Haruskah kita mengkonsumsi vitamin dan suplemen makanan? Apakah suplemen makanan mampu menggantikan kebutuhan tubuh terhadap nutrisi makanan? Pertanyaan semacam ini kerap muncul sebagai bahan perdebatan. Hingga saat ini pun perdebatan itu masih berlangsung dan belum ada titik terang.
Suplemen makanan merupakan jenis makanan instan hasil buatan pabrik yang dikemas dalam bentuk kapsul, pil, tablet serbuk ataupun cairan. Dalam suplemen ini ditambahkan nutrisi yang diekstraksi dari sumber makanan alami maupun sintetik.
Penambahan nutrisi dalam vitamin dan suplemen makanan ini untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang mengalami kekurangan atau membutuhkan unsur gizi tertentu. Ada suplemen dengan nutrisi spesifik ataupun dalam bentuk kombinasi sesuai kebutuhan pasar.
Dibandingkan nutrisi yang terdapat dalam makanan alami yang bersifat kompleks, nutrisi suplemen cenderung bersifat sederhana. Suplemen vitamin C dosis tinggi misalnya, dibuat secara spesifik dan hanya berisi vitamin C dengan dosis tinggi.
Karena sifat vitamin C ini mudah larut dalam air, maka dibuat secara sintetis alias buatan pabrik. Begitu juga dengan jenis suplemen lainnya, seperti untuk penambah darah, penambah berat badan ataupun suplemen lainnya.
Kebutuhan Vitamin dan Suplemen Makanan
Pembahasan mengenai vitamin dan suplemen makanan memang sejak lama selalu menjadi perdebatan. Terlebih informasi mengenai proses pembuatan maupun kandungan nutrisi yang terkandung dalam suplemen tidak begitu transparan.
Produk makanan suplemen memang selalu diopinikan sebagai makanan sehat dengan bahan yang terbuat dari zat-zat gizi dan non gizi alami serta tidak mengandung bahan kimia. Namun dalam proses pembuatannya tetap saja ditambahkan zat tambahan.
Vitamin dan suplemen makanan yang merupakan produk komersil sama saja dengan produk-produk makanan olahan kemasan yang beredar di pasaran.
Seperti dalam proses pengolahannya ada tahapan penekanan dan suhu tinggi agar produk bisa dikemas secara praktis. Adanya proses pengolahan seperti itu tentu akan menghilangkan berbagai nutrisi dari bahan baku alaminya.
Menambahkan zat tambahan pada bahan pembuatan suplemen diantaranya bertujuan agar rasanya lebih enak, kemasannya lebih awet dan yang paling utama adalah agar lebih awet.
Biasanya zat-zat tambahan yang ditambahkan pada suplemen makanan yaitu adalah siklamat atau sakarin.
Saran Konsumsi Suplemen Makanan
Meski supleman baik untuk menambah asupan pada tubuh, namun makanan jenis ini tidak bisa menggantikan makanan sehari-hari.
Fungsi suplemah hanyalah untuk melengkapi konsumsi makanan alami. Itupun hanya dikonsumsi dalam kondisi tertentu, semisal pada masa penyembuhan pasca sakit atau ketika tubuh memang benar-benar butuh banyak asupan vitamin.
Apabila kandungan nutrisi makanan alami seperti sayur-sayuran dan buah-buahan dibandingkan dengan nutrisi yang terdapat pada makanan supleman, tentu tidak ada apa-apanya. Kandungan nutrisi pada suyaran dan buah-buahan jauh lebih lengkap dan juga lebih sehat.
Karena itu, kalangan medis maupun para ahli gizi sering menyarankan agar kita sebagai konsumen lebih bijak dalam mengkonsumsi vitamin dan suplemen makanan. Tidak semua orang bisa mengkonsumsi makanan semacam ini.
Bagi yang berusia di bawah 40 atau 50 tahun disarankan untuk mengkonsumsi makanan alami ketimbang suplemen makanan. Suplemen lebih disarankan untuk orang-orang yang telah berusia lanjut.
Bijak dalam Konsumsi Makanan
Selain itu, vitamin dan suplemen makanan juga diperuntukan bagi orang yang mengalami defisiensi gizi tertentu. Semisal orang yang kekurangan vitamin atau mineral tertentu, maka harus dipenuhi dengan suplemen.
Suplemen juga diperuntukkan bagi orang yang tengah memulihkan kondisi tubuhnya pasca terserang penyakit atau setelah sembuh. Dalam masa pemulihan itu orang yang baru sembuh dari sakit memang membutuhkan asupan vitamin yang lebih banyak.
Dengan mengenali dan mengetahui kebutuhan tubuh, Anda bisa mengkonsumsi suplemen makanan yang memang dibutuhkan tubuh. Bijak dalam mengkonsumsi asupan ini merupakan cara terbaik mendapatkan manfaat optimal dari suplemen tambahan ini.
Namun jika anda kurang mengenali kebutuhan tubuh anda, tak ada salahnya untuk berkonsultasi terlebh dahulu dengan dokter atau ahli gizi sebelum mengonsumsi vitamin dan suplemen makanan. (R9/HR-Online)