Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Viralnya vidio dan berita tentang persekusi siswa terhadap gurunya di Gresik, menandakan bahwa dunia pendidikan kita telah gagal. Hilangnya budi pekerti, etika dan moral di kalangan peserta didik menandakan kegagalan melakukan pendidikan karakter dan sudah lenyapnya pendidikan budi pekerti.
Bangsa Indonesia memiliki karakteristik, budaya dan peradabannya sendiri yang sangat menjunjung nilai-nilai religius sebagai sumber nilai budi pekerti dalam kehidupannya. Hilangya budaya sopan santun, asah asih asuh, saling menghargai dan menghormati, kekeluargaan dalam bentuk gotong royong, menandakan bahwa bangsa ini sedang sakit kronis.
“Saat ini pendidikan budi pekerti sebagai sumber nilai pendidikan karakter telah hilang dan semakin menjauh dari dunia pendidikan kita. Hal ini mengakibatkan kita kehilangan karakter dan ketauladanan,” kata Mohamad Ijudin, Ketua Forum Ketahanan Bangsa (FKB) Kabupaten Ciamis.
Dari kekwatiran itu, kata Ijudin, dipandang perlu pemerintah membentuk peraturan tersendiri tentang pendidikan karakter yang integral berbasis pendidikan budi pekerti. Dimana seharusnya pendidikan budi pekerti dilakukan secara kompak dan integral oleh lembaga pendidikan, lingkungan dan yang terpenting oleh keluarga.
“Dalam pendidikan karakter ini bisa diprioritaskan program parenting bagi orangtua siswa. Setiap triwulan orangtua siswa harus dikumpulkan untuk diberikan pendidikan karakter kepada anak dalam keluarga atau di rumah,” katanya.
Degradasi moral anak bangsa adalah tanggungjawab moral seluruh lapisan masyarakat, terlebih keluarga sebagai penanggungjawab awal pendidikan anak dan pemerintah sebagai penanggungjawab sistem dan kebijakan pendidikan.
Konsep pendidikan karakter berbasis pendidikan budi pekerti harus dirumuskan secara konseptual dan sistematis, sehingga pendidikan budi pekerti tersebut berjalan effektif. Kebijakan pendidikan karakter berbasis pendidikan budi pekerti bukanlah hal mustahil, asalkan ada political will baik dari pemerintah pusat maupun daerah.
“Sehingga kedepan, jika pendidikan karakter berbasis pendidikan budi pekerti kita anggap penting, maka diperlukan para pemimpin bangsa, baik di pusat maupun di daerah, yang peduli terhadap masa depan akhlak dan budi pekerti anak bangsa. (Deni/R4/HR-Online)