Berita Jabar, (harapanrakyat.com),– Provinsi Jawa Barat (Jabar) mendapatkan bantuan berupa alat PCR (Polymerase Chain Reactin) dari Kedutaan Amerika Serikat.
Kedutaan Amerika Serikat sendiri yang menawarkan bantuan tersebut guna percepatan penanganan Covid-19 di Kabar.
Heather Variava, perwakilan Kedubes Amerika Serikat, mengatakan tes PCR merupakan upaya penting untuk memutus penyebaran Covid-19. Jika Covid-19 mereda maka peluang majunya kembali ekonomi Jabar terbuka lebar.
Heather juga menawarkan bantuan untuk mendatangkan ahli dari CDC (Centers for Disease Control) dan Badan Pembangunan AS.
“Pengujian PCR ini upaya yang sangat penting. Pertanyaannya bagaimana kita dapat membantu untuk meningkatkan uji PCR? Kami lihat uji PCR ini jadi kunci untuk membuka roda perekonomian kembali,” kata Heather dalam Virtual Roundtable Discussion with Foreign Ambassadors dari Gedung Pakuan Bandung, Senin (11/5/20).
Kedutaan AS menurut Heather sudah menyerahkan bantuan Rp 130 miliar untuk membantu menghentikan Covid-19 di Indonesia.
“Fokus kami adalah deteksi kasus, tracking, juga tak lupa pencegahan penyebaran penyakit, selain tentunya merawat yang sakit,” katanya.
Sementara Ridwan Kamil, Gubernur Jabar, menyambut baik tawaran Kedutaan AS yang akan menyumbang alat uji PCR.
Saat ini, menurut Emil –sapaan akrabnya- Jabar membutuhkan lebih banyak alat uji PCR. Alat tersebut akan digunakan untuk mengetes karyawan di lingkungan kerja perusahaan. Jika suatu perusahaan bebas Covid-19, maka perusahaan bisa kembali beroperasi.
“Alat PCR bukan hanya untuk mengetes terduga Covid-19, namun juga untuk membuka ekonomi kembali. Kami butuh banyak suplai alat PCR,” katanya.
Emil berpesan kepada para duta besar, bahwa Jabar terbuka untuk investor. Namun lingkungan kerja yang dibangun para investor tersebut harus bebas dari Covid-19. Hal ini dibuktikan dengan sertifikat bebas Corona.
Sementara terkait bantuan para ahli, Emil menginginkan adanya studi ilmiah dan prediksi dari universitas yang ada di AS tentang kondisi pandemic di Jabar.
Hasil studi tersebut akan digunakan sebagai pembanding bagi studi yang sama yang pernah dilakukan oleh universitas yang ada di Jabar.
“Kami bisa memberikan Anda data dan melihat apakah prediksi dari universitas kami sama atau beda dengan penelitian dari universitas di Amerika,” kata Emil. (Ndu/R7/HR-Online)