Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Menteri Sosial (Mensos) RI, Juliari Peter Batubara, mencanangkan Kawasan Siaga Bencana di Pantai Selatan Pulau Jawa. Pencanangan dan simulasi kawasan siaga bencana itu dilaksanakan di Lapangan Alun-alun Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, Jum’at (22/11/2019).
Pencanangan tersebut mengingat bahwa wilayah pantai selatan Pulau Jawa, yaitu Kabupaten Pangandaran (Jawa Barat), Cilacap dan Kebumen (Jawa Tengah), paling rawan tsunami dan longsor.
“Berdasarkan arahan dari Presiden untuk meningkatkan kesiapsiagaan dini dari kebencanaan, karena wilayah pantai selatan khususnya sangat rawan terhadap bencana atau ring of fire,” tuturnya.
Mensos menambahkan, simulasi dan pelatihan memberikan tambahan pengetahuan bagi masyarakat. Terlebih kader-kader anak muda, pelajar dan masyarakat sebagai ujung tombak garda terdepan apabila bencana menerjang.
“Saya minta ke pak Bupati, ini harus lebih sering dilakukan apalagi menghadapi musim penghujan,” ucap Mensos.
Menurutnya, kesiapsiagaan kebencanaan harus disiapkan. Minimal bisa mengurangi dampak korban baik materi maupun jiwa. Selain itu, Tagana dibentuk bukan untuk gaya-gayaan, tapi untuk bermanfaat bagi masyarakat.
Kawasan Siaga Bencana ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Sosial, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Desa, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, BMKG, TNI, Polri, BNPB, Basarnas, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Mensos menuturkan, Kemensos sudah membentuk Kampung Siaga Bencana sebanyak 741 lokasi atau sekitar 185.850 orang. Serta 17 lokasi kawasan siaga bencana yang melibatkan 4.250 orang di Kab Cilacap, Kab Kebumen, dan Kab Pangandaran.
Sedangkan pencanangan Kawasan Siaga Bencana di Pantai Selatan Pulau Jawa hari ini diikuti 1.748 orang. Terdiri dari Siswa Tagana Masuk Sekolah sebanyak 100 orang, Tim Pengurus Kawasan Siaga Bencana 390 orang, Tagana Provinsi Jawa Barat 200 orang, Tagana Provinsi Jawa Tengah 108 orang, undangan mitra kerja 50 orang, stakeholder lainnya 100 orang, warga masyarakat 800 orang.
Mereka dibekali pendidikan dan pelatihan penanggulangan bencana yang berbasis masyarakat, diimplementasikan dalam program Tagana Masuk Sekolah (TMS), dan Kampung Siaga Bencana (KSB).
Pencanangan Kawasan Siaga Bencana Arahan Presiden
Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial, Harry Hikmat mengatakan, pencanangan Kawasan Siaga Bencana ini berdasarkan arahan dari Presiden RI, pada Rakornas dengan BMKG, dalam mengantisipasi bencana di selatan Jawa dengan berbasis kemasyarakatan.
Heri menjelaskan, tujuan pencanangan Kawasan Siaga Bencana ini, untuk mempercepat terbangunnya pemahaman dan kesiapsiagaan masyarakat dan petugas penanggulangan bencana, terhadap potensi dan kemungkinan terjadinya bencana, khususnya di Kawasan Pantai Selatan Jawa.
Dalam kesempatan itu, Mensos menyerahkan bantuan logistik senilai Rp. 2,3 milyar. Bantuan logistik terdiri dari bantuan bufferstock penanggulangan bencana untuk Provinsi Jawa Barat senilai Rp1,1 miliar, dan untuk Provinsi Jawa Tengah senilai Rp1,2 miliar.
Sementara itu, Bupati Kabupaten Pangandaran H. Jeje Wiradinata mengatakan, Pemkab Pangandaran sudah membentuk masyarakat yang tangguh bencana.
“Kita sudah 30 persen membentuk masyarakat yang tangguh bencana, sekitar 30 Kampung Siaga Bencana (KSB),” katanya.
Jeje menambahkan, pihaknya juga terus melakukan simulasi dan pelatihan setiap tahunnya. “Dengan cara masuk ke sekolah-sekolah dan masyarakat,” jelas Jeje.
Pemkab Pangandaran juga mempunyai Tagana sebanyak 60 orang, yang akan terus turun ke masyarakat untuk melakukan simulasi dan pelatihan.
“Tahun depan kita akan memberikan kendaraan operasional dan peralatan penting lainnya untuk Tagana Pangandaran,” katanya.
Menurutnya, pencanangan Kawasan Siaga Bencana ini sangat penting dan bagus, karena masyarakat semakin siap apabila terjadi bencana dikemudian hari. (Madlani/R5/HR-Online)