Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),– International Animal Rescue (IAR) Indonesia, BKSDA (Bidang Konservasi Sumber Daya Alam) Wilayah III Ciamis bersama aktivis lingkungan dan dibantu warga, melepasliarkan 15 ekor Kukang Jawa di Suaka Marga Satwa Gunung Sawal atau tepatnya di Dusun Batumalang, Desa Nasol, Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Jumat (3/4/2019).
15 ekor Kukang Jawa tersebut merupakan hasil sitaan dan penyerahan sukarela dari masyarakat yang sebelumnya melakukan penangkapan terhadap satwa dilindungi tersebut. Sebelum dilepasliarkan ke habitat aslinya, Kukang Jawa tersebut sudah menjalani perawatan dan rehabiltasi di Pusat Rehabilitasi IAR Indonesia di Bogor.
Dari pantauan di lapangan, saat melepasliarkan 15 ekor Kukang Jawa, petugas gabungan dan aktivis beserta warga harus menyusuri pengunungan Gunung Sawal dengan berjalan kaki selama satu jam. Jarak dari titik kumpul di Desa Nasol ke titik habitat pelepasan satwa kurang lebih berjarak sekitar 3 kilometer. Proses pendakian gunung pun harus dilakukan. Karena tidak ada akses darat untuk menuju ke titik habitat.
15 ekor Kukang Jawa tersebut dibawa dengan menggunakan kandang gendong yang terbuat dari alumunium. Pada setiap kandang, berisi satu atau dua ekor Kukang Jawa atau bagaimana ukuran dan berat hewan tersebut. Setelah sampai di titik habitat atau berada di hutan konservasi Gunung Sawal, 15 kukang jawa tersebut langsung dilepaskan.
Usai melakukan pelepasan, dokter hewan IAR Indonesia, Indri Saptorini, menjelaskan, jumlah total Kukang Jawa yang dirawat oleh pihaknya sebanyak 31 ekor. Namun yang dilepasliarkan di Gunung Sawal sebanyak 15 ekor. Sementara sisanya dilepasliarkan di Hutan Konservasi Masigit-Kareumbi Bandung.
“Kukang Jawa yang dititipkan kepada kami sebagian besar merupakan hasil serahan dari masyarakat ke sejumlah BKSDA di Jawa Barat. Selama berada di IAR, semua Kukang Jawa menjalani rehabilitasi. Setelah beberapa bulan direhabilitasi, semuanya dalam kondisi baik dan sudah siap kembali ke alam bebas,” terangnya.
Menurut Indri, ada beberapa tahapan untuk mengembalikan perilaku hewan liar agar bisa beradaptasi kembali dengan habitatnya. Tahapan pertama dengan dilakukan karantina dan intens dilakukan pemeriksaan medis. Kemudian dilakukan observasi perilaku sampai pengenalan pakan alami. Setelah terlihat kondisinya normal, kemudian direkomendasikan untuk dikembalikan ke habitatnya.
“Semua tahapan itu harus ditempuh untuk mengembalikan sifat liar alaminya. Saat Kukang Jawa diserahkan kepada kami, hampir semuanya dalam kondisi tidak baik. Rata-rata hewan tersebut mengalami kekurangan gizi, stres hingga perubahan perilaku,” ujarnya.
Indri mengatakan, meski kukang jawa sudah dikembalikan ke habitatnya, namun tetap dalam pengawasan petugas. Kukang Jawa yang kini sudah dilepas di Gunung Sawal akan diamati perkembangannya.
“Jadi, kukang yang tadi dilepasliarkan geraknya masih dibatasi. Apabila dalam masa adaptasi perilakunya sudah normal, maka tahapan berikutnya langsung dilepas secara bebas,” katanya.
Di tempat yang sama, Anggota IAR Indonesa, Hilmi Mobarok, mengungkapkan, mudah ditangkapnya kukang oleh masyarakat karena hewan ini lebih suka hidup di luar kawasan konservasi atau daerah perkebunan yang berada di dekat hutan. Malah di daerah konservasi sendiri kukang jarang dijumpai.
“Makanya, ketika hewan ini keluar dari kawasan konservasi, mudah ditangkap oleh masyarakat. Sementara hewan ini disukai oleh para pencinta binatang. Karena Kukang Jawa dikenal lucu dan banyak orang ingin memeliharanya,” ujarnya. (Her2/R2/HR-Online)