Penggunaan Hydroxychloroquine untuk obat virus Corona memperlihatkan hasil yang tidak mendukung, demikian hasil uji klinis terbaru melaporkan. Bahkan pasien virus Corona yang mendapat obat ini kondisinya lebih buruk.
Hydroxychloroquine yang populer dengan sebutan Chloroquine atau Klorokuin bukanlah obat hasil penelitian baru. Namun obat anti inflamasi untuk penyakit malaria ini digadang-gadang bisa menjadi solusi darurat dalam penanganan pasien Covid-19.
Pemerintah Indonesia juga telah memesan dan membagikan Klorokuin melalui perusahaan farmasi PT Dexa Medica yang memproduksinya. Klorokuin untuk obat virus corona dipilih karena beberapa negara juga menggunakannya.
Sebelumnya juga dilaporkan hasil uji klinis terhdap adalah lopinavir atau ritonavir (LPV / r) dan Arbidol untuk obat Covid-19 juga gagal. Hasil riset ini dilaporkan dalam jurnal medis Med terbitan Cell Press.
Hasil Uji Klinis Hydroxychloroquine sebagai Obat Virus Corona
Sebuah penelitian dengan melakukan uji klinis acak dilakukan sejumlah ahli Tiongkok. Laporan hasil riset ini telah diterbitkan 14 Mei 2020 juga menemukan sejumlah efek samping penggunaan obat ini.
Dalam riset itu, seperti dikutip dari Scitech Daily, hydroxychloroquine diberikan pada pasien dengan Covid-19 yang mengalami persisten ringan hingga sedang. Hasilnya kemudian dibandingkan dengan perawatan standar Covid-19.
Hasilnya, pemberian klorokuin sebagai obat virus Corona ternyata tidak mampu membersihkan virus dengan lebih cepat dibandingkan pasien yang menerima perawatan standar. Bahkan kondisi pasien dengan klorokuin semakin memburuk.
Bahkan para peneliti juga mengungkapkan adanya efek samping yang lebih tinggi pada pasien yang menerima chloroquine. Karena itulah riset tidak mendukung penggunaan secara rutin obat hydroxychloroquine untuk pasien Covid-19.
Sebagai obat anti inflamasi, hydroxychloroquine diakui efektif untuk meredakan rasa sakit, peradangan, pembengkakan, dan telah terbukti mampu mengobati penyakit rematik dan malaria.
Meskipun tes laboratorium memperlihatkan hasil yang menjanjikan dari hydroxychloroquine. Namun sejumlah uji coba maupun bukti pengamatan di kalangan ahli juga sempat mempertanyakan efektivitas chloroquine sebagai obat virus Corona.
Penelitian lain yang dilakukan para ahli di Perancis yang diterbitkan The BMJ pada 14 Mei 2020 juga menemukan tidak efektifnya obat anti inflamasi hydroxychloroquine dalam mengobati pasien Covid-19.
Penggunaan obat chloroquine juga tidak mampu mencegah atau menurunkan risiko kematian akibat Covid-19. Bahkan obat ini tidak memperlihatkan hasil yang signifikan dalam penggunaan untuk perawatan intensif pasien Corona.
Para peneliti Perancis itu juga menilai efektivitas dan keamanan hydroxychloroquine sebagi obat virus Corona tidak lebih baik dibandingkan dengan menggunakan perawatan standar pasien Covid-19 yang membutuhkan oksigen.
Dalam risetnya, peneliti melibatkan 181 pasien dimana 84 pasien menerima hydroxychloroquine selama 48 jam setelah masuk rumah sakit dan 97 pasien sebagai kelompok kontrol tidak mendapatkan chloroquine.
Hasilnya, tidak ditemukan perbedaan signifikan dari kedua kelompok itu. Baik untuk perawatan intensif, tingkat kematian dalam 7 hari, maupun sindrom gangguan pernapasan akut yang terjadi dalam 10 hari.
Hydroxychloroquine Tidak Direkomendasikan untuk Obat Virus Corona
Para peneliti mengakui perlunya riset yang lebih mendalam untuk membuktikan hasil riset mereka. Namun para peneliti tidak merekomendasikan penggunaan hydroxychloroquine sebagai obat untuk pasien Covid-19 persisten ringan hingga sedang.
Meski demikian dikabarkan sejumlah negara masih tetap menggunakan obat hydroxychloroquine hingga ditemukannya obat Covid-19 yang benar-benar aman dan efektif.
Cina misalnya telah memasukkan obat hydroxychloroquine dalam pedoman untuk penanganan darurat penyakit Covid-19. Begitu juga Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika atau FDA yang mengizinkan penggunaan darurat hydroxychloroquine sebagai obat virus Corona. (R9/HR Online)