Para ilmuwan Amerika berhasil menemukan teknik rapid test Corona baru dengan menggunakan air liur. Temuan ini memungkinkan untuk melakukan tes Covid-19 dalam skala besar dengan cepat dan valid.
Para tenaga medis belakangan sering menggunakan Rapid test atau tes cepat untuk mendeteksi seseorang tertular atau tidaknya virus Corona. Alat tes ini berguna untuk mencegah penularannya dengan melakukan isolasi atau perawatan di rumah sakit.
Namun alat rapid test yang ada saat ini dengan cara mengambil sampel darah penderita. Namun hasil tes ini sering tidak akurat sehingga perlu mengikuti test lainnya seperti swab test.
Swab test sendiri memakai pola pemeriksaan dengan cara mengusap bagian nesofaring pada hidung atau langit-langit mulut. Kemudian sampel dari hidung itu diperiksa di laboratorium. Namun sejumlah pihak menganggap cara ini agak ribet dan hasilnya membutuhkan waktu yang agak lama.
Alternatif Rapid Test Corona Baru
Menghadapi tantangan kebutuhan adanya alat tes yang cepat dan massal, para ilmuwan dari University of Illinois Amerika Serikat akhirnya menemukan solusinya. Metode baru itu dengan sebutan rapid test saliva.
Berbeda dengan tes swab yang melakukan usap nasofaring yang berbelit, rapid test Corona baru ini hanya dengan mengambil sample air liur. Cara ini tentu sangat mudah dan bisa melakukan pemeriksaan cepat dengan jumlah orang hingga puluhan ribu dalam sehari.
Baca juga: Arti Reaktif Covid-19 Berdasarkan Rapid Test, Ini Penjelasannya
Orang yang akan mengikuti tes cukup dengan mengeluarkan sedikit air liur dan kemudian memasukkannya ke dalam tabung reaksi steril. Selanjutnya sampel air liur akan langsung mendapat analisa dan bisa mengetahui hasilnya dalam beberapa menit.
“Rapid test Corona baru melalui air liur ini bisa mengatasi kendala waktu, biaya, dan sumber daya. Alat baru ini mempunyai fitur unik yang memungkinkan tes cepat dan sering dalam skala besar,” kata Dr Martin Burke, mengutip dari laman Scitech Daily.
Memproduksi Secara Massal
Profesor kimia dari University of Illinois yang ikut merancang alat tes ini juga menyatakan kemampuan alat ini dalam memberikan hasil secara cepat dan akurat. Rencananya, kata Burke, pihaknya akan memproduksi alat ini secara massal agar tersedia secara luas.
Baca juga: Kriteria Pasien Sembuh Corona, Tanpa Melakukan 2 Kali Tes Swab
Alat tes Covid-19 baru yang berbasis air liur ini kabarnya telah mendapat persetujuan dari lembaga Food and Drug Association (FDA) Amerika Serikat. Karena itulah alat tes ini bisa beredar secara luas.
Temuan teknik rapid test Corona baru ini sangat menggembirakan di tengah makin meluasnya pandemi Corona di berbagai negara di seluruh dunia. Amerika Serikat sebagai negara terbanyak jumlah kasus Covid-19 telah melibatkan banyak ilmuwan untuk mengatasinya.
Kehadiran alat tes cepat untuk virus Corona ini sangat penting. Karena, menurut Rebecca Lee Smith, profesor patobiologi Universitas Illinois, virus corona sangat cepat menular dari tubuh seseorang yang terinfeksi.
“Begitu seseorang terinfeksi, jumlah virus akan meningkat sangat cepat pada tubuh. Dengan melakukan tes cepat, seseorang yang terpapar bisa segera mendapat pertolongan sebelum menjadi parah dan menularkan kepada orang lain,“ katanya.
Kemampuan Alat Rapid Test Corona Baru
Selain berguna untuk penanganan cepat, hasil tes yang cepat juga penting agar orang yang terpapar tidak akan menularkannya kepada orang lain. “Semakin cepat mengetahui hasil tes, maka semakin cepat kita dapat menghentikan penyebarannya,” tambahnya.
Baca juga: Jenis Alat Test Covid-19 yang Wajib Anda Tahu
Alat rapid test Corona baru hasil temuan para ahli University of Illinois, Urbana Amerika Serikat ini kabarnya mampu melakukan pengujian terhadap 20.000 orang dalam waktu sehari saja.
Penemuan alat rapid test Corona baru ini, menurut Rebecca Lee Smith, ternyata merupakan bagian dari strategi penting menghadapi pandemi Covid-19. Strategi mereka mencakup tiga tahapan pelaporan data, pemodelan, dan penggunaan aplikasi.
Dengan alat rapid test Corona baru, mereka melakukan langkah dengan memberi istilah “target, uji, beri tahu”. Para ilmuwan itu bekerja sama dengan lembaga kesehatan setempat melakukan pelacakan kontak dan isolasi bagi individu yang terbukti positif terinfeksi corona. (R11/HR-Online)