Berita Ciamis, (harapanrakyat.com), – Jembatan Cirahong Ciamis yang menghubungkan Kabupaten Tasikmalaya dengan Kabupaten Ciamis banyak disambangi warga untuk ngabuburit.
Jembatan unik buatan Belanda tersebut terdiri dari dua tingkat, bagian atas merupakan rel kereta api, sementara bagian bawahnya terdapat lorong yang dijadikan tempat melintas kendaraan roda dua maupun roda empat.
Keunikannya itu membuat Jembatan Cirahong jadi lokasi favorit warga Ciamis untuk nongkrong sambil menunggu azan Magrib. Setiap bulan Ramadan, sejumlah warga tampak asyik duduk-duduk di pinggir rel pada sore hari. Acapkali mereka berfoto bersama sambil menanti kereta melintas.
“Seringnya ngabuburit di Jembatan Cirahong ini, sekedar duduk-duduk dekat rel kereta sambil foto-foto dan ngobrol-ngobrol, kalau kebetulan ada kereta lewat terus bisa diambil fotonya kan jadi bagus,” ujar Rosiana saat ditemui di sekitar Jembatan Cirahong, Selasa (13/5/2019).
Rosiana bersama teman-temannya memilih Jembatan Cirahong Ciamis ini sebagai tempat untuk ngabuburit. Rosiana menilai jembatan ini merupakan pilihan terbaik. Alasannya karena lokasi Jembatan Cirahong Ciamis yang ada di pinggir perkotaan, tidak terlalu ramai bahkan cenderung sepi dari kendaraan.
Selain itu, Jembatan Cirahong juga ada di kawasan perbukitan dan perkebunan hijau milik warga sehingga hawanya cukup sejuk.
“Kita tidak setiap hari ke sini, cuma kalau ada waktu saja nyempetin ngabuburit sama temen-temen,” ungkapnya.
Sejarah Jembatan Cirahong Ciamis
Jembatan yang memghubungkan wilayah Desa Panyingkiran Kecamatan Ciamis dengan wilayah Kecamatan Manonjaya Kabupaten Tasikmalata ini memang unik. Dilihat dari konstruksinya hingga sejarah pembangunan Jembatan Cirahong ini menjadi daya tarik tersendiri.
Sementara dari segi sejarah, dalam data teknis Jembatan Cirahong tercatat dengan nomor register BH 1290. Jembatan ini memiliki panjang 202 meter yang berdiri kokoh di atas sungai Citanduy. Jembatan ini dalam catatan sejarah dibangun pada zaman kolonial Belanda, tepatnya pada tahun 1893.
Dari penelusuran HR Online, catatan sejarah menyebutkan, kala itu pemerintah kolonial Belanda berencana membangun sistem transportasi kereta api di pulau Jawa. Awalnya sebenarnya Jembatan Cirahong tidak termasuk dalam perencanaan atau dengan kata lain jalur kereta api yang akan dibangun Belanda saat itu tidak akan melintasi Kota Ciamis.
Informasi tersebut rupanya didengar R.A.A Kusumadiningrat yang pernah menjabat sebagai Bupati Galuh dari 1839 sampai 1886. Mantan Bupati Galuh tersebut kebetulan memiliki pengaruh kuat terhadap pemerintah kolonial Belanda.
Pengaruh yang dimiliki Bupati Galuh yang kerap dipanggil Kangjeng Prebu ini membuatnya berani melakukan negosiasi kepada pemerintah kolonial Belanda. Negosiasi tersebut dilakukan agar jalur kereta api bisa melalui Ciamis.
Sampai akhirnya Kanjeng Prebu pun berhasil meyakinkan pemerintah kolonial Belanda. hasilnya bisa kita nikmati sekarang, yakni Jembatan Cirahong. (Her2/R7/HR-Online)