Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Harga tanah di jalur lingkar selatan Ciamis, Jawa Barat, kian melonjak. Saat ini harga tanah di jalan yang bernama Otto Iskandar Dinata itu berkisar Rp 5-10 juta per bata.
Tokoh pemuda sekitar jalan lingkar selatan yang tepatnya di Desa Handapherang, Kecamatan Cijeungjing, Anwar Solihin, menyebut, kenaikan harga tanah di jalur lingkar selatan terus melonjak sejak tahun 2010 lalu.
Padahal, kata ia, dulu harga tanah di jalan lingkar selatan Ciamis hanya sekitar Rp 1 juta dan naik menjadi Rp 2 juta per bata.
“Sekarang karena sudah ramai, jadi harganya makin tinggi. Sekitar Rp 5 juta ke atas perbatanya,” ujar Solihin kepada HR Online Minggu (18/8/2019).
Perkembangan pembangunan di jalan lingkar selatan Ciamis, lanjut Anwar, membuat harga tanah di sana cepat sekali naik.
Misalnya di Desa Ciharalang, dibangun kawasan industri pabrik bulu mata, pabrik kayu albasia, pabrik makroni, briket, SPBE dan lainya. Pun dengan Desa Bojongmengger kini telah berjejer pabrik alba dan pabrik cor jayamix.
Kehadiran pabrik-pabrik tersebut, kata Anwar, tentu membuat lingkungan setempat kian ramai. Warga banyak yang membuat warung, kontrakan, laundry dan lain sebagainya, sehingga perekonomian warga pun meningkat.
Kehadiran proyek bendungan Leuwikeris juga memicu harga tanah di jalan lingkar selatan melonjak. Banyak orang ingin menginvestasikan tanah di sekitar Bendungan Leuwi Keris.
“Wajar saja harga tanah naik, selain karena perubahan nilai uang, juga karena banyak faktor. Utamanya perkembangan pembangunan di jalan lingkar selatan Ciamis,” jelasnya.
Apalagi, lanjut Anwar, saat ini Pemda Ciamis merencanakan aktivasi jalan lingkar selatan dari arah Bojongmengger-Imbanagara atau sebaliknya untuk angkutan berat.
“Intensitas kendaraan pasti akan selalu ramai, tentunya akan mampu menggeliatkan perekonomian masyarakat, jelas harga tanah juga akan semakin melonjak,” tandasnya.
Harga Tanah Sekitar Proyek Bendungan Leuwi Keris Juga Melambung
Prospek bidang pariwisata di sekitaran proyek bendungan Leuwi Keris yang ada di Desa Handapherang dan Ciharalang Kecamatan Cijeungjing Kabupaten Ciamis cukup menjanjikan.
Panorama alam dan pemandangan bendungan nantinya akan menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke bendungan Leuwi Keris.
Saat ini pun masih banyak lahan-lahan milik warga sekitar bendungan yang tidak terdampak proyek bendungan Leuwi Keris. Lahan-lahan masyarakat ini yang berpotensi menjadi ladang usaha para investor yang ingin mengembangkan usahanya.
Karena dianggap
berpotensi, harga tanah di sekitaran jalan menuju proyek bendungan kini
melambung tinggi. Contohnya tanah di blok Cibatok Desa Handapherang. Awalnya,
harga tanah di sana tidak lebih dari Rp 500.000 perbata. Namun kini mencapai Rp
5 juta perbata.
“Memang sekarang sudah sangat ramai, dan potensinya sangat menjanjikan untuk
dijadikan ladang usaha. Makanya harga tanah naik hingga sepuluh kali lipat,”
terang salah satu pemilik lahan, Sodik (40) warga Desa Handapherang.
Kata dia, masih banyak warga yang memiliki tanah di seputaran lokasi bendungan. Hanya saja, kini masyarakat memilih untuk mengolahnya kembali dan tidak akan dijual kepada orang lain, apalagi orang luar.
“Tanah ini akan
dikelola untuk ladang usaha masyarakat pemiliknya. Kalau dijual ke orang luar
takut malah akan merugikan masyarakat sini dan hanya akan jadi penonton,”
tegasnya.
Saat ini, ungkap Sodik, banyak orang luar yang mencari tanah masyarakat di
sekitaran bendungan. Menurut Sodik, hal itu wajar karena mengetahui prospek
yang bagus kedepanya.
“Namun masyarakat masih sepakat untuk tidak menjualnya,” tandas Sodik. (Jujang/R6/HR-Online)