Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Pasca terjadinya kasus pembacokan dengan korban Jana (55), seorang bandar kayu, warga Dusun Cimarga RT 38/RW 02 Desa Margajaya, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Kamis (24/01/2019), tampaknya membuat geger warga setempat. Pasalnya, pelaku berinisial R, yang masih satu kampung dengan korban, dikabarkan mengalami gangguan jiwa atau stress.
Pasca terjadinya kasus itu pun membuat warga resah dan ketakutan. Sebab, warga khawatir suatu saat pelaku tiba-tiba muncul ke perkampungan dan kembali mengamuk hingga melukai warga.
Kepala Desa Margajaya, Kuswara, didampingi Sekretaris Desa, Elin, mengatakan, berdasarkan keterangan dari tetangganya, pelaku memang sudah lama mengalami gangguan jiwa. Namun, biasanya tidak sampai mengamuk dan melukai orang lain.
“Makanya warga di sini kaget ketika mendengar pelaku mengamuk dan melakukan tindakan yang cukup sadis. Karena baru kali ini pelaku melakukan perbuatan senekad itu,” katanya, kepada HR Online, Kamis (24/01/2019) malam.
Di tempat terpisah, Kanit Reskrim Polsek Pamarican, Iptu Agus Purwanto, mengatakan, meski berdasarkan informasi warga bahwa pelaku kasus pembacokan mengalami gangguan jiwa, namun tidak akan menghentikan pihaknya melakukan penangkapan.
“Karena berdasarkan hukum yang bisa menyebutkan seorang pelaku tindak pidana mengalami gangguan jiwa atau tidak adalah ahli kejiwaan. Nanti setelah pelaku berhasil ditangkap, akan kami lakukan pemeriksaan kejiwaan guna membuktikan apakah benar pelaku mengalami gangguan jiwa atau tidak,” terangnya, Kamis (24/01/2019) malam.
Sementara itu, Anah, ibu pelaku, saat ditemui di rumahnya, Kamis (24/01/2019) malam, mengatakan, dalam kesehariannya, perilaku anaknya tidak menunjukan seperti orang stres. Bahkan, anaknya berperilaku normal seperti layaknya orang biasanya.
“Perilakunya juga biasa saja, tidak pernah mengamuk seperti orang gila. Malah dia rajin membantu saya pergi ke kebun,” ujarnya.
Adapun dituduh mengalami gangguan jiwa, lanjut Anah, berawal ketika anaknya sering terlihat melamun dan tidak bersosialisasi dengan tetangga. Hal itu awalnya ketika anaknya ditinggal pergi oleh istrinya ke luar negeri menjadi TKW.
“Istrinya sudah bertahun-tahun tidak pulang ke kampung. Katanya sih kawin lagi di sana. Setelah mendapat kabar istrinya kawin lagi, anak saya memang jadi sedikit berubah. Dia lebih senang menyendiri. Mungkin karena memikirkan istrinya,” ujarnya.
Selain itu, kata Anah, orang lain menilai anaknya stress, ketika waktu itu mendirikan gubuk di atas tanah milik orang lain. Dirinya, kata dia, sudah mengingatkan kepada anaknya bahwa itu tanah milik orang lain. Tetapi anaknya tetap ngeyel dan mengklaim bahwa itu tanah miliknya.
“Waktu itu sempat ramai juga di masyarakat. Setelah ada kejadian itu, mulai muncul anggapan bahwa anak saya mengalami gangguan jiwa,” terangnya.
Anah mengatakan dirinya masih ragu apabila menyebut anaknya mengalami gangguan jiwa. Sebab, apabila anaknya diajak komunikasi, jawabannya masih nyambung dan tidak pernah berlaku kasar atau mengamuk kepada keluarganya.
“Saya juga bingung kenapa anak saya seperti itu. Karena dari kecil hingga sebelum menikah, perilaku dia tidak seperti itu. Semenjak ditinggal istrinya perilakunya mulai menunjukan keanehan,” ujarnya.
Anah pun mengaku shok ketika mendengar anaknya melakukan pembacokan kepada tetanggganya. “Saat mendengar kabar itu, saya sempat pingsan. Karena tidak menyangka anak saya bisa berbuat seperti itu,” pungkasnya. (Suherman/R2/HR-Online)
Berita Terkait
Diserang Tiba-tiba, Bandar Kayu di Ciamis Dibacok Hingga Alami Luka Parah
Hingga Malam Ini, Polisi Belum Berhasil Tangkap Pelaku Pembacokan di Ciamis