Windows XP yang sejatinya sudah ‘pensiun’ ternyata masih ada juga yang menggunakannya. Ya, Microsoft memang menghentikan dukungan pada Windows XP di tahun 2014 lalu.
Bukan hanya XP, Microsoft juga menyetop dukungan pada Windows 7, yang merupakan lebih muda dari XP, dan direncanakan akan dihentikan pada 14 Januari 2020.
Lantas siapa yang masih menggunakan Windows XP sampai saat ini? Ternyata Vladimir Putin, Presiden Rusia lah yang masih memakai sistem operasi Windows pada komputernya.
Mengutip dari Open Media dan Daily Mail, orang nomor satu di Rusia ini tertangkap kamera, bahwa komputer yang dipakainya ini masih mengoperasikan XP.
Gambar Vladimir Putin ini dari siaran pers Kremlin. Siaran yang di kediamannya Novo-Ogaryovo, di Ibu Kota Rusia, Moskow tersebut, menunjukkan bahwa Presiden Rusia ini sedang duduk dekat dengan monitor komputer dekstop-nya.
Mengapa orang nomor 1 di Negara Beruang Merah ini masih menjalankan Windows XP?. Seperti kita ketahui, bahwa sistem operasi komputer berbasis Windows ini yang rilis 2001 memang banyak pemakainya.
Karena sudah berhenti dukungannya dari sang pembuat yakni Microsoft, maka sistem operasi ini sangat riskan terhadap serangan, terutama oleh para hacker.
Windows XP sendiri merupakan sistem operasi besutan Microsoft paling akhir, yang disertifikasi untuk dipakai di beberapa lembaga-lembaga pemerintahan Rusia.
Namun menurut sumber, bahwa sistem komputer ini tidak dipakai menyimpan dokumen atau berkas rahasia Rusia.
Jika melihat dari foto tersebut memang sangat menarik. Pasalnya, Vladimir Putin merupakan orang yang technophobe atau ketidaksukaan akan teknologi canggih. Bahkan, diklaimnya bahwa Presiden 67 tahun ini tidak mempunyai smartphone.
Penjelasan Masih Memakai Windows XP
Sayang, Dmitry Peskov, Juru Bicara Kremlin ini tidak memberikan penjelasan kenapa Negara Beruang Merah, belum migrasi ke sistem operasi komputer yang paling baru.
Akan tetapi, untuk menjaga rahasia negara serta serta kepentingan nasional terhadap mata-mata asing, maka pejabat di negara Rusia ini tidak diperbolehkan memakai perangkat lunak asing.
Untuk itu, Negara Beruang Merah ini rencananya pada pemerintahan serta perusahaan strategis, akan menggantikan sistem operasi besutan Microsoft termasuk Windows XP serta Apple, dengan sistem operasi buatan negaranya sendiri.
Namun, rencana itu yang mestinya sudah dilaksanakan tahun lalu, sayangnya harus tertunda karena alasannya adalah tawaran tendernya dinilai tidak menarik.
Resiko Masih Memakai Windows XP
Setelah diberhentikan dukungannya pada XP di tahun 2014, maka Microsoft menghimbau agar penggunanya beralih ke OS yang terbaru.
Microsoft pun memberikan peringatan kepada pengguna setia Windows agar cepat-cepat berakhir. Apabila terus memakai Windows XP sesudah dukungannya tidak berhenti, maka resikonya adalah riskan pada serangan virus serta keamanan lainnya seperti hacker.
Walaupun memang OS tersebut masih bisa dipakai atau berfungsi, namun tidak sudah tidak menerima update semenjak 2014. Meski bisa dikatakan Windows XP sampai saat ini memang tetap OS yang paling populer ketiga di dunia.
Contoh nyata dari pemakai OS XP yang terkena serangan peretas adalah terjadi di National Health Service atau Layanan Kesehatan Nasional milik Inggris, dengan menyerang via malware atau ransomware WannaCry.
Akibat dari serangan tersebut, beberapa rumah sakit atau layanan kesehatan di Inggris ini ditutup, serta terpaksa beberapa operasi harus dibatalkan.
Bukan hanya National Health Service di Inggris, wabah ransomware WannaCry yang menyerang pengguna Windows XP yang terjadi 2017 lalu itu, juga menjadi momok menakutkan bagi pengguna komputer di dunia. (Adi/R5/HR-Online)