Malam 1 Suro penuh mistis karena banyak ritual yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jawa. Dalam kalender Jawa, 1 Suro adalah hari pertama di bulan Suro atau Sura yang bertepatan dengan tanggal 1 Muharram dalam kalender Hijriah.
Malam 1 Sura sudah ada sejak masa kejayaan Sultan Agung Hanyokrokusumo di daerah Kerajaan Mataram Islam. Sultan Agung ingin memperluas ajaran agama Islam di pulau Jawa.
Ia pun memadukan penanggalan dalam kalender Hijriah dengan penanggalan kalender warisan Hindu. Malam satu Sura memang dikenal sakral, penuh mistis, dan dianggap keramat.
Biasanya malam 1 Sura diperingati setelah waktu Magrib di hari sebelum masuk tanggal 1 Muharram atau 1 Suro. Masyarakat tanah Jawa percaya bahwa di malam tersebut Aji Saka bakal datang.
Aji Saka dipercaya mampu membebaskan manusia dari gangguan makhluk ghaib. Karena itulah, untuk memperingati malam 1 Sura banyak ritual yang dilakukan oleh masyarakat Jawa.
Saat tiba malam 1 Muharram ini, ada lima ritual yang biasa dilakukan oleh masyarakat. Apa saja ritualnya? Berikut ini penjelasannya yang dirangkum HR Online dari berbagai sumber.
Malam 1 Suro Penuh Mistis dengan Sederet Ritualnya
Siraman
Masyarakat di tanah Jawa biasa menyambut malam 1 Sura ini dengan beragam tradisi. Salah satunya melakukan siraman. Pada malam ini, siraman yang dilakukan adalah mandi besar. Air untuk siraman menggunakan bunga atau kembang setaman.
Hal ini merupakan bentuk “sembah raga”, tujuannya untuk menyucikan diri sekaligus sebagai tanda diawalinya bulan Muharram atau Sura.
Ketika melakukan siraman diharuskan sambil membaca do’a, serta memohon kepada Tuhan agar kita senantiasa diberi keselamatan dari segala bencana, musibah, kecelakaan, dan juga berbagai hal buruk lainnya.
Ritual siraman ini dimulai dengan membasuh badan sebanyak 7 kali dari ujung kepala. Tapi, bisa juga sebanyak 11 kali sampai 17 kali.
Baca Juga : Malam 1 Sura dan Mitos-mitos yang Menyelimutinya
Siraman ini baiknya dilakukan tidak di dalam rumah. Jadi sebaiknya dilakukan di bawah langit dengan maksud untuk mempersatukan jiwa dan raga kita dengan alam semesta.
Tapa Mbisu (Membisu)
Malam 1 Suro penuh mistis dan ritual lain yang biasa dilakukan ialah Tapa Mbisu, yakni menjaga lisan. Artinya, aalam ritual ini kita diharuskan menjaga ucapan. Cukup mengatakan hal-hal baik saja.
Sebab, dalam bulan Suro ini do’a-do’a akan lebih mudah terwujud. Karena itulah, pada malam keramat ini jangan sampai ada masyarakat yang berkata hal-hal tidak baik. Karena, hal jelek itu bisa saja terwujud lantaran sudah terucapkan langsung dari mulut kita.
Berziarah
Pada bulan Muharram ini, biasanya masyarakat Jawa lebih menggiatkan untuk berziarah ke makam-makan leluhurnya yang sudah banyak berjasa.
Selain medo’akan hal-hal baik, malakukan ziarah juga menjadi salah satu bentuk bahwa kita hormat terhadap leluhur-leluhur kita.
Bagi masyarakat Jawa, malam 1 Suro penuh mistis lantaran makam menjadi tempat bersejarah dan dapat dijadikan sebagai tempat atau sarana penghormatan.
Oleh karena itu, makam-makam dari para leluhur suku Jawa ini sangat dihormati, dan tentunya selalu dirawat dengan baik.
Sesaji Bunga Setaman
Malam 1 Sura penuh mistis karena banyak ritual yang biasa dilakukan masyarakat, khususnya di tanah Jawa ini. Salah satunya menyediakan sesaji bunga setaman.
Selain dipakai untuk siraman, bungan jenis tersebut dipersiapkan dalam sebuah wadah yang bersih berisikan air bening. Kemudian disimpan di dalam rumah.
Sama halnya seperti ziarah, ritual sesaji bunga setaman ini untuk penghormatan kepada leluhur-leluhur yang telah banyak berjasa. Ritual sajian bungan setaman juga memiliki makna, sesuai dengan beragam jenis bunga yang telah disiapkan.
Jenis bunga yang disajikan meliputi bunga kantil, mawar putih, mawar merah, melati, dan bunga kenanga. Semua jenis bunga tersebut punya do’a-do’a agung kepada Tumah, serta di dalamnya teriras makna.
Memandikan Barang Pusaka
Malam 1 Sura penuh mistis di mana masyarakat Jawa yang punya barang pusaka, seperti halnya keris, akan memandikannya. Mereka percaya jika keris atau barang pusaka yang dimandikan saat malam 1 Suro bakal membawa kebaikan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Bagi masyarakat Jawa, benda pusaka merupakan keterampilan serta karya cipta bidang seni dari para leluhur. Karya tersebut mempunyai falsafah hidup yang begitu tinggi, sehingga sepatutnya untuk dihormati.
Oleh karena itu, malam 1 Muharram atau Sura adalah waktu yang sakral dan baik untuk memandikan beragam benda pusaka. (Eva/R3/HR-Online)