Gaya hidup menjadi salah satu penyebab kanker usus besar tetap bertahan sebagai penyakit yang mematikan. Kasus kanker jenis ini terus meningkat di tengah masyarakat.
Penyebab kanker usus besar memang belum diketahui dengan jelas hingga saat. Tetapi, gaya hidup yang tidak sehat diduga dapat meningkatkan risiko seseorang menderita penyakit tersebut, seperti halnya tidak suka mengonsumsi makanan berserat, jarang berolahraga, merokok, dan suka minuman beralkohol.
Dirangkum HR Online dari berbagai sumber, Jum’at (28/06/2019), saat ini kanker usus besar merupakan salah satu penyakit kanker yang menyebabkan kematian utama, baik pada wanita maupun pria di seluruh dunia. Penyakit tersebut dapat dicegah dan bisa diobati.
Semakin dini ditemukan, maka akan semakin baik prognosisnya. Karena, jika penyakit kanker usus besar ditemukan pada stadium awal, maka harapan hidup 5 tahunnya mencapai 95 persen. Namun sebalikanya, bila kasus ini ditemukan pada stadium IV atau stadium lanjut. maka harapan hidup 5 tahunnya hanya tinggal 12 persen saja.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Ari Fahrial Syam, mengatakan, dalam praktiknya sehari-hari, kasus kanker usus sudah umum ditemukan. Bahkan saat ini kasus-kasus baru justru ditemukan pada usia yang lebih muda.
Faktor Risiko Penyebab Kanker Usus Besar
Memang faktor genetik menjadi faktor risiko penyebab kanker usus besar, namun gaya hidup merupakan hal yang utama. Ada beberapa faktor risiko yang sudah teridentifikasi dan konsisten dalam berbagai penelitian, termasuk penelitian yang dilakukan di Indonesia, yaitu diet tinggi daging merah dan daging olahan, serta kurang mengonsumsi buah dan sayur.
Adanya anjuran untuk mengontrol berat badan dengan mengonsumsi daging merah yang berlebihan dan tidak makan buah karena mengandung karbohidrat, itu merupakan anjuran yang menyesatkan.
“Rokok merupakan faktor risiko utama penyebab kanker usus. Bukan saja perokok aktif, tapi juga perokok pasif. Beberapa penyakit kasus kanker usus yang saya temukan bukan pada perokok, melainkan orang terdekat dan di sekitarnya merokok. Sehingga, mereka yang terkena kanker usus besar itu merupakan perokok pasif,” jelas Ari Fahrial, yang juga Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesi.
Indonesia masih menjadi surganya bagi para perokok lantaran mereka bebas merokok di mana saja. Berbeda dengan di beberapa kota besar di negara maju yang sulit mencari tempat untuk merokok.
Beberapa faktor risiko lainnya adalah kegemukan/obesitas, kurang bergerak, dan sika minum minuman beralkohol. Sedangkan, beberapa faktor risiko penyebab kanker usus besar yang tidak bisa berubah adalah umur. Usia di atas 50 tahun menjadi batasan untuk mulai melakukan skrining.
Sementara, untuk faktor genetik biasanya berupa riwayat polip usus atau kanker pada keluarga, riwayat penyakit radang usus kronis (inflammatory bowel disease/IBD) sebelumnya, dan riwayat diabetes melitus atau penyakit kencing manis.
Selain itu, menderita penyakit radang usus, pernah menjalani radioterapi di bagian perut, menderita kelainan genetik yang disebut familial adenomatous polyposis (FAP) atau sindrom Lynch adalah faktor risiko yang juga harus diantisipasi.
Gejala Kanker Usus Besar
Terkadang gejala kanker usus besar pada stadium awal tidak terasa, bahkan tidak muncul sama sekali. Meski begitu, ada beberapa gejala yang bisa muncul pada kanker usus besar stadium awal, yaitu diare atau sembelit, perut kembung, kram atau sakit perut, perubahan bentuk dan warna tinja, dan BAB berdarah.
Jika sudah memasuki stadium lanjut, penderita kanker usus besar dapat mengalami gejala berupa kelelahan, sering merasa BAB tidak tuntas, perubahan bentuk tinja yang terjadi lebih dari satu bulan, serta menurunnya berat badan secara drastis.
Jika kanker usus besar sudah menyebar ke bagian tubuh lainnya bisa muncul gejala berupa sakit kining (ikterus), pandangan kabur, pembengkakan pada lengan dan tungkai, sakit kepala, patah tulang, dan sesak napas. (Eva/R3/HR-Online)