Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Seni tradisional di Kota Banjar kini belum terlalu mengalami perkembangan. Hal ini tak lepas dari peran Bidang Kebudayaan Kota Banjar yang belum sepenuhnya memfasilitasi para pelaku seni tradisional. Sebut saja kesenian seperti Reog Dongkol, Calung, Gonggo, Reog, Ronggeng Dongkol, dan kesenian tradisional lainnya.
Meski belum terfasilitasi oleh pemerintah, namun ada salah satu kesenian tradisional yang kini masih eksis, yakni Seni Sisingaan. Kesenian Sisingaan Gilang Kencana adalah satu-satunya yang ada di Kota Banjar, yaitu di Lingkungan Parungsari, Blok Katapang, RW. 02, Kelurahan Karangpanimbal.
Kesenian tradisional tersebut kerap tampil dalam acara hajatan (hitanan) maupun di acara kegiatan-kegiatan resmi pemerintah sebagai penyambut kedatangan tamu kehormatan. Tarian Sisingaan diringi oleh kendang, terompet, go’ong, dan ditambah gamelan Sunda serta sinden.
Dalam kesenian Sisingaan ada delapan orang penggotong untuk dua Sisingaan (boneka yang menyerupai Singa). Para pemain ini mengenakan pakaian berwarna kuning, serta ikat kepala khusus.
Satu Sisingaan diangkat oleh empat orang dengan posisi dua di depan dan dua di belakang. Terkadang dalam pertunjukan atraksinya itu, gerakan Sisingaan dinaik-turunkan layaknya permainan ayunan. Bahkan terkadang pemain membuat atraksi gunungan.
Selain itu, hentakan tabuhan kendang dengan gerakan kaki para pemain tarian Sisingaan pun terlihat kompak, sehingga menghasilkan sebuah irama dan gerakan yang sangat serasi.
Pimpinan Gilang Kancana Grup, Dadeng (39), mengatakan, kesenian Sisingaan atau Gotong Singa ini adalah kesenian khas dari Subang, Jawa Barat. Namun menurutnya, tidak ada salahnya jika kesenian tersebut dikembangkan juga di Kota Banjar.
“Meski kesenian ini berasal dari Subang, tapi tidak ada salahnya kami eksiskan di Kota Banjar, yang intinya kami dari generasi muda ingin melestarikan seni budaya Sunda,” ujarnya kepada Koran HR, Senin (04/03/2019).
Ia menambahkan, kesenian ini memang sudah jarang, bahkan menurutnya bisa disebut sudah langka. Makanya selalu menjadi perhatian masyarakat saat pentas mengisi acara-acara seni tradisional, terutama dalam acara pagelaran atau hajatan.
“Di jaman modern seperti ini, kesenian Sisingaan ini memang sudah jarang. Namun, alhamdulillah untuk di Banjar kesenian ini masih bisa bertahan, meski dengan segala keterbatasan,” kata Dadeng.
Rauf (55), salah seorang sesepuh Gilang Kancana Grup, menambahkan, pada tahun 70 hingga tahun 80-an, kesenian tersebut sangat digandrungi masyarakat. Hampir disetiap hajatan pasti selalu ada kesenian Sisingaan, terutama hajatan hitanan untuk kegiatan “turun mandi”.
“Kami akan tetap mempertahankan kesenian Sisingaan ini. Bahkan, kami akan terus mengenalkannya kepada masyarakat, sehingga ke depan para generasi muda di Kota Banjar ini bisa mengenal dan mencintai seni warisan budaya leluhurnya,” imbuh Rauf.
Terkait dengan hal itu, Wakil Walikota Banjar, Nana Suryana, mengaku bahwa dirinya sangat mengapresiasi dengan masih eksisnya kesenian Sisingaan di Kota Banjar. Menurutnya, kesenian tradisional ini harus tetap dipertahankan.
“Saya sangat apresiasi, tidak menutup kemungkinan ke depan kesenian Sisingaan ini akan selalu ditampilkan, terutama dalam penyambutan tamu pemerintahan dari luar kota,” singkatnya. (Hermanto/Koran HR)