Berita Ciamis (harapanrakyat.com).- Selama tahun 2019, wana wisata Mandiri Sayang Kaak Ciamis telah dikunjungi sekitar 24.774 orang pengunjung dari berbagai daerah. Hal tersebut dibenarkan Ketua Pengelola Wisata Mandiri Sayang Kaak Ciamis, Taufan Nugraha, Jumat (3/1/2020).
Diakuinya, kunjungan tersebut dinilai cukup fantastis mengingat wisata Sayang Kaak terbilang masih seumur jagung. “Kita akui masih banyak kekurangan fasilitas, namun begitu kita terus berbenah agar para pengunjung tidak bosan berwisata ke Sayang Kaak,” ujarnya
Taufan mengatakan, jika dirata-ratakan, kunjungan wisatawan ke Mandiri Sayang Kaak Ciamis mencapai 2.000 pengunjung perbulan. “Biasanya pengunjung ramai memadati lokasi wisata pada moment-moment tertentu, seperti liburan sekolah, lebaran hingga natal dan tahun baru,” katanya.
Lebih lanjut Taufan menuturkan, saat ini yang menjadi tantangan pengelola yakni fasilitas di dalam objek wisata yang masih terbatas. Kurangnya saung-saung atau gazebo yang ada di lokasi, baik untuk kepentingan istirahat, kumpul-kumpul sambil makan bersama ataupun untuk kegiatan formal lainnya seperti tempat rapat dan diskusi bagi organisasi, pelajar, mahasiswa maupun masyarakat umum.
“Tahun 2020 ini, kita rencanakan tambah lagi beberapa fasilitas penunjang wisata di lokasi secara bertahap, demi kenyamanan para pengunjung yang sedang berlibur,” jelas Taufan.
Untuk harga tiket masuk kata dia,terbilang murah meriah. Harga tiket masuk dari Senin-Sabtu hanya Rp 7.000 dan Minggu Rp 10.000 perorang. Tiket masuk sudah termasuk pajak daerah dan premi asuransi. Penataan lokasi terus dilakukan demi kenyamanan dan keamanan pengunjung.
“Kami berharap, keberadaan tempat wisata ini akan semakin berkembang dan lebih maju lagi, sehingga dapat memberikan kontribusi yang lebih besar untuk kemajuan Desa Handapherang dan Kabupaten Ciamis,” ungkapnya.
Kehadiran Wisata Sayang Kaak Ciamis Mampu Menggerakan Ekonomi Masyarakat
Kerjasama pengelolaan wisata Mandiri Sayang Kaak antara pemilik lahan, pengelola wisata dan BUMDesa Hanjuang yang didukung oleh Bank Mandiri, telah memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat yang terlibat langsung menjadi bagian dari pengelola operasional wisata.
“Berkat dukungan semua pihak, pengelolaan wisata Mandiri Sayang Kaak Ciamis ini bisa berjalan lancar dan mampu menyedot puluhan ribu wisatawan. Dengan tingkat kunjungan yang tinggi, roda perekonomian masyarakat sekitar tentu meningkat, terutama bagi mereka yang melaksanakan kegiatan usaha di sekitar lokasi,” ujar Taufan.
Kata dia, konsep kerjasama pengelolaan wisata dengan sistem bagi hasil antara pemilik lahan, Bumdes dan pengelola wisata telah menjadikan model baru dalam upaya menggerakan perekonomian desa.
Kehadiran tempat wisata Mandiri Sayang Kaak, di Dusun Cikatomas, Desa Handapherang, Kecamatan Cijeungjing, Ciamis, itu, nyatanya telah memberikan banyak efek domino, dalam upaya menggerakan perekonomian dan pemberdayaan masyarakat sekitar lokasi wisata di desa Handapherang.
Menurut Taufan, perkembangan dan pertumbuhan perekonomian masyarakat sekitar wisata, terus meningkat seiring dengan pertumbuhan dan kemajuan tingkat kunjungan wisata.
“Perputaran uang yang beredar di masyarakat sekitar wisata semakin banyak, karena kebanyakan pengunjung wisata datang dari luar Desa Handapherang. Hal ini sangat positif untuk menggerakan perekonomian serta menaikan tingkat daya beli masyarakat sekitar wisata,” jelas Taufan.
