Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Oknum guru di Pangandaran Jawa Barat yang diduga merusak sandal muridnya ramai dibahas di media sosial facebook. Kejadian perusakan sandal ini terjadi di salah satu sekolah MTs di Kecamatan Cigugur, Kabupaten Pangandaran.
Kehebohan ini berawal ketika salah satu akun facebook atas nama Uttu jmc memposting gambar sandal yang terlihat rusak dan dibagikan ke salah satu grup facebook warga Pangandaran. Pada keterangan gambarnya menyebut oknum guru yang sudah merusak sandal adiknya.
Meski pada keterangannya tidak menyebut nama atau inisial si oknum guru tersebut, namun tetap mengundang kehebohan.
Yang memposting gambar itu ternyata kakaknya. Sebagai kakak, dia tidak terima sandal adiknya dirusak oleh gurunya. Si kakak juga merupakan alumni di sekolah tersebut.
Dia menyebut si oknum guru yang merusak sandal adiknya memiliki karakter tempramental. Saat dia masih sekolah, guru tersebut sering menampar siswa yang kesiangan masuk sekolah.
Saat dihubungi melalui telepon selulernya, pemilik akun Uttu jmc membenarkan bahwa dirinya yang memposting gambar tersebut. Dia menjelaskan adiknya mendapat hukuman dari gurunya karena datang ke sekolah menggunakan sandal bertali atau sering disebut sepatu sandal.
“Sepatu adik saya basah karena kemarinnya kehujanan. Jadi dia terpaksa menggunakan sandal bertali. Kalau memang adik saya salah, ya jangan sampai merusak sandalnya. Bahkan ada siswa lain yang sandalnya sampai digunting-gunting. Memang tidak ada hukuman lain selain merusak,” tegasnya, Jum’at (24/01/2020).
Dia mengatakan adiknya dan siswa lain menggunakan sandal ke sekolah karena sepatunya basah kehujanan. Adiknya, tidak memiliki sepatu lain dan akhirnya menggunakan sandal.
“Itu juga pakai sandal bertali atau masih bisa dikatakan sopan. Lagi pula adik saya pakai sandal kan alasannya logis. Sepatunya basah karena kehujanan. Dia tidak memiliki sepatu lain. Ya mestinya ada kebijaksanaan lah. Karena tidak setiap hari adik saya ke sekolah menggunakan sandal,” ungkapnya.
Dia mengaku mengetahui sosok guru tersebut. Karena dia pun merupakan alumni sekolah MTs tersebut.
“Oknum guru itu memang arogan. Saat saya dulu sekolah di MTs tersebut, dia sering menampar siswa jika melakukan kesalahan,” katanya.
Menurut dia, sebelumnya pernah ada orangtua siswa yang memprotes oknum guru tersebut karena anaknya ditampar. Orangtua siswa itu lantas melapor ke pihak sekolah.
“Tapi anehnya, bukan si oknum guru itu yang mendapat sanksi, tapi malah siswa yang ditampar dikeluarkan dari sekolah. Saya juga khawatir kalau melaporkan masalah ini ke Kementerian Agama malah adik saya nantinya bernasib sama,” katanya.
Dihubungi terpisah, Kepala Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Pangandaran, Cece Hidayat, mengaku sudah mendapat informasi terkait permasalahan tersebut. Pihaknya, kata dia, sudah mengintruksikan pengawas untuk mengklarifikasi serta menelusuri kebenaran kejadiannya.
“Kami cari tahu dulu bagaimana kejadian yang sebenarnya. Setelah tahu kejadian yang sebenarnya, nanti akan kita bahas di internal untuk mementukan langkah selanjutnya,” ujarnya, Jum’at (24/01/2020).
Cece juga mempersilahkan masalah ini diekspos di media. Setidaknya, kata dia, jika kelakukan oknum guru itu dipermasalahan akan memberi efek jera agar dia tidak melakukan perbuatan yang sama di kemudian hari.
“Kami juga akan panggil guru yang bersangkutan. Tapi nanti setelah laporan dari pengawas masuk kepada kami,” pungkasnya. (Ceng2/R2/HR-Online)