Berita Ciamis (harapanrakyat.com),- Kecamatan Sadananya, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, dikenal wilayah subur dan air melimpah dari Gunung Sawal, yang mengalir melalui Sungai Cileuer.
Petani di Sadananya pun sejak dulu mendapatkan pasokan air untuk mengairi sawahnya. Namun memasuki musim kemarau, debit air Sungai Cileueur semakin menyusut.
“Kalau kesulitan air bersih belum. Hanya kalau kemarau seperti sekarang, air memang berkurang. Bisa dilihat dari volume dan debit air Sungai Cileueur. Makin hari makin menyusut,” kata Sekretaris Desa Sadananya, Sudrajat, Rabu (14/08/2019).
Sudrajat menuturkan, hal ini terjadi lantaran rusaknya hutan gunung sawal. Sejak 15 tahun lalu, masyarakat Sadananya sudah merasakan efek buruk kerusakan itu, yakni berkurangnya pasokan air.
“Kondisi saat ini berbeda jauh dengan 30 tahun lalu. Air melimpah, satu tahun kemarau, masyarakat Sadananya masih bisa bertanam padi,” jelasnya.
Menurut Sudrajat, pasca beralihnya status Gunung Sawal dari hutan lindung menjadi hutan produktif membuat ekosistem di seputaran hutan kritis.
Dampaknya sangat terasa oleh kawasan yang berada di seputaran gunung, terutama wilayah yang mengandalkan air dari hutan Gunung Sawal seperti wilayah Kecamatan Sadananya.
“Harus ada keseimbangan alam, hutan Gunung Sawal sekarang gundul, harus ada reboisasi besar-besaran,” jelasnya.
Dengan kondisi yang mulai berubah, Sudrajat menambahkan, muncul keprihatinan dari berbagai elemen masyarakat.
Saat ini di Gunung Sawal ditanami tanaman yang tidak dapat menampung air, namun malah menyerap dan menghabiskan air. Sehingga tatkala kemarau melanda tidak ada cadangan air yang menyebabkan kekeringan dimana-mana, termasuk daerah sekitar kaki Gunung Sawal.
Maka dari itu, Sudrajat berharap, status hutan Gunung Sawal kembali menjadi hutan lindung, terutama di Blok Bobojong. Sebab apabila terus dibiarkan malah akan semakin berdampak buruk bagi masyarakat dengan gundulnya hutan Gunung Sawal.
Sudrajat juga meminta dukungan dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang peduli terhadap kelangsungan ekosistem Gunung Sawal untuk ikut mendukung agar hutan Gunung Sawal menjadi hutan lindung kembali.
“Ini demi kemamkmuran dan kesejahteraan masyarakat. Jangan sampai anak cucu kita nanti kekurangan air karena hutan Gunung Sawal rusak,” ujarnya.
Di Kecamatan Sadananya, terutama aliran Sungai Cileuer, selain mengalami kekeringan apabila terjadi kemarau, tatkala dilanda hujan deras pun malapetaka datang. Banjir bandang kerap terjadi dan merugikan masyarakat terutama petani padi. Karena padinya rusak tergenang air.
“Ini kondisi yang sangat memprihatinkan. Maka, saya mengajak kepada semua element masyarakat untuk ikut peduli dan ikut mendukung agar hutan Gunung Sawal kembali menjadi hutan lindung,” tegas Ajat.
Pihaknya juga mendesak pemerintah terutama DPR agar segera merubah status hutan Gunung Sawal menjadi hutan lindung. Dulu, kata dia, pernah ada kunjungan dari anggota DPR RI. Dan dia mengaku tidak menutup kemungkinan pemerintah bisa merubah hutan Gunung Sawal menjadi hutan lindung.
Asalkan ada permohonan dari semua daerah yang berada di wilayah Gunung Sawal, seperti Kecamatan Sadananya, Cikoneng, Panumbangan, Ciheurbeuti, Panjalu, Sumakantri, Kawali serta Baregbeg.
“Mudah-mudahan aspirasi masyarakat bisa didengar dan direalisasikan. Agar masyarakat kembali makmur dengan kondisi Gunung Sawal yang lestari,” ucapnya. (Jujang/R4/HR-Online)