Taufan menyebut, di lokasi wisata Sayang Kaak, ada sekitar 6 pedagang tetap yang berjualan dengan mempekerjakan pegawai minimal 2 orang yang hampir semuanya masyarakat sekitar wisata, Begitu juga dengan para pedagang musiman,yang selalu meramaikan lokasi wisata dengan berbagai varian sajian jajanan, mulai dari makanan, minuman sampai mainan.
“Khusus hari Minggu pedagang musiman selalu datang dan tercatat 7 sampai 14 orang pedagang bisa berjualan,” katanya.
Ciptakan Lapangan Kerja Baru
Kehadiran wisata Sayang Kaak Ciamis juga, sebagai salah satu upaya menciptakan lapangan kerja baru yang diimplementasikan dengan adanya serapan tenaga kerja baru, yang melibatkan SDM dari generasi muda yang kreatif dan inovatif,
“Para pelaku dan pengelola wisata mandiri Sayang Kaak, melibatkan sekitar 12 orang pemuda dengan pembagian tugas yang sudah di bagi-bagi sesuai dengan kapasitas dan kemampuanya,” katanya.
Lebih lanjut Taufan menyatakan, melalui Bumdes, upaya menambah serta meningkatkan sumber PADesa Handapherang diharapkan akan berimbas kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat desa Handapherang, menjadi salah satu misi dari pengelola wisata Sayang Kaak Ciamis.
“Selama ini, pendapatan Bumdes Hanjuang hampir 60% ditopang dari sektor wisata. Jadi semakin banyak pengunjung, maka potensi pendapatan Bumdes juga semakin besar,” jelas Taufan.
Selama ini tambah Taufan, keberadaan wana Wisata Mandiri Sayang Kaak Ciamis telah banyak berkontribusi di tengah masyarakat sekitar. Terbukti dengan kepedulian pengelola Sayang Kaak terhadap kegiatan-kegiatan yang ada dimasyarakat seperti bantuan air bersih, kegiatan keagamaan, kegiatan olahraga dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya yang menyangkut fasiltas umum untuk masyarakat sekitar area wisata.
Mendukung Gerakan Ayo Berwisata di Ciamis
Wisata Sayang Kaak sejak berdiri tahun 2017 telah menjadi binaan Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis, saat ini terus berbenah untuk menjadi wisata unggulan desa yang dapat menyuguhkan keindahan dan panorama alam pedesaan, dengan menghadirkan spot-spot selfi yang dapat menarik untuk pegunjung lebih banyak dan ingin berlama-lama di Sayang kaak.
“Lokasi sayang kaak tidak jauh dari lokasi mega proyek bendungan Leuwi Keris memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan menjadi wisata unggulan desa,” kata Taufan.
Sayang Kaak Ciamis termasuk salah satu pendukung Gerakan Ayo berwisata di Ciamis yang di gagas oleh KNPI, PWI dan Forum Bumdes Kabupaten Ciamis.
“Sayang Kaak menjadi pendukung sekaligus tempat dilaksanakannya deklarasi gerakan ayo berwisata di Ciamis,” ucapnya.
Keluhkan Akses Jalan
Sejumlah pengunjung Wana Wisata Mandiri Sayang Kaak Ciamis mengeluhkan akses jalan menuju wisata Sayang Kaak. Pasalnya, ada sekitar 50 meter jalan menuju lokasi yang masih dalam keadaan rusak.
“Lokasi wisata Sayang Kaak sudah bagus dengan pemandangan alam yang indah, hanya saja akses jalan ada yang rusak sedikit, pas dekat eks TPA Handapherang,” ujar Vina pengunjung asal Bandung.
Selain akses jalan, Vina juga mengeluhkan plang penunjuk arah dari mulai Kota Ciamis dan pertigaan jalan lingkar selatan sebelum masuk ke lokasi wisata. Sehingga banyak pengunjung yang malah nyasar.
“Akan lebih baik jika plang penunjuk arahnya dilengkapi, agar pengunjung tidak kebingungan menuju Sayang Kaak Ciamis,” pungkasnya.(Jujang/R8/HR Online)