Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Asal mula nama Desa Kujangsari diambil dari nama tokoh masyarakat setempat, yang terilhami oleh nama sandi atau alias Eyang Kujang Gerang, yang saat ini makamnya menjadi salah satu situs cagar budaya di Kota Banjar.
Hal itu dikatakan Kiai Syuhud (70), warga Dusun Cijurey, RT.03/04, Desa Kujangsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, kepada Koran HR, (17/09/2019).
Ia menuturkan, nama Kujang Gerang merupakan nama alias dari tokoh Sholih yang namanya ingin disamarkan. Karena itulah, tidak ada yang mengetahui siapa nama asli Eyang Kujang Gerang.
“Nama asli beliau tidak ada yang mengetahui. Ini juga berdasarkan cerita turun-temurun dari para leluhur di daerah sini,” terangnya.
Kiai Syuhud juga menjelaskan, nama Kujang Gerang bukanlah nama dari senjata khas Tatar Sunda, melainkan nama alias atau nama sandi dari orang Sholih. Meski memang Kujang merupakan nama senjata khas Tatar Sunda, tapi ini menjadi nama sandi atau nama alias seseorang.
“Sedangkan, Gerang bukanlah garang atau ganas. Kata Gerang berasal dari bahasa Sunda yang berarti tua, sepuh, ampuh, atau sakti,” jelas Kiai Syuhud.
Sementara itu, Idi Suryadi (65), salah seorang tokoh masyarakat Dusun Cijurey, RT.04/05, mengatakan, nama asli Kujang Gerang adalah Eyang Jaya Binangun, sedangkan adiknya yang dikenal dengan Tenggek Loncer bernama asli Minak Loncer atau dikenal dengan Minak Jinggo.
“Kujang Gerang adalah tokoh Sholih, kala itu sedang mengembangkan Islam, beliau berasal dari Cirebon,” kata Idi.
Senada dikatakan perawat makam/juru kunci situs Eyang Kujang Gerang, Dusun Cijurey, Iwan Cahya Herawan (38), bahwa Eyang Kujang Gerang adalah orang sholih yang berasal dari Kota Cirebon.
“Di dekat makam Eyang Kujang Gerang ada mata airnya. Di situ dahulu Eyang Kujang Gerang mandi, berwudu dan bersuci. Saat ini mata air tersebut digunakan untuk kebutuhan warga,” jelasnya.
Iwan meyakini, Eyang Kujang Gerang adalah tokoh sholih, dan itu dibuktikan dengan adanya batu tapak, yaitu batu bulat dengan bekas dua telapak kaki dan bekas jidat yang diyakini sebagai tempat sholat Eyang Kujang Gerang.
Menurut pengalaman Iwan sebagai mantan perawat benda-benda bersejarah di Museum Pusaka Galuh Kabupaten Ciamis, batu tapak yang ditemukan itu merupakan saksi sejarah yang tinggi nilainya.
Iwan pun mengatakan, sekitar tahun 2015, warga di daerah tersebut sempat ramai berebut batu tapak peninggalan Eyang Kujang Gerang. Warga berniat akan menjualnya, karena pada ribut, akhirnya Iwan yang dibantu adiknya, menitipkan batu tapak di Museum Pusaka Galuh Kabupaten Ciamis. Sampai saat ini keberadaannya masih ada di museum.
Menurutnya, situs Eyang Kujang Gerang jika dirawat bersama-sama bisa lebih bagus, sehingga akan menarik minat pengunjung. “Selain menjadi saksi sejarah, tempat tersebut juga memberikan dampak positif bagi warga, misalnya jalan menjadi ramai, dan banyak pedagang,” kata Iwan.
Dari pantauan Koran HR, jalan menuju areal makan Eyang Kujang Gerang tidak terlalu sulit untuk dilalui. Di antara pepohonan Jati yang kini mengering, terlihat jelas tumbuh-tumbuhan hijau menjadi tanda Eyang Kujang Gerang di makamkan. (Sugeng/Koran HR)