Berita Banjar, (harapanrakyat.com).- Pawang Siluman Buaya Citanduy Bernama Mbah Bonar. Mbah Bonar, dari Pawang jadi Siluman Buaya Citanduy. Mbah Bonar, namanya tidak asing lagi bagi warga Desa Rejasari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat.
Berdasarkan cerita rakyat yang dipercaya secara turun-temurun, Mbah Bonar diketahui mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi dengan buaya yang ada di sepanjang Daerah Aliran Sungai Citanduy.
Mbah bonar merupakan warga biasa yang sehari-hari mencari penghidupan di sekitar Sungai Citanduy. Salah satu tugasnya, dia menjaga warga dari terkaman buaya Sungai Citanduy.
Suatu ketika, Mbah Bonar dimintai tolong, karena ada warga yang kehilangan anggota keluarganya di Sungai Citanduy. Menurut keterangan, anggota keluarga tersebut hilang dimakan buaya.
Karena alasan itu, Mbah Bonar beranjak pergi ke arah hulu sungai. Disana, dia mengambil selembar daun sirih. Dia kemudian membaca mantra, dan menjatuhkan daun sirih tersebut ke aliran sungai.
Perlahan tapi pasti, daun sirih tersebut mengalir mengikuti aliran sungai dibarengi Mbah Bonar. Di satu titik tertentu, daun sirih berhenti, padahal saat itu air sungai masih terlihat mengalir.
Mbah Bonar Bertemu Siluman Buaya
Mbah Bonar pun langsung mengganti pakaiannya. Dia kemudian masuk ke dalam sungai. Di dasar sungai, dia bertemu kawanan buaya. Mbah Bonar pun bertanya kepada para buaya, siapa diantara mereka yang telah memakan manusia. Tidak satupun dari kawanan buaya itu menjawab pertanyaan Mbah Bonar.
Tapi, tidak jauh dari kawanan buaya, Mbah Bonar melihat seekor buaya yang sedang menyendiri. Ketika didatangi, buaya itu terlihat ketakutan. Seperti kepada kawanan buaya, Mbah Bonar juga bertanya hal serupa kepada buaya tersebut.
Buaya itu lagi-lagi diam tidak memberikan jawaban. Tapi Mbah Bonar curiga dengan keberadaan tumpukan pasir di bawah tubuh buaya tersebut. Mbah Bonar kemudian meminta buaya itu beranjak. Setelah dibuka, ternyata benar saja ada sesosok mayat manusia yang sengaja disembunyikan oleh buaya.
Mbah Bonar akhirnya terpaksa membujuk buaya tersebut untuk ikut bersamanya ke permukaan. Mbah Bonar berjanji kepada buaya itu akan memberi cincin dan gelang emas jika mau menuruti perintahnya.
Sesampainya di permukaan, Mbah Bonar menyerahkan jasad/ mayat itu kepada pihak keluarga. Pada kesempatan itu, Mbah Bonar juga mengikat keempat kaki buaya tersebut dengan tali rotan dan membentangkannya ke empat pohon.
Mbah Bonar meminta buaya untuk melepaskan diri sekuat tenaga dari ikatan rotan tersebut. Buaya itu meronta-ronta dan tidak mampu melepaskan diri. Mbah Bonar kemudian mengambil rotan dan memukul-mukul si buaya. Buaya itu menangis dan meneteskan air mata hingga akhirnya mati.
Dikutuk Berubah Jadi Buaya
Selang beberapa tahun, Mbah Bonar meninggal dunia, dia diyakini terkena kutukan karena pekerjaannya sebagai pawang buaya. Setelah kematiannya, Mbah Bonar pawang buaya berubah menjadi seekor buaya.
Tiga tahun setelah itu, keturunan Mbah Bonar menggelar selamatan untuk memperingati kematian sang ayah. Suatu malam, salah satu dari keturunannya bermimpi didatangi Mbah Bonar. Dalam mimpi itu, Mbah Bonar berpesan agar anaknya tetap tinggal di tepian sungai dan mencari penghasilan dari sungai.
Anak tersebut pun mematuhi permintaan sang ayah, yang tidak lain adalah Mbah Bonar Pawang Siluman Buaya Citanduy. Setiap pagi hari, anak ini menjala ikan dan ikan yang dia dapatkan selalu melimpah. Ikan-ikan yang didapatkan pun bisa menutupi kebutuhan hidup sehari-hari.
Suatu ketika, saat sedang menjala ikan di Sungai Citanduy, anak tersebut bertemu dengan seekor buaya aneh, yakni buaya buntung (tak punya ekor). Mereka saling bertatapan, anak itupun teringat dengan kutukan yang dialami sanga ayah.
“Jika kamu adalah ayahku, maka kamu jangan bergerak. Karena aku akan membuatkan kamu sebuah rumah!,” kata anak tersebut. Dan benar saja, buaya tersebut diam tak bergerak. Anak itupun merasa yakin buaya tersebut jelmaan sang ayah.
Sampai sekarang, sebagian masyarakat percaya cerita Mbah Bonar Pawang Siluman Buaya Citanduy. Masyarakat juga percaya Mbah Bonar selalu berjaga-jaga di sekitar Sungai Citanduy. (Deni/R4/HR-Online)