Sampah elektronik menjadi masalah baru di balik semakin pesatnya kemajuan teknologi. Sampah ini juga berpengaruh terhadap pencemaran lingkungan.
Sebelumnya, sampah plastik telah menjadi sorotan banyak pihak karena telah mengganggu berbagai ekosistem bumi.
Salah-satu yang menjadi sorotan terbesar misalkan, menumpuknya sampah di berbagai Negara di tengah laut, hingga nampak seperti pulau.
Hal ini telah mendapat perhatian berbagai pihak yang peduli terhadap lingkungan dan sampai hari ini permasalahannya masih belum selesai.
Tidak disadari masalah baru muncul. Barang bekas elektronik yang semakin menumpuk dan berpotensi mencemari lingkungan, bahkan lebih parah.
Komponen yang ada kebanyakan merupakan campuran dari bahan kimia atau bahan-bahan yang berbahaya untuk manusia, terutama kesehatannya.
Sampah Elektronik Semakin Meningkat
Berdasarkan laporan terbaru dari The Global E-waste Statistic Partnership, limbah ini sudah mencapai 53,6 juta ton.
Jumlah ini meningkat 9,2 juta ton dari laporan terakhir pada tahun 2014. Kabar buruknya dari sekian banyaknya hanya sekitar 17,4 persen yang dapat dikelola.
Vanessa Forti dari UN University, yang merupakan bagian dari The Global E-waste menyayangkan hal ini, karena proses daur ulang yang sulit.
“Saya berharap dapat melakukan hal terbaik dalam melakukan daur ulang terhadap limbah elektronika ini,” katanya.
Penyebab peningkatan drastis ini beriringan dengan semakin pesatnya kemajuan dan persaingan pasar teknologi.
Seperti persaingan dan pemasaran smartphone misalnya, dalam beberapa tahun belakang peningkatannya sangat pesat berikut persaingan antar vendor.
Adanya trend baru yang terus menyesuaikan dengan kebutuhan zaman ikut memancing dan meningkatkan daya beli konsumen.
Baca juga: Hati-hati! Perangkat Elektronik Bisa jadi Penyebab Kanker Pada Tubuh
Deretan Bahaya E-Waste
Sampah elektronik bisa disebut juga E-Waste memiliki beragam bahaya ketika dibiarkan begitu saja tanpa ada pengolahan yang serius.
Kandungan di dalamnya seperti logam merkuri, timbal, kromium, Kadmium, PBDE dan polybrominated biphennyls (PBB) sangat berbahaya untuk tubuh manusia dan lingkungan.
Berikut ini beberapa uraian bahaya yang dapat ditimbulkan dari zat-zat yang terkandung dalam barang elektrik ketika sudah menjadi sampah dan tidak diolah.
1. Logam Merkuri
Logam merkuri sebagai salah satu zat yang terkandung di dalam sampah elektronik sebenarnya sudah tidak asing lagi, senyawa kimia ini biasa juga disebut air raksa (Hg).
Ketika seseorang mengalami kontak langsung dengan zat ini, berpotensi menderita berbagai jenis penyakit yang berbahaya.
Merkuri bersifat korosif pada kulit sehingga dapat membuat kulit semakin menipis, terlebih lagi ketika terkena paparan lebih tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada saluran pencernaan dan ginjal.
Senyawa kimia ini juga bisa menguap, sehingga ketika sampah elektronik tidak terkelola bisa berpotensi menguapkan logam merkuri dan mencemari udara.
2. Timbal
Seperti halnya logam merkuri, timbal juga membahayakan ketika terhirup oleh manusia, kandungan timbal ada pada alat-alat elektronik.
Bahaya yang ditimbulkan oleh timbal, atau kondisi dimana seseorang sudah mengalami keracunan timbal adalah ketika zat ini sudah menumpuk dalam tubuh.
Oleh karena itu, resiko bisa menjadi lebih besar seiring dengan semakin meningkatnya jumlah di berbagai belahan dunia.
3. Kromium
Kromium juga dapat menyebabkan seseorang keracunan. Paparan kromium banyak terjadi kepada para pekerja lapisan logam berat.
Seperti pada laporan penelitian Yuliani Setyaningsih, SKM., M.Kes. salah seorang Dosen di FKM Undip yang berhasil menemukan kerusakan DNA pada para pekerja pelapisan logam.
Penyebabnya adalah para pekerja terlalu sering terpapar kromium, sehingga terjadi perubahan oksidatif protein yang pada akhirnya merusak DNA.
“Terdapat pengaruh bersamaan antara kadar kromium dan kadar Malondialdehid (MDA), penyebab pekerja pelapis logam mengalami kerusakan DNA,” katanya.
Baca juga: Warga Lakbok Ciamis Ini Menyulap Sampah Plastik Jadi Barang Berharga
4. Kadmium
Zat pada sampah elektronik selanjutnya adalah Kadmium. Zat ini berhubungan dengan berbagai penyakit, seperti kanker payudara, ginjal, paru-paru, prostat dan kantung kemih bahkan reproduksi.
Pada dasarnya zat ini digunakan pada proses penyepuhan listrik seperti pada baterai, televisi dan laboratorium.
Oleh karena itu, seperti bisa dipastikan kalau kadmium ada pada setiap teknologi yang banyak digunakan saat ini.
Bahaya dari zat ini sempat dialami oleh china sebagai dampak dari semakin pesatnya kemajuan teknologi.
5. PBDEs
Polybrominated Diphenyl Ethers atau PBDEs merupakan senyawa kimia yang biasa digunakan untuk membuat bahan tahan api.
Senyawa ini sudah banyak digunakan untuk membuat barang-barang yang sering kita gunakan, seperti produk tekstil sampai pembungkus kabel.
Masalah dari senyawa ini lebih banyak muncul dan menjadi perhatian karena proses daur ulang sampah yang mengandung plastik tidak tepat sehingga dapat mencemari lingkungan bahkan mengganggu kesehatan.
Itulah beberapa persoalan seputar sampah elektronik dari mulai jumlahnya yang semakin meningkat yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan. (Muhafid/R6/HR-Online)