Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Batik asli Pangandaran yang diproduksi di Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, ini cukup unik. Pasalnya, untuk mewarnai kain agar menghasilkan motif batik yang elegan, ternyata menggunakan pewarna alami dari kulit buah dahon.
Seperti diketahui, pohon dahon atau nipah dikenal dengan buahnya yang bisa dimakan. Buah dahon ini biasanya digunakan sebagai campuran es buah atau diolah sebagai makanan manisan.
Namun, apabila membelah buah dahon, disarankan harus berhati-hati. Karena apabila getahnya menyembur dan kemudian kena ke pakaian, dipastikan sulit dibersihkan, meski dibilas dengan menggunakan pemutih pakaian sekalipun.
Elin Herlina, pemilik Ecoprint Batik Dahon, Rabu (02/10/2019), mengatakan, ide membuat batik asli Pangandaran yang menggunakan pewarna alami dari kulit buah dahon ini awalnya terinsiprasi dari getahnya yang sulit dihilangkan apabila menempel pada pakaian.
Selain itu, tambah Elin, dirinya pun teringat pada alat tangkap ikan tradisional yang dilukis dengan menggunakan pewarna alami dari kulit kayu. Namun, pewarna dari kulit kayu kurang kuat dalam waktu lama. Tetapi, pewarna dari getah kulit buah dahon, kalau sudah menempel di pakaian, akan sulit dihilangkan, meski sudah bertahun-tahun.
“Membuat batik dengan menggunakan pewarna alami agar memiliki ciri khas tersendiri. Untuk kualitas pewarna alami ini tidak perlu diragukan. Kalau tidak percaya, coba saja getah kulit buah dahon digosokkan ke pakaian. Pasti sulit hilang. Meski dibersihkan dengan pemutih sebagus apapun getah dahon tetap akan lengket dan tidak bisa hilang,” ujarnya.
Sedangkan untuk membuat motif batiknya, lanjut Elin, dirinya memanfatkan dedaunan yang ada di sekitar rumah. Menurutnya, karena semua bahan pewarna batik menggunakan bahan alami, maka jangan heran kalau motif batik asli Pangandaran ini kebanyakan bergambar dedaunan.
“Daun jati, mahoni, janitri, suren dan daun lainnya digunakan sebagai gambar pada motif batik ini. Namun, meski semua gambar batiknya terdapat gambar dedaunan, namun dibuat dengan motif yang berbeda-beda,” katanya.
Menurut Elin, dengan menggunakan pewarna dari bahan alami tentu tidak menimbulkan pencemaran pada lingkungan. Bahkan sisa pencelupan bisa disiram ke tanaman. Sementara sisa daun yang dipakai motif bisa digunakan sebagai pupuk.
“Batik asli Pangandaran ini sudah sampai ke Belanda. Karena suami saya sebagai Guide (Pemandu Wisata), jadi banyak relasi turis Belanda yang hingga kini masih berkomunikasi. Mereka ternyata menyukainya.
Karena proses pembuatan batik ini dibuat secara tradisional dan semua bahan bakunya ramah lingkungan. Motifnya juga tidak kalah keren dengan motif dari pewarna sintetis. Apalagi bahan bakunya sangat mudah didapatkan,” pungkasnya. (Bgj/R2/HR-Online)