini kemudian menimbulkan bentrok antara para pemuda Surabaya dan tentara Sekutu.

Dari aksinya di Hotel Oranye, para pemuda di Surabaya semakin berani. Menurut G. Moedjanto dalam “Indonesia Abad ke 20, Jilid I” (1989: 9), telah terjadi peristiwa aksi perampasan senjata api milik Jepang oleh para pemuda di Surabaya.

Hal ini dilakukan untuk membela dan mempertahankan Kemerdekaan dari rongrongan Belanda. Saat itu Belanda ingin menduduki kembali Indonesia pada tanggal 25 Oktober 1945, terutama wilayah Surabaya.

Soejitno, Hardjoesoediro dalam “Dari Proklamasi ke Perang Kemerdekaan” (1987:66), menyebut pada tanggal 27 Oktober 1945 Jenderal Hawthorn (panglima Sekutu) untuk Jawa, Madura, Bali, dan Lombok, telah menyebarkan pamflet ultimatum yang berisi perintah supaya rakyat Surabaya menyerahkan senjata-senjatanya kepada Sekutu.

Peristiwa ini dianggap sebuah penghinaan terhadap bangsa Indonesia yang baru merdeka. Dari sanalah awal sejarah pertempuran Surabaya.

Penghinaan tersebut ditanggapi pula oleh Komando Divisi TKR di Surabaya yang mengeluarkan perintah serbuan umum kepada Sekutu petang itu, sehingga terjadilah pertempuran hebat.

Dampak Pertempuran Surabaya

Dari rencana penyerbuan yang dikomandoi Divisi TKR di Surabaya yang tak disebutkan namanya itu, terjadilah pertempuran hebat yang menewaskan Brigadir Jenderal Mallaby.

Pertempuran ini dimulai pada tanggal 27 malam sampai dengan 30 Oktober 1945. Pertempuran itu dikenal dengan pertempuran tiga hari di Surabaya.

Pertempuran Surabaya diketahui puncaknya terjadi pada tanggal 10 Nopember 1945. Pada tanggal yang sama hingga saat ini selau dirayakan dengan hari Pahlawan bagi bangsa Indonesia.

Akhir Pertempuran Surabaya

Setelah terbunuhnya Jenderal Mallaby, sejarah pertempuran Surabaya mencatat hal itu menjadi pemicu beberapa kekacauan di Surabaya.

Roeslan Abdul Gani dalam “100 Hari di Surabaya yang Menggemparkan Indonesi” (1974: 62), menyebut kematian Brigadir Jenderal Mallaby telah mendatangkan berbagai reaksi. Termasuk juga komentar dari berbagai surat kabar, antara lain di London, New York, Washington, Australia, dan India.

Sementara pada tanggal 31 Oktober 1945 Letnan Jenderal Sir Philip Christison panglima AFNEI memberi reaksi yang keras terhadap peristiwa tersebut.

Ia melukiskan peristiwa tersebut sebagai pembunuhan keji atau Foul Murder. Dia pun mengubah kebijakannya menjadi perubahan sikap terhadap kebijaksanaan Inggris di Jawa atau A new Turn to the Situation in Java.

Begitulah sejarah pertempuran Surabaya yang patut dihargai sebagai momentum sejarah perjuangan bangsa di Indonesia. (Erik/R7/HR-Online)

Sejarah Tumenggung Kopek, Jejak yang Penuh Misteri

Sejarah Tumenggung Kopek, Jejak yang Penuh Misteri

Tidak semua tokoh besar mendapat tempat dalam buku sejarah Indonesia. Beberapa nama tetap hidup melalui cerita lisan yang diwariskan turun-temurun. Sejarah Tumenggung Kopek adalah...
Nissan Micra EV 2025, Transformasi Ikonik ke Era Listrik

Nissan Micra EV 2025, Transformasi Ikonik ke Era Listrik

Nissan baru saja memperkenalkan generasi terbaru dari Nissan Micra EV 2025. Mobil Nissan terbaru tersebut kini bertransformasi menjadi kendaraan listrik sepenuhnya. Nissan Micra atau...
Pemandian Air Panas

Menikmati Wisata Pemandian Air Panas Cileungsing Sumedang Saat Libur Lebaran

harapanrakyat.com,- Obyek wisata Pemandian Air Panas Cileungsing di Cilangkap, Kecamatan Buahdua, Sumedang, Jawa Barat, kembali menarik ribuan wisatawan pada libur Lebaran 2025. Destinasi wisata ini...
Obyek Wisata Sepi Pengunjung

Obyek Wisata Sepi Pengunjung Saat Libur Lebaran, Wali Kota Banjar: Perlu Ada Perubahan

harapanrakyat.com,- Wali Kota Banjar, Jawa Barat, Sudarsono, menanggapi perihal sejumlah obyek wisata sepi pengunjung pada momen libur Lebaran 2025. Sudarsono mengatakan, Pemerintah Kota Banjar ke...
Ulefone Armor 30 Pro Rilis dengan Inovasi dan Fitur Canggih

Ulefone Armor 30 Pro Rilis dengan Inovasi dan Fitur Canggih

Ulefone baru saja merilis Armor 30 Pro, sebuah smartphone tangguh yang menggabungkan daya tahan luar biasa dengan teknologi terkini. Dirancang khusus untuk pengguna yang...
Pergerakan Tanah di Neglasari

Pergerakan Tanah di Neglasari Ciamis, Sejumlah Rumah dan Jalan Desa Alami Kerusakan

harapanrakyat.com,- Akibat adanya pergerakan tanah di Neglasari, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, beberapa rumah warga mengalami kerusakan. Selain itu, ruas jalan desa juga mengalami...