Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),– Pembalakan liar makin menjadi-jadi di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Saat ini tercatat hutan gundul di Pangandaran seluas 13 hektar, kondisinya kritis lantaran pembalakan liar.
Untuk mengatasi hutan gundul akibat pembalakan liar tersebut, Pemkab Pangandaran telah melakukan upaya reboisasi hutan atau penanaman kembali hutan gundul.
“Kami sudah tanam kurang lebih 1000 pohon di lokasi hutan yang kritis,” ujar Jeje, Sabtu (18/1/2020).
Lokasi hutan yang direboisasi di Desa Selasari, Kecamatan Pairigi. Kawasan Desa Selasari memang daerah yang diutamakan untuk penanaman pohon yang melibatkan semua elemen masyarakat. Salah satunya termasuk Tim Jaga Leuweung.
“Itu bentuk komitmen kami dalam upaya melestarikan alam. Karena itu, mari jadikan hutan hijau kembali,” ajaknya.
Baca Juga: Polisi Ungkap Kasus Pembalakan Liar Hutan Lindung di Pangandaran, Perhutani Rugi Rp 1,2 Miliar
Jeje menambahkan, reboisasi atau penanaman kembali hutan gundul di Pangandaran akan dilaksanakan di seluruh desa yang memiliki hutan. Dalam hal ini, kata Jeje, Pemkab Pangandaran berusaha konsisten dalam melestarikan hutan.
“Ancaman bencana alam, seperti longsor atau banjir jadi momok menakutkan bagi kita. Ini merupakan dampak dari hutan gundul, itu yang harus kita sadari bersama,” paparnya.
Menurutnya, kerusakan hutan saat ini akibat orang-orang yang tidak bertangungjawab. Akibat ulah orang-orang yang menebang pohon secara sembarangan, dampaknya dirasakan oleh seluruh masyarakat,
“Perilakunya itu sangat merugikan, bukan hanya satu dua orang saja yang terdampak, tapi orang banyak. Harusnya (pembalak liar) sadar kalau perbuatannya itu sangat merugikan,” tegasnya.
Jeje juga berpesan agar pelaku pembalakan liar tidak hanya berpikir pendek demi keuntungan pribadi semata.
“Mungkin dia untung banyak dengan menebang pohon-pohon di hutan, tapi perlu disadari yang rugi banyak orang, dia juga bisa kena dampaknya,” pungkasnya. (Ceng2/R7/HR-Online)