Berita Pangandaran (harapanrakyat.com),- Dalam menyongsong KA Pangandaran dibutuhkan moda layanan transportasi darat dari Stasiun Banjar ke Pangandaran. Fungsi utama Kereta Api Banjar-Pangandaran tersebut dinilai sangat erat hubungannya akses untuk mempermudah wisatawan yang hendak berkunjung ke Pangandaran.
Menurut Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar) Kabupaten Pangandaran, Edi Rusmiadi, bahwa transportasi Kereta Api akan menjadi salah satu aksebilitas menuju destinasi wisata Pangandaran itu harus sinkron dengan armada terusannya, yakni dari stasiun Banjar menuju Pangandaran.
“Paling tidak, jalur bus umum harus melewati stasiun sampai jam kedatangan KA Pangandaran yang dari Gambir-Bandung-Banjar, baik bus 3/4 Tasik-Cijulang atau bus patas semua jurusan ke Pangandaran,” katanya kepada Koran HR, Selasa (08/01/2019).
Edi menambahkan, jika itu tidak memungkinkan, maka ada alternativ bus dengan trayek khusus dari Stasiun Banjar menuju Pangandaran yang mana dikelola oleh Pemkab Pangandaran melalui Dishub atau Organda yang mana harus terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan Pemkot Banjar.
“Atau harus ada kendaraan charteran atau omprengan yang standby di stasiun Banjar, dan bila rekan rekan BiroTour dan Travel menangkap peluang dengan adanya KA Pangandaran tersebut, yaitu dengan menjual paket wisata Pangandaran baik dari Jakarta (Gambir) atau dari Bandung dengan transportasi kereta dan satu paket dengan layanan penjemputan dengan kendaraan dari stasiun Banjar ke Pangandaran,” jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Perhubungan Kabupaten Pangandaran, Darma Widjaja, mengatakan, pihaknya sudah menyampaikan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat terkait usulan penempatan shuttle bus di stasion Banjar dan terminal Pangandaran. Hal itu mengingat menyangkut 3 daerah, yakni Banjar, Banjarsari (Ciamis), dan Pangandaran.
“Kita sudah menawarkan ke para pengusaha lokal terlebih dahulu, siapa yang mau mengelola shuttle bus tersebut, baik dari Budiman, Damri ataupun lainnya,” kata Darma.
Pengadaan shuttle bus yang ditawarkan tersebut, lanjut Dharma, harus tepat waktu supaya pelayanan di Kereta Api juga tidak terlambat, serta harus ada AC.
“Pelayanan patas kita sudah tawarkan kepada pengusaha lokal tapi masih belum ada yang mengajukan. Mungkin dari Damri atau pihak swasta silakan, asal jenis busnya yang shift 24 atau shift 18 Damri. Kita menunggu hasil pembahasan di provinsi besok,” pungkas Darma.
Di tempat terpisah, Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata, berencana akan bertemu dengan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) untuk membahas tindak lanjut reaktivasi jalur kereta api Banjar-Pangandaran di Bandung pada Rabu (9/1/2019).
“Rabu saya ketemu Pak Gubernur dan PT KAI untuk membahas tindak lanjut reaktivasi tersebut. Kita harus pro aktif, jangan menunggu kabar saja,” kata Jeje.
Masih menurut Jeje, saat ini untuk akses wisawatan dari Kota Banjar ke Pangandaran pihaknya memiliki satu bus wisata bantuan dari Gubernur Jawa Barat, namun jumlahnya dirasa kurang mengingat banyaknya jumlah wisatawan ke Pangandaran.
“Kita akan bahas lagi dengan Pak Gubernur kekurangan tersebut. Mungkin butuh dua atau tiga bus lagi sambil menunggu pihak swasta masuk di situ, besok akan dibahas,”kata Jeje lagi.
Bus wisata tersebut, lanjut Jeje, nantinya stand by di Stasiun Kota Banjar untuk mengangkut wisatawan yang akan dan dari Pangandaran. Bisa saja, sebut Jeje, PT KAI membuat tarif satu paket, misal tarif dari Jakarta ke Pangandaran langsung.
“Ongkos dari Jakarta ke Pangandaran include, sudah paket. Kita membuka peluang untuk pihak swasta masuk,” pungkas Jeje. (Mad/Koran HR)