Fenomena awan terbakar di luar angkasa tertangkap teleskop Spitzer milik Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA). Penampakannya seperti nyala api yang menerobos ruang hitam yang hampa.
Nyala api yang berkobar tersebut ternyata adalah kumpulan gas dan debu raksasa. Dimana kobaran apinya membentang luas sepanjang 500 tahun cahaya.
Kejadian misterius di ruang angkasa ini tentu saja sangat mencuri perhatian ilmuwan. Tak heran jika kebakaran tersebut diteliti lebih lanjut.
Penyebab Fenomena Awan Terbakar
Diketahui bahwa gambar yang didapat teleskop Spitzer NASA adalah Awan Perseus Molecular. Cahaya api yang ditimbulkan berasal dari hasil radiasi inframerah.
Hasil radiasi ini diperoleh dari debu hangat dan gugusan bintang yang tampak menerangi awan yang ada di sekitarnya.
Baca juga: Air Es di Mars Berhasil Ditemukan, Lancarkan Misi NASA
Kondisi ini mengingatkan kita dengan matahari. Dimana matahari selalu menerangi langit yang berawan ketika sudah terbenam.
Radiasi inframerah yang terpancar dari gas dan bintang-bintang tak bisa dilihat oleh mata manusia. Namun tidak untuk teleskop Spitzer.
Hal ini dikarenakan teleskop Spitzer didesain sedemikian rupa dengan dukungan teknologi mutakhir. Dengan begitu, teleskop Spitzer ini mampu menangkap pencahayaan objek hangat.
Dalam fenomena awan terbakar ini, terlihat ada sekelompok bintang muda yang memiliki cahaya cemerlang di sisi kanan awan besar.
Kumpulan bintang muda tersebut dikenal dengan sebutan NGC 1333. Dimana letaknya berjarak 1.000 tahun cahaya dari Bumi.
Perlu untuk anda ketahui, sebenarnya sudah sejak pertengahan 1980-an para astronom mengamati rumpun permulaan tersebut.
Dalam pengamatan fenomena awan terbakar tersebut, diketahui juga bahwa di bagian bawah NGC 1333 ada gugusan yang hingga kini masih menjadi misteri.
Adapun pakar yang mempelajari kumpulan bintang muda NGC 1333 ialah Luisa Rebull. Luisa adalah astrofisikawan di Ilmu Infrared NASA Arsip di Caltech-IPAC.
Sesuai dengan penjelasan Luisa Rebull, sekelompok bintang muda NGC 1333 sudah menjadi fokus penelitian sekaligus diakui sebagai proses umum dalam bidang astronomi.
Wilayah ini mampu menjelaskan sesuatu hal yang tak dimengerti oleh para astronom terkait pembentukan bintang. Hal inilah yang membuat astronom selalu tertarik untuk mempelajarinya.
Mengenal Awan Molecular Perseus
Seperti penjelasan di atas, fenomena awan terbakar yang tertangkap Spitzer ternyata Awan Molecular Perseus. Untuk diketahui, Awan Molecular Perseus ini menjadi rumah bagi kumpulan bintang muda.
Baca juga: Misteri Asteroid Bennu, Jejak Awal Tata Surya Terungkap
Fenomena kebakaran di luar angkasa disebabkan dari kumpulan awan dalam Awan Molecular Perseus yang mengandung 10 ribu massa matahari.
Mengenai letaknya, Awan Molecular Perseus bisa ditemukan di tepi Perseus Constellation. Selain berisi lebih dari 10 ribu massa matahari, Awan Molecular Perseus juga mengandung gas dan debu.
Guna mengungkap setiap misteri yang masih menjadi pertanyaan dalam pengamatan fenomena awan terbakar, tentu dibutuhkan instrumen baru.
Instrumen yang lebih canggih pastinya membawa teknik baru dan lebih banyak kepekaan. Cerita pun bisa dipaparkan secara lebih jelas.
Perlu untuk anda tahu juga bahwa teleskop NASA, Spitzer, akan dinonaktifkan pada 30 Januari 2020 mendatang. Hal ini tentu saja mengejutkan publik lantaran memiliki kontribusi besar dalam memperlihatkan kondisi luar angkasa.
Tak perlu khawatir. Pasalnya, warisan teleskop Spitzer ini sangat membantu generasi baru observatorium mendatang.
Hal tersebut tak terkecuali dengan James Webb Space Telescope. Dimana James Webb Space Telescope ini juga akan difungsikan untuk mengamati cahaya inframerah.
Sekilas Tentang James Webb Space Telescope
Sebagai sarana yang membantu observasi pengorbitan generasi selanjutnya, tentu James Webb Space Telescope sangat menarik untuk dibahas.
Perlu untuk anda ketahui, James Webb Space Telescope ini dirancang guna menyukseskan Hubble sebagai teleskop luar angkasa utama milik NASA.
Baca juga: Cuaca di Planet Mars Berhasil Disimulasikan NASA, Seperti Ini Visualisasinya
Dalam pembuatannya, James Webb Space Telescope akan menjadi observatorium orbital terbesar, terkuat, dan bahkan kompleks yang dipakai ke luar angkasa.
Dengan berbekal teknologi canggih, James Webb Space Telescope memiliki tujuh kali kapasitas pengumpulan cahaya Hubble.
Selain itu, James Webb Space Telescope juga memiliki kemampuan inframerah tingkat lanjut. Penggunaan James Webb Space Telescope pun diharapkan bisa menemukan sesuatu hal yang baru.
Bukan hanya seputar fenomena awan terbakar, akan tetapi juga mengungkap hal baru terkait benda-benda langit yang letaknya jauh, tak terkecuali dengan benda langit yang sudah tak aktif. (R10/HR-Online)