Penggunaan tes swab Covid-19 untuk mendeteksi orang yang terinfeksi virus Corona dinilai jauh lebih akurat ketimbang dengan rapid tes. Namun proses mengambil sampel tes swab dengan mengusap nasofaring penderita bukanlah pengalaman yang menyenangkan.
Untuk mendapatkan sampel, petugas kesehatan dituntut harus teliti dan hati-hati dalam mengikis bagian dalam rongga hidung dan tenggorokan. Sampel inilah yang akan diperiksa dengan mikroskop untuk memastikan ada tidaknya virus Corona pada seseorang.
Tes swab Covid-19 juga populer dengan sebutan tes PCR atau Polymerase Chain Reaction. Meskipun dinilai hasilnya lebih akurat, namun sejumlah negara mengeluhkan adanya kendala dalam pelaksanaan tes ini.
Dikutip dari laman scitechdaily.com, para ilmuwan dari Universitas Chicago tengah meneliti kemungkinan penggunaan tes berbasis air liur untuk deteksi Covid-19. Tes air liur dianggap sebagai alternatif yang lebih simpel dan efektif untuk swab nasofaring.
Air Liur untuk Tes Swab Covid-19
Virus SARS-Cov-2 yang menyebabkan Covid-19 merupakan jenis penyakit yang menyerang sistem pernafasan bagian atas. Virus ini akan menetap pada hidung dan sinus. Karena itu menyeka nasofaring menjadi metode utama untuk pengujian infeksi.
Peralatan medis yang digunakan dalam pengujian sampel ini didasarkan pada teknik yang disebut qPCR. Hampir semua negara yang menggunakan metode ini menerapkan metode yang hampir sama. Apalagi teknik ini juga telah digunakan selama bertahun-tahun.
Baca juga: Biaya Tes Swab Corona Bisa Gratis? Berikut Penjelasannya
Namun metode qPCR untuk tes swab Covid-19 dinilai memiliki kelemahan seperti pada orang tanpa gejala namun membawa virus Corona.
“Orang dengan Covid-19 tetapi tanpa gejala mungkin karena jumlah virusnya kecil sehingga tidak terdeteksi pada tes,” kata Prof Jeremy Segal, ahli patologi Universitas Chicago.
Karena itu sangat penting ada tes yang mampu mendeteksi orang semacam ini. Sebab mereka pun bisa menyebarkan virus Corona. Untuk itulah tim peneliti Universitas Chicago mencoba teknik yang lebih akurat.
Saat ini para ilmuwan itu tengah menguji sistem deteksi yang disebut droplet-digital PCR atau ddPCR pada tes swab Covid-19. “Cara ini bisa memberi ukuran kuantitatif tentang jumlah virus yang ada,” tambah Segal.
Sistem tes baru ini secara teori dinilai lebih sensitif daripada qPCR. Tes ddPCR ini bahkan tetap bisa menghasilkan pembacaan positif, meskipun virus yang terdapat dalam sampel jumlah lebih rendah.
“Anda bisa membiarkan orang untuk mengumpulkan sampel mereka sendiri, karena semua orang tahu bagaimana cara meludah,” kata Prof Evgeny Izumchenko, peneliti lain yang juga ahli genetika Kedokteran Universitas Chicago.
Metode ddPCR Sudah Diuji Maret Lalu
Sampel tes swab Covid-19 yang digunakan dalam metode ddPCR adalah air liur penderita yang ditampung dalam sebuah wadah. Teknik ini dinilai lebih efisien karena tidak perlu membuat repot petugas medis dalam mengusap nasofaring pada teknik qPCR.
Baca juga: Jenis Alat Test Covid-19 yang Wajib Anda Tahu
Pengujian terhadap metode ddPCR untuk mendeteksi orang dengan Covid-19 telah dilakukan Universitas Chicago di Illinois pada Maret dan April lalu. Pengujian dilakukan bekerja sama dengan laboratorium di Sekolah Teknik Molekuler Pritzker.
Dalam pengujian tes swab Covid-19 ini, peneliti mengambil sampel dengan dua teknik, yaitu swab nesofaring seperti pada tes qPCR dan menyuruh orang meludah yang ditampung dalam wadah untuk ddPCR. Kedua sampel inilah yang dibandingkan hasilnya.
Hasilnya, selain lebih akurat para peneliti juga menemukan tingkat variabilitas menyangkut jumlah virus orang yang dinyatakan positif. “Jumlah virus yang terdeteksi pada pasien positif bervariasi hingga satu juta kali lipat,” kata Segal.
Baca juga: Arti Reaktif Covid-19 Berdasarkan Rapid Test, Ini Penjelasannya
Penerapan metode ddPCR terhadap sampel air liur, menurut Izumchenko, juga mampu memberikan indikasi awal yang lebih nyata bahwa seseorang mungkin terinfeksi virus Corona meski tanpa gejala dibandingkan dengan swab hidung.
Adanya tingkat variabilitas jumlah virus orang yang terinfeksi pada tes swab Covid-19 dengan air liur juga menarik perhatian para peneliti. Karena itu mereka juga berencana akan mengujinya pada pasien yang telah dinyatakan sembuh. (R11/HR-Online)