Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Bisnis maggot menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian masyarakat di Kota Banjar. Bisnis ini bukan hanya nilai ekonominya yang menggiurkan, namun dari sisi pemanfaatan lingkungan juga sangat baik.
Seperti yang dilakukan oleh sejumlah pemuda di RT. 3, RW. 8, Lingkungan Lemburbalong, Kelurahan Pataruman, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar. Mereka memanfaatkan sampah buah dan sayuran yang ada di pasar untuk budidaya maggot.
Khoerom Munasir, salah satu pemuda setempat, mengatakan, inspirasi pengembangan bisnis maggot atau lalat tentara itu setelah dirinya belajar kepada temannya yang berada di Margasari, Kelurahan Bojongkantong, Kecamatan Langensari.
Setelah mendapatkan penjelasan mengenai siklus maggot dan segala sesuatunya, ia pun mengaku tertarik untuk mengembangkan. Apalagi Khoerom sendiri tengah mengembangkan budidaya ikan lele.
“Kebetulan saya juga sedang budidaya lele, jadi untuk pakannya selain menggunakan pelet, saya campurkan maggot ini. Kandungan protein hewani dalam maggot ini kan sangat bagus untuk pertumbuhan lele,” tuturnya, kepada Koran HR, Selasa (26/11/2019).
Dari pengembangan maggot ini, Khoerom menilai prosesnya sangat mudah dan dapat dilakukan oleh siapa saja, baik di wilayah perkotaan maupun pedesaan, asalkan ada tempat untuk pembesaran maupun peneluran maggot.
Sedangkan, dari segi makanan, dirinya memanfaatkan limbah sayur dan buah-buahan yang dibuang di sekitar Pasar Banjar. Meski dalam mengembangkan bisnis maggot masih skala kecil, namun ia melihat potensi yang sangat besar untuk pengembangan di Kota Banjar.
“Ya kalau kita mau berpikir memanfaatkan sampah organik, khususnya limbah sayur dan buah yang ada di pasar, itu bisa jadi potensi buat bisnis maggot ini. Sama orang lain mah dibuang, kalau sama kita diambil untuk maggot. Maggotnya bisa buat pakan,” kata Khoerom.
Hal senada juga dikatakan Riswandi, pemuda lainnya. Menurutnya, bisnis maggot yang saat ini sudah mulai tenar di masyarakat, sehingga kesempatan tersebut harus bisa diambil sebaik mungkin untuk kampanye lingkungan.
Menurutnya, sampah yang menjadi persoalan, terutama sampah organik, minimalnya bisa terurai dengan cukup cepat oleh hewan yang memiliki nama latin Black Soldier Fly (BSF) ini.
“Kita ambil sampah dari pasar hampir tiap hari. Ini artinya maggot itu sangat lahap dengan sampah organik. Saya pikir, ketika ini bisa berjalan dalam skala besar, atau dikembangkan juga oleh banyak orang di Banjar, bukan tidak mungkin ini bisa menjadi salah satu solusi dari persoalan sampah,” jelasnya.
Dari sisi nilai ekonomi, lanjut Riswandi, bisnis maggot juga selain dapat mengurangi penggunaan pelet untuk pakan ikan, juga bisa diperjualbelikan kepada masyarakat. Baik itu digunakan untuk pakan ayam, burung, maupun perikanan.
“Saya kemarin mencoba beli di Jawa Tengah, beli 30 ribu rupiah dapat 4 kilogram maggot. Kalau teman saya itu pernah beli satu kilogram dihargai 25 ribu rupiah. Sedangkan, di Banjar kita belum tahu pasarannya berapa,” kata pria asal Aceh ini.
Melihat potensi tersebut, lanjut Riswandi, maggot bisa menjadi salah satu terobosan baru dalam memanfaatkan sampah yang ada di sekitar kita. Untuk itu, peran pemerintah juga sangat perlu untuk mengkampanyekan hal tersebut.
“Pengembangan ini sangat mudah, tidak perlu biaya banyak dan hasilnya lumayan. Makanya saya coba dulu bisnis maggot ini sebelum nanti mengajak teman-teman saya untuk mengembangkannya,” pungkas Riswandi. (Muhafid/Koran HR)