Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Peneliti Jepang dari Kogawa University, DR. Yoshiyuki Kaneda, mengungkapkan kemungkinan terjadi gempa Megathrust di Selatan Jawa. Meski begitu, ia tidak memaparkan secara detail dampak dari gempa tersebut.
Di sela kegiatan Ekspedisi Destana di Pangandaran beberapa waktu lalu, ia menjelaskan, di negaranya sudah dipasang sensor tepat di atas sumber gempa yang berada di bawah laut. Sensor tersebut berguna untuk menyiapkan data yang akurat mengenai apa yang terjadi jika gempa terjadi, seperti data tinggi gelombang.
“Setelah gempa Aceh tahun 2004, saya menginisiasi pemasangan sensor di Jepang pada tahun 2011. Sensor itu dipasang di dasar laut di atas sumber gempa. Sekarang di Jepang sudah memiliki transmisi canggih. Meski sangat mahal, di sisi lain sangat membantu,” kata Yoshiyuki.
Melalui sensor tersebut, lanjut Yoshiyuki, bakal ditampilkan skenario dampaknya, seperti jangkauan ke daratannya, dampak kerusakan serta lainnya. Sebab, sensor canggih tersebut di pasang di sumber gempa dan terkoneksi langsung.
Yoshiyuki menyebut sensor tersebut bernama Dance Oceanfloor Network System for Earthquakes and Tsunami atau DONET. Sensor ini terdiri dari 8 buah. Fungsi utamanya adalah mengukur aktivitas perubahan seismik dan perubahan tekanan, mengukur goncangan gempa serta gelombang laut.
Baca Juga: Saat di Pangandaran, Peneliti Jepang Sarankan Warga Tetap Waspada Isu Gempa Megathrust
“Satu sistem tersebut sensornya banyak. Hal ini berguna untuk mengukur dan merekam banyak fenomena yang terjadi pasca gempa. Sementara itu, sistem ini sudah diintegrasikan dengan sistem milik saya di provinsi bagian Jepang. Sebag, lokasinya sangat dekat dengan subduksi,” jelasnya. (Mad/Koran HR)