Berita Pangandaran (harapanrakyat.com).- Di Desa Putrapinggan, Kecamatan Kalipucang, Pangandaran, terdapat dua buah tebing bekas jembatan kereta api peninggalan Belanda.
Dua tebing tersebut berada diantara jalan lingkungan blok Ciawitali, Dusun Karangsari, Desa Putrapinggan.
Dulunya, diatas tebing tersebut terdapat jembatan kereta api peninggalan penjajah Belanda.
Jalur kereta api saat itu sampai ke Kabupaten Pangandaran. Namun saat ini, jembatan kereta itu tinggal sebuah cerita.
Warga setempat Saepudin mengatakan, sejak tahun 1983 jalur kereta api menuju Pangandaran sudah tidak beroperasi.
Sekitar tahun 2004 silam tim yang berasal dari Daop 2 Bandung mencopot keberadaan rel kereta di dua jembatan yakni jembatan Cipanerekean dan di jembatan Ciawitali.
“Barang berupa rel kereta api tersebut selanjutnya dibawa ke Madiun,” ujar Saepudin, Kamis (6/8/2020).
Yang tersisa saat ini hanya bekas bangunan jembatannya saja.
Lanjutnya, keberadaan tebing bangunan bekas jembatan kereta api di dusun Karangsari tersebut sempat diajukan oleh warga untuk diratakan dan dipugar untuk melebarkan badan jalan.
Namun sebagian tokoh masyarakat menolak dengan argumentasi yang kuat dan bisa dimengerti oleh warga.
Para tokoh menyebut, jembatan tersebut merupakan salah satu bukti peninggalan sejarah para leluhur kabupaten Pangandaran.
“Jembatan tersebut dibuat oleh rakyat Indonesia termasuk warga masyarakat kabupaten Pangandaran pada saat penjajahan jaman Belanda,” jelas Saepudin.
Sejarah yang tersisia di Putrapinggan ini kata dia, diharapkan bisa memotovasi generasi penerus agar ke depan bisa lebih mencintai kabupaten Pangandaran, menginggat banyak sejarah di kabupaten Pangandaran yang salah satunya sebuah jembatan kereta api .
Sementara itu Juhen warga desa Putrapinggan lainnya menuturkan, jembatan bekas rel kereta api itu merupakan bukti sejarah yang perlu dijaga.
Kata diam, panjang jembatan Cipanerekean kurang lebih mencapai 100 meter sementara panjang jembatan di blok Ciawitali kurang lebih antara 15 sampai 20 meter.
“Kedua bekas jembatan rel kerera apu tersebut sampai saat ini bangunannya masih ada berdiri kokoh mesti kelihatannya sudah kusut seperti lapuk di makan usia,” pungkas Juhen. (Entang/R8/HR Online)