Kain tenun sengkang akhir-akhir ini menjadi perbincangan di dunia maya. Kain tenun ini berasal dari Kabupaten Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan.
Ramainya warganet yang membincangkan kain yang berbahan sutra ini setelah muncul dalam sebuah program di TVRI, yakni belajar di rumah.
Motifnya yang indah dan harganya yang mahal ternyata karena proses pembuatannya yang rumit. Bahkan, tradisi pembuatan kain tradisional ini berlangsung turun temurun sejak ratusan tahun lalu.
Mengenal Kain Tenun Sengkang
Kain yang berbahan sutra ini biasa digunakan oleh warga setempat dalam acara perkawinan sejak zaman dulu. Hingga saat ini pun kain tersebut digunakan dalam berbagai acara, baik hajatan, pernikahan maupun hari raya.
Masyarakat Wajo zaman dahulu, memiliki cara untuk mendidik anak-anak perempuan supaya perempuan bisa menjaga diri terhindar dari pada hal-hal negatif.
Sehingga para perempuan itu lebih banyak dianjurkan oleh orang tuanya untuk tinggal di rumah untuk menenun, hingga akhirnya menjadi suatu tradisi dan budaya pada masyarakat di Kabupaten Wajo.
Kain tenun sengkang ini memiliki ciri khas tersendiri pada warnanya, yakni terang dan mencolok. Dari tiap warna yang disematkan dalam kain tersebut memiliki arti tersendiri, sehingga ada warna khusus yang hanya bisa digunakan oleh kalangan tertentu saja.
Seperti warna kain tenununtuk laki-laki, perempuan, lajang maupun sudah berumah tangga akan memiliki warna tersendiri.
Ciri khas lainnya dari kain tenun ini adalah pada tumpal (kepala kain) atau jenis ragam hias geometris berbentuk segitiga. Biasanya berbentuk garis vertikal dan motif bunga yang memiliki hitungan ganjil.
Kendati kain ini dikenal sebagai ciri khas warga Wajo dan digunakan dalam acara-acara khusus dan awalnya hanya digunakan untuk pribadi, namun kain ini sudah bisa dibeli oleh masyarakat umum, baik wisatawan dalam negeri maupun luar negeri.
Proses Pembuatan
Proses pembuatan kain tenun sengkang ini, membutuhkan waktu yang cukup lama, dan melibatkan sedikitnya 15 orang dalam satu kali tahapan pembuatan kain.
Sebelum menjadi benang sutra, proses pembuatan kain ini cukup panjang, dimulai dari peternakan ulat sutra, pemeliharaan ulat sutra, proses menjadi kokon (kepomping ulat), hingga sampai menjadi benang yang siap ditenun menjadi kain.
Dalam proses pembuatan benang sutera menjadi kain, masyarakat pada umumnya masih menggunakan peralatan tenun tradisional.
Namun seiring perkembangan teknologi yang datangnya dari tanah Jawa berpengaruh besar terhadap proses pembuatan kain tenun sengkang, yakni menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). (Muhafid/R6/HR-Online)