Tarawih pada zaman Rasulullah SAW dahulu dalam cerita Siti Aisyah RA bahwa pada 10 malam menjelang hari terakhir ramadhan Rasulullah melaksanakan salat tarawih dengan beberapa orang.
Pada malam selanjutnya para sahabat nabi yang pada sebelumnya tidak mengikuti sholat tarawih kini turut serta dalam sholat berjamaah.
Semakin hari semakin banyak orang mengikuti sholat tarawih sampai masjid penuh sesak dengan jamaah.
Tarawih Pada Zaman Rasulullah, Ketakutan Rasulullah Akan Menjadi Wajib
Disaat masjid penuh jamaah ingin melakukan sholat tarawih namun Rasulullah tidak datang melakukan sholat bersama dan tidak keluar rumah.
Rasulullah mengatakan kepada para sahabat jika beliau melakukan sholat bersama dengan para jamaah, beliau merasa takut jika sholat di malam bulan Ramadhan akan menjadi wajib.
Sikap Rasulullah yang berdiam diri didalam rumah menunjukan kasih sayangnya kepada seluruh umat. Namun ada sebagian dari sahabat yang melempari rumah dengan batu agar Beliu keluar rumah.
Akhirnya Rasulullah keluar rumah dan mengabarkan jika Beliau takut jikalau sholat tarawih yang sunnah akan menjadi wajib jika Allah SWT menurunkan wahyunya.
Dari sebuah hadits, para ulama menyimpulkan jika sholat sunnah boleh dikerjakan secara berjamaah. Akan tetapi sholat sunnah akan lebih utama jika dilakukan sendiri-sendiri kecuali sholat tarawih.
Tarawih pada zaman Rasulullah menjelaskan jika ada yang mengikuti seseorang dalam sholatnya dengan tidak meniatkan sholatnya sebagai imam pada awalnya.
Sejak saat itu, kegiatan pada bulan Ramadhan berlalu dengan sepi tanpa sholat berjamaah di masjid. Namun mereka melakukan sholat dengan sendiri didalam rumah masing-masing.
Hal ini terus dilakukan dari Ramadhan satu sampai ke Ramadhan selanjutnya sampai Rasulullah wafat. Sampai di zaman Abu Bakar RA Ramadhan juga masih sepi dengan kegiatan sholat tarawih.
Sejarah Salat Tarawih
Kegiatan sholat tarawih pada zaman Rasulullah dulu dikenal dengan Qiyamu Ramadhan.
Qiyamu Ramadhan sendiri memiliki arti penghidupan atas malam Ramadhan. Hal ini bermakna jika kegiatan tarawih dilakukan untuk menghidupkan malam pada bulan Ramadhan.
Istilah tarawih muncul dari para ulama yang menyebut dengan maksud mengerjakan sholat sunnah pada malam Ramadan.
Dalam bahasa Arab sendiri memiliki arti waktu sesaat guna untuk beristirahat. Waktu melaksanakan sholat ini setelah sholat Isya’ sampai muncul fajar.
Dahulu pada zaman Khalifah Umar Bin Khattab, sholat tarawih kembali dihidupkan dengan berjamaah 20 rakaat dengan dilanjut dengan 3 rakaat sholat witir.
Jumlah Rakaat Sholat Tarawih
Terkait dengan jumlah rakaat sholat tarawih pada zaman Rasulullah ada sejumlah ulama memiliki pendapat yang berbeda.
Ada yang berpendapat jika jumlah rakaatnya sebanyak 20, namun ada sebagian yang mengatakan jika Jumlah rakaat dalam tarawih ada 36 rakaat.
Hal ini berasal dari kebiasaan di masa Khalifah Umar Bin Abdul Aziz serta seluruh penduduk Madinah saat itu.
Namun dalam prakteknya di sebagian besar masyarakat Indonesia melaksanakan sholat tarawih dengan pilihan jumlah rakaat ada yang 11 dan 21 rakaat.
Sebenarnya tidak ada yang mempermasalahkan mengenai jumlah rakaat dalam tarawih. Baik yang melaksanakan dengan jumlah 11 maupun 23 rakaat.
Namun sebaiknya rakaat dalam sholat tarawih dilakukan tidak lebih dari 11 atau 13 rakaat. Sebenarnya yang terpenting dari sholat tarawih bukan berapa rakaatnya namun seberapa lama menjalankan sholat tarawihnya.
Keutamaan Menjalankan Salat Tarawih
Hukum dalam menjalankan sholat tarawih pada zaman Rasulullah sampai sekarang di bulan ramadhan adalah sunnah muakkad. Artinya ibadah sholat ini sangat dianjurkan.
Beberapa keutamaan dalam menjalankan sholat tarawih di bulan ramadhan yang bisa anda jadikan teladan dalam mencari ridhoNya.
Seperti yang sudah dijelaskan oleh Abu Dzar mengenai sholat tarawih yang memiliki makna sangat dalam. Yaitu melaksanakan sholat tarawih secara berjamaah sama seperti menjalankan sholat semalam penuh.
Semua umat muslim dianjurkan untuk melaksanakan kegiatan sholat tarawih dengan berjamaah karena sholat berjamaah memiliki derajat yang lebih tinggi daripada sholat sendiri (munfarid) dengan pahala yang berlipat ganda.
Selain itu, saat melaksanakan sholat berjamaah tentu dapat mempererat silaturahmi antar jamaah sehingga terjalin hubungan yang ukhuwah islamiyah.
Ukhuwah Islamiyah artinya persaudaraan yang terjalin antar umat islam dengan rasa cinta dan dilandasi dengan akidah ALLAH.
Belajar dari sejarah salat tarawih pada zaman Rasulullah SAW. Meski sekarang tidak bisa melakukan tarawih berjamaah di masjid, anda bisa kerjakan secara mandiri dirumah. Terlebih di masa pandemi ini. (R10/HR Online)