Masalah pengelolaan keuangan usaha bisa dibilang gampang-gampang susah. Mungkin memang gampang secara teori, namun agar keuangan usaha menjadi sehat dibutuhkan niat dan semangat enterpreuner yang kuat.
Kelompok usaha kecil atau UKM merupakan pihak yang kerap dianggap bermasalah dalam manajemen bisnisnya. Utamanya lagi dalam aspek keuangan bisnisnya. Karena itulah UKM sering dianggap tak bankable untuk mengakses permodalan dari bank.
Padahal, usaha kecil dan menengah dianggap sebagai ‘lokomotif perekonomian bangsa’. UKM bukan hanya berperan dalam menumbuhkan ekonomi, namun juga penting dalam pemerataan. Karena kemampuannya dalam menyerap banyak tenaga kerja.
Kelemahan Pengelolaan Keuangan Usaha Kecil
Aspek permodalan dan pengelolaan keuangan usaha merupakan problem mendasar yang umum ditemukan pada usaha kecil. Berikut ini beberapa kesalahan umum yang dilakukan pelaku usaha kecil dalam mengelola keuangan usahanya.
Tidak Mempunyai Standar Pembagian Laba Usaha
Para pelaku usaha kecil umumnya bingung atau tidak memiliki standar menyangkut persentase laba usaha yang diinginkannya. Baik untuk kebutuhan pribadi maupun untuk membayar berbagai kewajiban lainnya.
Kondisi pengelolaan keuangan usaha semacam ini berdampak pada tidak jelasnya pemanfaatan laba usaha. Sehingga ketika perusahaan ingin dikembangkan akan mengalami kesulitan menyangkut permodalan.
Baca juga: Menganalisis Peluang Usaha untuk Mempertajam Strategi Bisnis
Meskipun tidak ada standar baku tentang pembagian keuntungan usaha, namun pelaku usaha perlu memastikannya dengan jelas. Anda bisa mengalokasikan 35 persen laba setelah dikurangi semua unsur biaya.
Dari keuntungan ini Anda bisa membaginya untuk berbagai keperluan. Misalnya 5 persen untuk zakat dan dana sumbangan, 20 persen untuk pengembangan usaha, dan sisanya untuk gaji, membayar hutang, dan tabungan pribadi.
Campurnya Keuangan Usaha dan Uang Pribadi
Masalah lain yang banyak terjadi dalam pengelolaan keuangan usaha kecil adalah tak ada batasnya uang bisnis dan pribadi. Bahkan tak sedikit pengusaha UKM yang harus memotong uang usaha untuk makan keluarga.
Usaha kecil umumnya dijalankan sebagai bisnis sambilan. Selain menggunakan rumah sebagai tempat usaha, manajemen juga dilakukan ala kadarnya. Kondisi inilah yang menyebabkan keuangan usaha menjadi tidak jelas.
Campurnya uang usaha dengan uang pribadi dalam pengelolaan keuangan usaha memicu banyaknya masalah dalam usaha yang dijalankan. Kesulitan untuk membeli bahan baku, tak ada uang untuk membayar gaji karyawan, dan lainnya.
Untuk membenahi kondisi ini, sebagai pelaku UKM Anda perlu melakukan pencatatan dan pembukuan dengan tertib. Jika perlu, Anda bisa ‘menggaji’ diri Anda sendiri secukupnya namun tercatat dengan jelas.
Terlalu Berorientasi pada Omset
Kesalahan umum yang juga banyak terjadi dalam pengelolaan keuangan usaha kecil adalah orientasi pada omset sebagai tolok ukur keberhasilan usaha. Padahal, omset tidak menggambarkan laba atau keuntungan yang diperoleh.
Sebuah keberhasilan dalam bisnis tidak diukur dari omset. Begitu pun dengan besarnya jumlah pelanggan yang membeli produk tidak menentukan suksesnya sebuah bisnis. Termasuk jumlah karyawan yang Anda miliki.
Baca juga: Manfaat Strategi Bisnis dan Pentingnya dalam Memenangkan Persaingan Usaha
Karena itulah Anda perlu jelas dan tegas dalam pengelolaan keuangan usaha agar jelas antara omset, biaya-biaya, dan laba. Dengan pencatatan dan pembukuan yang baik, Anda bisa melakukan evaluasi untuk pengembangan bisnis.
Buat apa memiliki omset besar jika biaya yang harus dibayarkan juga besar. Anda harus memperhitungkan gaji karyawan, biaya sewa tempat, hingga anggaran untuk promosi. Omset yang telah dikurangi biaya-biaya itulah laba usaha.
Itulah berbagai kesalahan yang sering dilakukan dan terjadi dalam pengelolaan keuangan usaha kecil. Dengan membenahi kinerja dan pembukuan yang baik, bukan hanya akan meningkatkan kualitas usaha, namun juga akan meningkatkan kredibilitas usaha. (R11/HR-Online)