Selain membuat gerah, paparan sinar matahari juga menyebabkan masalah pada kulit. Pasalnya, Sinar ultraviolet matahari (UV) mampu merusak elastin atau serat kulit, sehingga kulit lebih mudah iritasi dan memerah.
Terlebih, suhu panas ekstrem yang terjadi sepanang musim kemarau yang melanda wilayah Indonesia belakangan ini. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), sejak tanggal 9 Oktober 2019 suhu udara di Indonesia mencapai 37 derajat celcius.
Terkait paparan sinar matahari, efeknya ternyata bisa merusak sel kulit. Bahkan bisa meningkatkan risiko kanker kulit. Salah satu cara untuk menghindarinya, yakni penggunaan tabir surya saat keluar rumah dan mengonsumsi lebih banyak cairan. Dilansir dari Liputan6.com, berikut ini masalah kulit akibat paparan sinar matahari;
Sunburn
Kulit terbakar matahari (Sunburn) adalah istilah untuk kulit merah. Akibat paparan ultraviolet (UV) berlebihan dari matahari ini juga kadang-kadang mengakibatkan bengkak serta menyakitkan.
Sunburn merupakan faktor risiko serius kanker kulit. Pada beberapa kasus, sengatan matahari ini juga dapat menyebabkan kulit melepuh. Menghindari sengatan matahari lebih baik keetimbang mengobati efeknya.
Cara yang paling baik untuk mengatasi sunburn yakni dengan menghindari sengatan matahari. Selain itu, krim hidrokortison atau penghilang rasa sakit, juga dapat membantu mengurangi peradangan dan gatal-gatal.
Perbanyaklah mengonsumi atau minum air untuk membantu merehidrasi kulit serta menghindari masalah kesehatan yang terjadi akibat paparan sinar matahari.
Age Spots
Paparan sinar matahari juga menyebabkan solar lentigines atau age spot. Kondisi ini juga sering disebut bitnik-bintik penuaan. Penyebabnya adalah paparan sinar matahari pada kulit yang terjadi dalam jangka waktu lama.
Sebenarnya, kondisi seperti ini tidaklah terlalu berbahaya. Namun, age spot biasanya muncul pada bahu, lengan, tangan dan wajah. Ukuran dan warnanya pun berbeda-beda, misalnya oval atau datar dengan peningkatan pigmentasi. Warnanya cokelat atau hitam.
Age spots umumnya terjadi pada orang dewasa di atas usia 50 tahun. Tetapi tidak menutup kemungkinan, orang dewasa di bawah usia 50 juga terkena age spot. Apalagi jika mereka sering berada di bawah paparan sinar matahari.
Karena tidak membahayakan, bintik-bintik penuaan pada kulit ini tidak tidak memerlukan perawatan serius. Bitnik-bintik penuaan ini bisa diatasi dengan krim topikal.
Melasma
Melasma atau bercak coklat yang abu-abu muncul di kulit (wajah), merupakan kelainan pigmentasi umum. Selain kulit wajah, melasma juga bisanya muncul di kulit daerah lain yang sering terpapar sinar matahari.
American Academy of Dermatology, mengungkapkan, 10 persen dari semua kasus melasma terjadi pada kalangan pria. Namun, wanita hamil dan berkulit gelap juga berisiko lebih besar terkena melasma.
Perkembangan bercak kulit berubah warna menjadi gejala utama terkena melasma. Meskipun tidak ada gejala fisik lain, sejumlah orang keberadaan bercak ini mengganggu penampilan mereka.
Pada perempuan hamil, biasanya melasma akan memudar setelah melahirkan atau berhenti minul pil KB. Tidak diperlukan perawatan ekstra untuk mengatasi masalah kulit seperti melasma.
Solar Elastosis
Solar elastosis atau elastosis aktinik adalah kondisi dimana kulit kehilangan kekuatan dan fleksibilitasnya. Keadaan ini disebabkan karena jaringan ikat kulit, kolagen dan serat elastin, yang terletak di lapisan kulit yang lebih dalam (dermis), terkena radiasi ultraviolet.
Ciri yang paling umum akibat solar elastosis adalah lipatan vertikal, kering, kerutan dalam, dan kulit kendur. Keadaan ini bisa terjadi akibat dari efek kumulatif paparan sinar matahari.
Banyak sekali pilihan perawatan untuk kondisi ini, termasuk dermabrasi. Selain itu, juga ada aplikasi topikal asam retinoat, pelapisan laser karbon dioksida, injeksi asam hialuronat ke dalam dermis, imiquimod, salep tacrolimus, dan terapi estrogen topikal.
Strategi pencegahan yang dianggap paling efektif untuk mencegahnya yaitu meminimalkan terkena paparan sinar matahari secara langsung. Salah satunya melalui penggunaan tabir surya.
Keratosis Aktinik
Keratosis aktinik atau solar keratosis merupakan pertumbuhan pra-kanker pada kulit. Penyebabnya adalah paparan sinar ultraviolet dalam jangka panjang. Pra-kanker ini menunjukkan bahwa Keratosis aktinik atau solar keratosis bisa berkembang menjadi kanker.
Keratosis aktinik memiliki variasi ukuran. Selain itu, juga memiliki variasi warna. Umumnya, gejala pada kondisi ini adalah bercak bersisik dan kulit berkerak. Pada beberapa kasus, kondisi permukaan kulit mengeras seperti kutil, gatal dan terbakar bisa terasa di area paparan.
Banyaj juga pilihan perawatan untuk keratosis aktinik. Misalnya meliputi cryosurgerym pengangkatan dan biopsi bedah, terapi fotodinamik, pengelupasan kimia, dermabrasi, dan terapi imunomodulator.
Kanker Kulit Melanoma
Melanoma merupakan jenis kanker kulit yang paling serius. Melanoma berkembang dalam sel melanosit penghasil melanin. Penyebab melanoma belum pasti dan jelas. Namun paparan radiasi ultraviolet (UV) sinar matahari meningkatkan risiko pengembangan melanoma.
Melanoma bisa berkembang di bagian anggota tubuh manapun. Paling sering, melanoma berkembang di daerah, seperti punggung, kaki, lengan, dan wajah.
Perawatan melanoma mirip dengan kanker lainnya. Dan pembedahan merupakan perawatan paling umum untuk masalah kulit seperti kanker melanoma. (Deni/R4/HR-Online)