Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Sungguh tragis nasib Ai Munawaroh (30), warga Dusun Cirapuan RT 42/RW10 Desa Sindangjaya, Kecamatan Mangunjaya, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Janda anak satu ini dilaporkan menjadi salah satu korban pembunuhan dengan cara dimutilasi yang terjadi di Malaysia pada Januari lalu.
Dari informasi yang dihimpun HR Online, Munawaroh datang ke Malaysia bukan sebagai TKW, tetapi mendampingi bosnya untuk urusan bisnis. Munawaroh bekerja sebagai karyawati di sebuah perusahaan germen (konveksi) di Baleendah, Kabupaten Bandung.
Munawaroh bersama bosnya bernama Nuryanto, terbang ke Malaysia pada bulan Januari lalu. Mayat Munawaroh dan Nuryanto yang sudah tak berbentuk itu, ditemukan di Sungai Buloh, Selangor, setelah beberapa hari berada di Malaysia.
Saat ditemukan, polisi Malaysia sempat kesulitan melacak identitas korban. Setelah dilakukan penyelidikan dan uji forensik, akhirnya diketahui bahwa kedua korban adalah Warga Negera Indonsia. Hal itu diperkuat setelah dilakukan tes DNA.
Seperti dilansir CNN Indonesia, aparat kepolisian Malaysia sudah berhasil menangkap pelaku pembunuhan dengan korban Munawaroh dan bosnya Nuryanto. Pelaku yang berjumlah dua orang ini disebut-sebut warga negera Pakistan. Namun, berdasarkan informasi terakhir, penahanan kedua warga Pakistan itu terkait masalah imigrasi. Sementara polisi Malaysia dikabarkan masih memburu pelaku yang sebenarnya.
Setelah kasus ini terungkap dan identitas korban sudah diketahui, akhirnya pemerintah Malaysia yang dibantu pihak KBRI memulangkan kedua jenazah ke pihak keluarganya. Jenazah Nuryanto dipulangkan ke istrinya di Baleendah Bandung. Sementara jenazah Munawaroh dipulangkan ke keluarganya di Mangunjaya, Pangandaran.
Jenazah Munaworoh Disambut Isak Tangis
Kedatangan jenazah Ai Munawaroh (30), warga Dusun Cirapuan RT 42/RW10 Desa Sindangjaya, Kecamatan Mangunjaya, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, disambut isak tangis histeris pihak keluarganya, Rabu (13/03/2019) sekitar pukul 22.00 WIB. Jenazah korban rencananya akan dimakamkan pada Kamis (14/03/2019) pagi.
Menurut informasi dari pihak keluarganya, korban adalah salah satu karyawan perusahaan konveksi di Baleendah, Bandung. Korban berangkat ke Malaysia bersama bosnya pada tanggal 21 Januari 2019 lalu dengan tujuan untuk menagih hutang kepada rekan bisnis bosnya.
Namun nasib berkata lain. Bukannya berhasil membawa uang tagihan, keduanya malah pulang dalam kondisi sudah tak bernyawa dengan jasad yang sudah terpotong potong (dimutilasi).
Saat ditemui di rumahnya, ayah korban, Rohili, bercerita, anaknya sempat berpamitan untuk pergi mendampingi bosnya ke Malaysia. Sesampainya di Malaysia pun korban terus memberi kabar kepada orangtuanya. “Tanggal 21 Januari, anak saya nelpon dan memberi kabar bahwa dia sudah sampai di Malaysia. Waktu itu dia bilang akan pulang ke Bandung pada tanggal 23 Januari,” ujarnya.
Namun, percakapan ditelepon itu ternyata komunikasi terakhir dengan korban. Sebab, ketika ayahnya mencoba menelpon korban pada tanggal 22 Januari, selalu tidak diangkat. “Saya juga aneh kenapa anak saya tidak mengangkat telepon. Awalnya saya menduga anak saya sedang sibuk dengan urusannya. Setelah itu saya tidak menelpon lagi,” ujarnya.
Setelah tanggal 23 Januari atau rencana anaknya kembali pulang ke Bandung, Rohili kembali menelpon. Saat ditelpon, nomor handphone anaknya aktif, tetapi selalu tidak diangkat. “Saya waktu itu belum was-was. Karena setiap ditelepon, nomor handphone anak saya selalu aktif. Saya masih menduga bahwa dia sibuk dengan urusannya,” katanya.
Namun, selang seminggu kemudian, lanjut Rohili, dirinya dikejutkan ketika mendapat telepon dari seseorang yang mengaku petugas KBRI. Petugas KBRI itu mengabarkan bahwa anaknya sudah meninggal dunia.
“Saya waktu itu terkejut seolah tidak percaya. Malah saya sempat curiga orang itu mau menipu. Tetapi setelah dua hari kemudian, datang petugas dari KBRI dan meminta saya untuk berangkat ke Malaysia guna keperluan tes DNA,” terangnya.
Setelah dilakukan tes DNA di kantor kepolisian Malaysia, tambah Rohili, dirinya baru mendapat penjelasan bahwa anaknya meninggal dunia karena kasus pembunuhan dengan cara sadis. “Saat mendapat kabar itu saya semakin shock. Ternyata kematian anak saya sangat tragis. Dia dibunuh dengan cara dimutilasi,” ujarnya sambil menangis.
Malah, kata Rohili, kepolisian Malaysia memperlihatkan rekaman CCTV sebelum anaknya dibunuh. Pada rekaman itu terlihat anaknya sedang berada di sebuah hotel bersama bosnya. Kemudian dijemput oleh tiga orang yang diduga sebagai pelakunya. “Pada rekaman terakhir anak saya masuk ke dalam sebuah mobil. Menurut dugaan polisi, anak saya bersama bosnya dibunuh di dalam mobil. Kemudian jasadnya dimutilasi dan dibuang ke sungai,” katanya.
Sementara itu, staf KBRI Kualalumpur Malaysia, Haekal Badres, saat menyerahkan jenasah korban ke pihak keluarga, mengatakan, saat ini pemerintah Indonesia bersama pemerintah Malaysia tengah memberikan perhatian khusus terhadap kasus pembunuhan sadis tersebut.
“Kerjasama antara Indonesia dan Malaysia untuk mengungkap kasus ini di mulai dari mencocokan DNA hingga upaya hukum selanjutnya. Artinya, kasus ini akan diusut secara tuntas. Sementara pelaku masih dalam pengejaran pihak kepolisian Malaysia,” katanya.
Sementara itu, Ai Munaworoh yang kini berstatus janda, memiliki dua anak yang masih berusia 7 tahun dan 4 tahun. Kedua anaknya laki-laki. (Suherman/R2/HR-Online)