Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),– Penipuan via telepon nyaris menimpa Mimin (47) warga Dusun Sindang Desa/Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Mimin nyaris kena tipu penelepon gelap yang mengaku saudaranya dan meminta sejumlah uang.
Kejadian berawal ketika Mimin menerima telepon dari nomor tak dikenal, ketika diangkat penelepon mengaku sebagai saudaranya yang bernama Ade Enur.
“Awalnya saya sedang nonton TV, tiba-tiba ponsel bordering, tapi yang tertera di layar adalah nomor tidak dikenal. Ketika ponsel diangkat, penelepon mengaku saudara saya, Ade Enur,” terang Mimin kepada HR Online, Minggu (4/8/2019).
Mimin menuturkan, penelepon yang mengaku sebagai Ade Enur itu mengabarkan suaminya mengalami musibah dan berurusan dengan Polisi.
“Karena memang di keluarga ada yang namanya seperti disebutkan penelepon, bikin saya gugup dan sangat mengaduk-ngaduk perasaan, apalagi denger suaminya kena musibah dan berurusan dengan polisi,” kata Mimin.
Lanjut Mimin, mendengar saudara sedang dalam musibah dan tengah berurusan dengan polisi, ia sempat berpikir bahwa masalah yang dihadapi oleh suaminya Ade Enur harus segera diselesaikan.
“Apalagi si penelepon itu merengek-rengek, minta bantuan untuk menebus suaminya agar kasusnya tidak berlanjut dan bisa segera dibebaskan,” kata Mimin.
Mimin mengaku sempat bertanya jumlah biaya yang dibutuhkan, si penelepon menjawab bahwa dirinya membutuhkan uang sebesar Rp 1.200.000.
“Mintanya itu satu juta dua ratus, wah besar juga kata saya waktu itu,” lanjut Mimin.
Saat mendengar jumlah uang yang diminta si penelepon tersebut, Mimin langsung berpikir untuk menemui Ade Enur. Saat itulah, dirinya kemudian menghubungi saudaranya itu.
“Saya video call dan menananyakan kabar suaminya, malah senyum-senyum di video call bareng sama suaminya itu,” katanya.
Saat itu, Mimin baru sadar dirinya tengah dimodusin oleh penelepon gelap tersebut dan hampir terkena penipuan via telepon. “Alhamdulillah niat transfer uang pun tidak jadi,” katanya.
Sementara Ade Enur, mengatakan, penipuan dengan memanfaatkan sisi emosional korban sudah masuk ke pedesaan. Modus tersebut bertujuan agar korban terlena dan mengirim sejumlah uang.
“Sepertinya penipuan melalui pesan singkat dan telepon dialami banyak kalangan tanpa pandang bulu. Pelaku menyasar korban secara acak, sebetulnya si penelepon belum mengenal sosok yang dijebak, seperti Mimin saudara saya itu,” terang Ade Enur.
Namun, kata dia, modus dan sasarannya kadang tidak tepat, seringkali orang yang diteleponnya keburu sadar.
“Seperti halnya Mimin, sehingga aksinya berujung kegagalan,” kata Ade.
Erah, teman dekat Ade Enur yang pernah mengalami hal serupa, mengatakan, penipuan via telepon biasanya dimulai dari pelaku yang membuat percakapan seprofesional mungkin.
“Misalnya ada juga yang menyamar sebagai operator yang menawarkan iming-iming hadiah berupa uang atau mobil,” terang Erah.
Erah mengatakan biasanya pelaku mengacak nomor untuk mencari target korban. Sekali mengangkat panggilan dari nomor tidak jelas, nomor yang telah dipanggilnya akan disimpan.
“Sehingga apabila ada nomor masuk tidak dikenal lebih baik diabaikan saja,” katanya.
Kata Erah, jika sekali saja mengangkat telepon dari nomor tidak dikenal, maka tidak menutup kemungkinan menghubungi kembali untuk melancarkan modus baru.
“Beruntung kalau seperti yang dialami Mimin, begitu mau transfer uang nanya dulu atau menemui saudaranya, sehingga bisa selamat dari modus penelepon gelap,” pungkasnya. (Edji/R7/HR-Online)