Kemampuan virus Corona Covid-19 dalam membunuh manusia masih simpang siur. Ada yang mengatakan virus Corona sangat mematikan sehingga banyak pasien terpapar yang meninggal. Namun ada juga yang mengatakan tidak berbahaya.
Salah satunya seperti dilontarkan drh Indro Cahyono saat berbincang dengan artis Luna Maya. Dalam video yang dipublikasikan di channel Youtube, Indro mengatakan bahwa virus Corona tidak mematikan.
Dalam pernyataan yang sempat memicu pro dan kontra itu, dokter hewan itu menilai bahwa hingga saat ini belum pernah ditemukan satu pun kasus pasien Covid-19 meninggal yang murni akibat virus SARS-Cov-2.
Banyaknya pasien Covid-19 yang meninggal lebih disebabkan komplikasi dengan penyakit lain yang telah diderita pasien sebelum terpapar. Komplikasi inilah yang menyebabkan kematian dan bukan karena sebab tunggal virus Corona Covid-19.
Mekanisme Serangan Virus Corona Covid-19
Hingga saat ini pandemi Covid-19 telah menginfeksi 6 juta orang lebih di 216 negara di seluruh dunia dengan jumlah meninggal lebih dari 370 ribu orang. Di Indonesia sendiri hingga Minggu (07/06/2020) terdapat 31.186 korban positif Covid-19 dengan angka meninggal 1.851 orang.
Dikutip dari laman scitechdaily.com, sejumlah ahli dari Zunyi Medical University, China berusaha mengungkapkan mekanisme serangan virus Corona Covid-19 sehingga menyebabkan banyak kematian. Analisa tersebut diterbitkan di jurnal Frontiers in Public Health.
Tim ahli itu melakukan kajian epidemiologi, jalur serangan penyakit, gejala yang ditimbulkan, diagnosis, hingga jenis pengobatan terbaru yang diberikan untuk pasien Covid-19 dengan kondisi yang parah.
Dari hasil riset itu mereka menemukan adanya peran kunci yang berpotensi menyebabkan kematian para pasien Covid-19 tersebut. Peran itu justru terletak dari reaksi sistem kekebalan tubuh yang terjadi secara berlebihan.
Tahapan proses serangan virus Corona Covid-19 ke dalam tubuh manusia juga dijelaskan para ahli tersebut. Setelah menginfeksi saluran pernafasan, virus kemudian berkembang biak di dalam sel.
Saat virus SARS-Cov-2 menginvasi sel-sel, tubuh akan melakukan reaksi melalui sistem imunitas tubuhnya. “Dalam kasus yang parah, imunitas melakukan pertahanan secara berlebihan yang menyebabkan terjadinya ‘badai sitokin’,” kata para ahli itu.
Virus Corona Covid-19 Memicu Sindrom Badai Sitokin
Badai sitokin, menurut Profesor Daishun Liu, merupakan respon dan aktivasi secara berlebihan dari sel darah putih terhadap serangan virus. Sel putih akan melepaskan terlalu banyak sitokin ke dalam darah.
Sitokin adalah molekul yang merangsang terjadinya peradangan. Badai sitokin karena infeksi virus Corona Covid-19 ini kemudian juga memicu demam tinggi maupun terjadinya kebocoran secara berlebihan pada pembuluh darah.
Badai sitokin juga menyebabkan tekanan darah menjadi sangat rendah, darah mengalami pembekuan, asam darah meningkat tajam, darah kekurangan oksigen, dan akhirnya menyebabkan penumpukan cairan dalam paru-paru yang disebut efusi pleura.
“Ini mirip dengan apa yang terjadi pada kasus infeksi yang terjadi pada SARS dan MERS. Kematian pasien dengan COVID-19 yang parah mungkin akibat sindrom badai sitokin ini,” kata Profesor Daishun Liu.
Menurut guru besar kedokteran di Zunyi Medical University China ini, besarnya jumlah sitokin yang dilepaskan juga akan menarik lebih banyak sel-sel kekebalan seperti limfosit dan neutrofil.
Reaksi inilah yang kemudian mengakibatkan terjadinya infiltrasi sel-sel ini ke dalam jaringan paru-paru. Kondisi ini pun yang menyebabkan terjadinya cedera paru-paru.
Reaki sel darah putih yang salah arah dalam melawan infeksi virus Corona Covid-19 dapat mengorbankan jaringan tubuh yang sehat. Kondisi ini pula yang menyebabkan MODS atau Multiple Organ Dysfunction Syndrome.
Sindrom MODS menyebabkan terjadinya kegagalan sejumlah organ vital, dari paru-paru, jantung, usus, hati dan ginjal. Jika sindrom MODS memburuk akan menyebabkan ARDS atau Acute Respiratory Distress Syndrome.
ARDS terjadi karena paru-paru yang tak berfungsi lagi. Kondisi ini terjadi akibat terbentuknya membran hialin dari puing-puing sisa protein dan sel-sel mati yang melapisi paru-paru. Akibatnya, paru-paru kesulitan menyerap oksigen.
Kondisi kegagalan pernafasan inilah yang menyebabkan sebagian besar kasus kematian pada pasien COVID-19. Apalagi belum adanya obat Covid-19 sehingga perawatan infeksi virus Corona Covid-19 harus dilakukan untuk melawan gejalanya. (R11/HR-Online)